Pulihkan Ekonomi Petani, Sawahlunto Genjot Pemanfaatan Lahan Bekas Tambang Jadi Sawah dan Kebun Produktif
Sawahlunto–Spektroom : Pemerintah Kota Sawahlunto mulai mengakselerasi pemulihan ekonomi masyarakat tani melalui program Gerakan Pemanfaatan Lahan Bekas Tambang (Gerak Lekas). Program ini diharapkan mampu menghidupkan kembali lahan pertanian yang rusak akibat aktivitas pertambangan sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
Langkah tersebut disosialisasikan oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Sawahlunto, Heni Purwaningsih, SP., MP, saat menghadiri Rapat Koordinasi Kecamatan Barangin yang digelar di Desa Lumindai, Rabu (15/7/26).
Rapat koordinasi dibuka oleh Camat Barangin Irma Mulyadi, S.STP., M.Si. dan dihadiri seluruh kepala desa dan lurah se-Kecamatan Barangin, para kepala seksi kecamatan, tenaga kesehatan dari Puskesmas Kolok dan Sungai Durian, tokoh masyarakat, serta mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Padang (UNP).
Dalam pemaparannya, Heni mengungkapkan bahwa Kecamatan Barangin merupakan salah satu wilayah yang memiliki dampak cukup besar akibat aktivitas pertambangan. Berdasarkan data DKP3, luas lahan bekas tambang di kecamatan tersebut mencapai 64,03 hektare, yang sebagian besar sebelumnya merupakan lahan persawahan produktif.
"Lahan sawah bekas tambang umumnya berada dalam kondisi kritis, mengalami kerusakan berat, bertekstur pasir hingga berbatu, miskin unsur hara dan memiliki tingkat keasaman (pH) yang rendah. Namun melalui reklamasi dan rehabilitasi yang tepat, lahan tersebut masih memiliki peluang besar untuk dikembalikan menjadi lahan pertanian yang produktif," jelas Heni.
Sebagai langkah awal, Pemerintah Kota Sawahlunto telah menyiapkan tiga lokasi demonstration plot (demplot) sebagai percontohan keberhasilan pemanfaatan lahan bekas tambang.
Ketiga lokasi tersebut berada di Desa Kolok Nan Tuo, Desa Rantih, dan Desa Muaro Kalaban. Pada tahap awal, lahan-lahan tersebut akan ditanami komoditas jagung yang dinilai adaptif terhadap proses rehabilitasi lahan.
Program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan produksi pertanian, tetapi juga membuka kembali sumber pendapatan bagi masyarakat yang kehilangan produktivitas sawah akibat aktivitas tambang.
Menurut Heni, keberhasilan program akan sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat sebagai pemilik lahan.
"Kami mengimbau para kepala desa agar menyampaikan kepada masyarakat pemilik sawah bekas tambang untuk kembali memanfaatkan lahannya sehingga fungsi pertanian dapat dipulihkan dan mampu mendukung swasembada pangan secara berkelanjutan," katanya.
Gerak Lekas menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah dalam menjawab dua tantangan sekaligus, yakni pemulihan ekonomi masyarakat dan penguatan ketahanan pangan.
Alih fungsi lahan akibat pertambangan selama bertahun-tahun telah mengurangi luas areal tanam di sejumlah wilayah Sawahlunto. Jika tidak segera dipulihkan, kondisi tersebut dikhawatirkan akan semakin menekan produksi pangan lokal sekaligus mengurangi pendapatan petani.
Karena itu, pemerintah mendorong agar lahan-lahan yang selama ini terbengkalai dapat kembali dimanfaatkan melalui penerapan teknologi reklamasi, perbaikan kesuburan tanah, serta pendampingan teknis kepada petani.
Selain memperkenalkan Program Gerak Lekas, Heni juga memaparkan berbagai layanan yang tersedia di DKP3 Kota Sawahlunto melalui Standar Prosedur Pelayanan (SPP).
Beberapa layanan yang dapat dimanfaatkan masyarakat antara lain pelayanan kesehatan hewan dan ternak, bantuan benih, bantuan pestisida bagi tanaman yang terserang hama maupun penyakit, hingga pendampingan teknis sektor pertanian.
Dalam kesempatan tersebut, Heni juga menginformasikan bahwa bantuan pangan dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) dijadwalkan mulai disalurkan kepada masyarakat pada bulan Juli 2026.
Kehadiran pemerintah kecamatan, pemerintah desa, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, hingga mahasiswa KKN UNP dalam rapat koordinasi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan sektor pertanian tidak dapat dilakukan oleh satu instansi saja.
Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi faktor penting untuk mengembalikan fungsi lahan bekas tambang sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat tani.
Melalui Gerak Lekas, Pemerintah Kota Sawahlunto berharap lahan-lahan yang selama ini menjadi simbol kerusakan akibat pertambangan dapat bertransformasi menjadi sumber produksi pangan baru, membuka peluang ekonomi masyarakat, serta memperkuat ketahanan pangan daerah secara berkelanjutan. (Ris1)