Ternak Masih Berkeliaran di Kawasan Wisata Kandi, Pemkot Sawahlunto Mulai Bersikap Tegas demi Jaga Citra Pariwisata
Sawahlunto–Spektroom : Upaya Pemerintah Kota Sawahlunto menjaga wajah destinasi wisata kembali diuji. Meski telah berulang kali diimbau, keberadaan ternak yang berkeliaran di kawasan wisata Kandi masih menjadi persoalan yang dinilai mengganggu kenyamanan pengunjung sekaligus mencoreng citra kota yang menyandang status Warisan Dunia UNESCO.
Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Sawahlunto, Jumat (17/7/26) bersama Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran melakukan monitoring sekaligus penertiban ternak di kawasan Kandi. Kegiatan tersebut turut melibatkan Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga serta pemerintah desa dari Sijantang, Salak, dan Sikalang.
KaDKP3 Kota Sawahlunto, Heni Purwaningsih, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam mendukung Sawahlunto sebagai kota pariwisata yang bersih, aman, dan nyaman bagi wisatawan.
"Hari ini tim menemukan ternak yang masih berkeliaran beserta pemiliknya. Kepada peternak telah diberikan teguran dan arahan agar ke depan menggembalakan ternaknya di luar kawasan wisata serta menerapkan budidaya ternak yang baik sehingga tidak mengganggu ketenteraman dan ketertiban umum," ujar Heni.
Menurutnya, pendekatan persuasif masih menjadi langkah utama pemerintah. Namun, sosialisasi yang terus dilakukan selama ini belum sepenuhnya mengubah perilaku sebagian pemilik ternak.
Pemerintah desa yang wilayahnya berbatasan dengan kawasan wisata juga diminta lebih aktif mengedukasi masyarakat agar tidak lagi membiarkan ternak berkeliaran di jalan maupun fasilitas umum.
"Kepala desa akan mengintensifkan sosialisasi kepada masyarakat agar bersama-sama mendukung visi Sawahlunto sebagai kota wisata," katanya.
Persoalan ternak liar sejatinya bukan hanya soal estetika kawasan wisata. Hewan yang bebas berkeliaran berpotensi membahayakan pengguna jalan, mengotori ruang publik, hingga menurunkan kenyamanan wisatawan yang datang berkunjung.
Di sisi lain, peternakan juga merupakan mata pencaharian masyarakat yang harus tetap dihormati. Karena itu, pemerintah menekankan bahwa penataan bukan dimaksudkan untuk mematikan usaha peternak, melainkan mendorong pola pemeliharaan yang lebih tertib dan bertanggung jawab.
Pendekatan humanis tersebut diharapkan mampu menciptakan keseimbangan antara kepentingan ekonomi masyarakat dengan kebutuhan menjaga kualitas destinasi wisata.
Meski demikian, Pemerintah Kota Sawahlunto memberi sinyal bahwa masa sosialisasi tidak akan berlangsung selamanya.
Heni menegaskan, apabila pelanggaran masih terus ditemukan, pemerintah akan meningkatkan langkah penegakan aturan.
"Ke depan pelaksanaan kegiatan ini tidak hanya dalam bentuk sosialisasi dan teguran, tetapi juga akan dilakukan penindakan tegas sehingga menimbulkan efek jera," tegasnya.
Langkah tersebut dinilai penting agar seluruh pemangku kepentingan memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga kawasan wisata.
Kawasan Kandi merupakan salah satu ikon wisata Sawahlunto yang setiap tahun dikunjungi wisatawan lokal maupun luar daerah. Karena itu, kebersihan, keamanan, dan kenyamanan kawasan menjadi faktor penting dalam membangun pengalaman positif bagi pengunjung.
Sementara itu secara terpisah Ketua Lembaga Pemerhati Lingkungan Hidup (LPLH) Nata Buana Lestari Sawahlunto,Bushaini menilai persoalan ternak liar seharusnya menjadi momentum memperkuat sinergi antara pemerintah, pemerintah desa, dan masyarakat.
"Penegakan aturan memang diperlukan, namun harus dibarengi penyediaan solusi bagi peternak, seperti pengaturan lokasi penggembalaan, pembinaan budidaya, hingga pengawasan yang berkelanjutan" ujarnya.
Keberhasilan Sawahlunto sebagai kota wisata tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur dan promosi, tetapi juga oleh disiplin bersama dalam menjaga ruang publik. Wisatawan datang bukan hanya untuk menikmati panorama, melainkan juga merasakan lingkungan yang tertib, bersih, dan mencerminkan budaya masyarakat yang peduli terhadap kotanya, tambah Bushaini. (Ris1)