Putera Ngabang yang Mewarnai Awal Sastra Indonesia Modern

Putera Ngabang yang Mewarnai Awal Sastra Indonesia Modern
Syafaruddin DaEng Usman bersama Dr HM Ali Daud MPd tokoh pendidikan Kalimantan Barat. (Foto: Dok Pribadi)

Oleh : Syafaruddin Daeng Usman sejarawan Kalimantan Barat

Pontianak - Spektroom: Perkembangan sastra Indonesia modern tidak hanya lahir dari pusat-pusat kebudayaan di Jawa atau Sumatra.

Di tengah proses pembentukan identitas kebangsaan Indonesia pada awal abad ke-20, sejumlah nama dari daerah turut memberi warna penting dalam perjalanan sastra nasional.

Di antaranya adalah dua putra Ngabang, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, yakni Ja’ Abdurrani Sulaiman atau JAS Affandi dan Gusti Sulung Lelanang.

Keduanya tercatat sebagai bagian dari generasi awal yang mengisi ruang kesusastraan Indonesia menjelang lahirnya Angkatan Pujangga Baru, sebuah tonggak penting dalam sejarah sastra nasional.

Pujangga Baru sendiri muncul pada 1933, dipelopori oleh Sutan Takdir Alisjahbana bersama Armijn Pane dan Amir Hamzah. Awalnya, Pujangga Baru adalah sebuah majalah sastra yang kemudian berkembang menjadi simbol kebangkitan sastra Indonesia modern.

Berbeda dengan media pada masanya yang hanya menjadikan karya sastra sebagai pelengkap, majalah ini secara khusus memberi ruang bagi pengembangan bahasa dan kesusastraan Indonesia.

Pada masa itu, Indonesia sebagai negara belum berdiri, tetapi kesadaran kebangsaan sedang tumbuh kuat setelah Sumpah Pemuda 1928. Sastra menjadi salah satu instrumen penting untuk membangun identitas bersama di tengah keberagaman suku, agama, dan daerah di Nusantara.

Dalam konteks itulah nama JAS Affandi mulai dikenal. Salah satu karya awalnya, “Borneo Kusayang”, dimuat di majalah Panji Pustaka edisi 9 Oktober 1931.

Kehadiran puisi tersebut menarik perhatian karena menggunakan bentuk soneta yang saat itu mulai diperkenalkan dalam sastra Melayu modern oleh Muhammad Yamin.

Para pengamat sastra menilai karya-karya JAS Affandi menunjukkan semangat baru yang berbeda dari tradisi sastra sebelumnya.

Dirinya kemudian dikenal sebagai salah satu kontributor dan pendukung gerakan Pujangga Baru bersama sejumlah penulis lain dari berbagai daerah.

Selain JAS Affandi, Kalimantan Barat juga melahirkan Gusti Sulung Lelanang.

Namanya tercatat dalam sejarah Pujangga Baru melalui sejumlah karya puisi yang dimuat di majalah tersebut. Salah satunya adalah “Bunga Jelita” yang terbit pada edisi September 1935.

Puisi itu menggambarkan keindahan burung cenderawasih dengan bahasa puitis yang kaya imaji.

Karya tersebut memperlihatkan bagaimana penyair dari daerah mampu menghadirkan kekayaan alam Nusantara ke dalam ruang sastra modern Indonesia.

Meski nama mereka tidak sepopuler Amir Hamzah atau Sutan Takdir Alisjahbana, kontribusi JAS Affandi dan Gusti Sulung Lelanang menjadi bukti bahwa perkembangan sastra Indonesia sejak awal merupakan hasil kerja kolektif dari berbagai daerah.

Sejarah mencatat, jauh dari pusat penerbitan dan pergerakan sastra nasional, dua putra Ngabang itu telah mengambil bagian dalam merintis jalan bagi lahirnya sastra Indonesia modern.

Kehadiran mereka menunjukkan bahwa Kalimantan Barat bukan sekadar penonton dalam perjalanan kebudayaan bangsa, melainkan turut menjadi bagian dari fondasi yang membentuk wajah sastra Indonesia hingga hari ini.

Berita terkait

Bupati Pasaman Barat Yulianto Tinjau Lahan Sekolah Rakyat

Bupati Pasaman Barat Yulianto Tinjau Lahan Sekolah Rakyat

Pasaman Barat-Spektroom : Bupati Pasaman Barat (Pasbar) Yulianto meninjau kesiapan lahan pembangunan Sekolah Rakyat sekaligus rencana pembangunan jembatan penghubung Kampung Cubadak-Kampung Sipirok, Senin (14/9/2026). Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan lokasi serta mematangkan perencanaan teknis kedua program pembangunan tersebut. Bupati Yulianto didampingi Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang

Rafles
Galian C Poka Disorot, Bodewin: Jangan Tunggu Lingkungan Rusak Baru Bertindak

Galian C Poka Disorot, Bodewin: Jangan Tunggu Lingkungan Rusak Baru Bertindak

Ambon-Spektroom : Aktivitas Galian C di Desa Poka, Kota Ambon, mendapat perhatian serius dari Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena. Ia meminta DPRD dan Pemerintah Kota Ambon tidak sekadar membicarakan persoalan tersebut, tetapi segera memastikan dampaknya terhadap lingkungan melalui kajian teknis yang dapat dipertanggungjawabkan. Bodewin menyampaikan hal itu usai Rapat Paripurna ke-5

Eva Moenandar, Pelinus Latuheru