QRIS Mulai Dilirik, Namun Uang Tunai Masih Mendominasi Transaksi di Pasar Ciawi

QRIS Mulai Dilirik, Namun Uang Tunai Masih Mendominasi Transaksi di Pasar Ciawi
Ria pedagang kue Gemblong Di pasar Ciawi mengaku memakai Qris lebih aman. ( Foto : Spektroom).

Bogor-Spektroom : Setiap hari, ratusan pembeli datang ke Pasar Ciawi untuk memenuhi kebutuhan dapur.

Di antara riuh tawar-menawar dan deretan lapak sembako, transaksi tunai masih menjadi pilihan utama.

Meski begitu, perlahan pembayaran digital melalui QRIS mulai mendapat tempat, terutama di kalangan pembeli muda.

Ria seorang penjaga kios kue Gemblong yang telah bekerja selama hampir dua tahun Rabu, (8/7/2026) mengaku sesekali menerima permintaan pembayaran menggunakan QRIS.
Namun, jumlahnya masih sangat sedikit.

"Kalau yang pakai QRIS biasanya anak muda atau pembeli dari Jakarta. Paling ramai saat Sabtu dan Minggu.

Sehari-hari kebanyakan tetap bayar tunai karena pembelinya ibu-ibu yang belanja ke pasar," tuturnya.

Ia menjelaskan, kios tempatnya bekerja sebenarnya sudah menyediakan pembayaran digital melalui dompet elektronik.

Namun karena dirinya hanya bertugas menjaga toko dengan sistem gaji, ia tidak mengetahui secara pasti perkembangan transaksi non tunai tersebut.

Sementara itu Winda yang menjual makanan dan minuman mengaku tidak menggunakan Qris karena ia tidak memahami tehnologi terbarukan.

"Pembeli disini sebagian besar ibu2 pembeli keperluan dapur, dan rumah tangga" ujarnya.

Winda mengaku ngga pakai Qris karena ngga bisa menggunakan. (Foto : Spektroom).

Di sisi lain, Nisa, warga Desa Gadog, justru mengaku lebih nyaman menggunakan QRIS saat berbelanja. Menurutnya, pembayaran digital lebih praktis, aman, dan tidak perlu repot membawa uang tunai.

"Kalau ada QRIS saya pasti pakai. Lebih mudah karena aplikasinya sudah ada di handphone. Sayangnya belum semua pedagang menyediakan pembayaran QRIS," ujarnya.

Kondisi tersebut juga diakui pihak pengelola Pasar Ciawi. Wahyu, salah seorang staf pasar, menyebutkan terdapat sekitar 700 pedagang yang tercatat berjualan. Namun, tidak semuanya aktif setiap hari dan penggunaan QRIS pun masih terbatas.

Menurutnya, sebagian besar transaksi masih dilakukan secara tunai. Selain faktor kebiasaan, masih ada pembeli maupun pedagang yang belum sepenuhnya memahami penggunaan pembayaran digital.

"Sebenarnya sosialisasi QRIS pernah dilakukan. Tapi karena permintaan dari pembeli belum terlalu banyak, penggunaannya juga belum maksimal," jelas Wahyu.

Ia berharap semakin banyak masyarakat yang terbiasa menggunakan transaksi digital sehingga pedagang terdorong untuk memanfaatkan QRIS. Dengan semakin luasnya adopsi pembayaran non tunai, pasar tradisional diharapkan tetap mampu mengikuti perkembangan teknologi tanpa kehilangan karakter sebagai pusat ekonomi rakyat.

Berita terkait

Ketua Majelis Latupati Kota Ambon, Reza Valdo Maspaitella,

Ketua Majelis Latupati Ambon Ajak Negeri Adat Bangun Wisata Berbasis Keunikan Lokal

Jakarta – Spektroom: Ketua Majelis Latupati Kota Ambon, Reza Valdo Maspaitella, melontarkan kritik halus terhadap arah pembangunan pariwisata yang selama ini masih terlalu bertumpu pada pembangunan fisik. Menurutnya, kekuatan utama Kota Ambon justru berada di negeri-negeri adat yang menyimpan sejarah, budaya, dan kearifan lokal, tetapi belum dikelola sebagai produk wisata yang

Eva Moenandar, Buang Supeno
KOWANI Sampaikan Apresiasi kepada Narasumber atas Kontribusi Pemikiran Penguatan Ketahanan Pangan Nasional

KOWANI Sampaikan Apresiasi kepada Narasumber atas Kontribusi Pemikiran Penguatan Ketahanan Pangan Nasional

Jakarta - Spektroom : Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada seluruh narasumber yang telah berpartisipasi dan memberikan kontribusi pemikiran strategis pada Kick-Off Gerakan Nasional Festival Panen Raya KOWANI untuk Penguatan Ketahanan Pangan Nasional melalui Seminar Nasional secara hibrida. Ketua Umum KOWANI periode 2024-2029, Nannie Hadi

Afrizal Aziz
‎Sindikat Judol Bikin Markas di RI, Prof Hikmahanto: Blokir Saja Tak Cukup

‎Sindikat Judol Bikin Markas di RI, Prof Hikmahanto: Blokir Saja Tak Cukup

Jakarta-Spektroom : Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Profesor Hikmahanto Juwana, menyoroti peran Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dalam menekan perputaran dana judi online (judol) di Indonesia. Ia menilai penegakan hukum harus dimaksimalkan agar pemberantasan judol semakin efektif. Hal itu disampaikan Prof Hikmahanto menanggapi data terbaru Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi

Rafles