Trending

Saat Abu Anak Krakatau 'Mengurung' Jakarta: Kisah Satu Gawai untuk Tiga Saudara PJJ

Saat Abu Anak Krakatau 'Mengurung' Jakarta: Kisah Satu Gawai untuk Tiga Saudara PJJ
Ilustrasi siswa Sekolah Dasar Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) (Foto Istimewa)

Jakarta - Spektroom : Lantai rumah Joko baru saja selesai dipel siang itu. Namun belum genap beberapa jam, sapuan jemari di atas ubin kembali meninggalkan jejak abu tipis berwarna abu-abu. Di luar rumah, tanaman hias dan pagar yang sempat disemprot air kini kembali diselimuti lapisan debu.

"Udah dipel tadi siang, masih aja terasa kotor lantai rumah," keluh Joko, seorang warga Jakarta, menggambarkan betapa gigihnya debu vulkanik menyusup ke ruang-ruang privat warga malam itu. udara Jakarta terasa kian gerah, berdebu, dan membawa kecemasan yang kian menebal bersama embusan angin.

Jakarta sedang tidak baik-baik saja. Sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau telah terbang jauh, mengarungi atmosfer, dan kini mengepung wilayah Jabodetabek. Partikel halus ini bukan debu biasa. Ia bersifat abrasif, tajam, dan menyimpan ancaman nyata bagi kesehatan.

Merespons memburuknya kualitas udara luar ruangan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengambil langkah cepat demi keselamatan warga sekolah. Mulai Senin, 7 September 2026, seluruh aktivitas belajar mengajar tatap muka dihentikan sementara.

Senin (7/9/ 2026) seluruh siswa di Jakarta Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) (Foto Spektroom )

Pj Gubernur resmi memberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi seluruh jenjang pendidikan tanpa terkecuali. Mulai dari PAUD, SD, SMP, SMA, SMK, hingga SLB dan PKBM, baik negeri maupun swasta, wajib kembali ke layar gawai. Tujuannya satu: melindungi anak-anak dan tenaga kependidikan dari paparan langsung abu vulkanik di jalanan ibukota.

Dilema di Akar Rumput: Gawai Rusak hingga Kuota Sekarat

Kebijakan PJJ demi kesehatan ini disambut positif oleh mayoritas orang tua. Namun, di balik layar ponsel yang menjadi ruang kelas baru, dinamika sosial yang pelik langsung mencuat di kalangan warga berpenghasilan rendah.

Ilustrasi PJJ ( Foto Istimewa)

Bagi sebagian keluarga, PJJ adalah kemewahan yang menguras kantong. Di salah satu sudut kontrakan padat Jakarta, ada orang tua yang harus memutar otak karena gawai anaknya rusak. Lebih memprihatinkan lagi, ada keluarga yang hanya memiliki satu ponsel, padahal ada tiga anak yang harus mengikuti PJJ dalam waktu bersamaan.

Bagi mereka yang mengontrak rumah kecil, jangankan memasang jaringan internet kabel nirkabel (Wi-Fi), membeli kuota data internet bulanan pun sudah menjadi beban berat di tengah situasi sulit ini. Inilah realitas yang harus dihadapi warga ibukota; berkejaran dengan ancaman ISPA sekaligus tagihan kuota.

Tiga Ancaman di Balik Partikel Tajam

Pemerintah pusat pun bergerak cepat. Dari ruang konferensi pers pada Minggu (6/9/2026), Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat untuk tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan penuh.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin ( Foto tangkapan layar YouTube )

Menkes mengingatkan bahwa abu vulkanik memiliki partikel mikro yang tajam. Setidaknya ada tiga ancaman utama yang wajib diwaspadai: gangguan pernapasan, iritasi mata, dan masalah kulit.

"Yang pertama, dari sisi Kementerian Kesehatan, kami berpesan kepada masyarakat agar tidak panik. Ada tiga hal yang mesti kita jaga bersama," ujar Menkes Budi di Jakarta.

Sebagai bentuk antisipasi, fasilitas kesehatan seperti Puskesmas di seluruh Jakarta kini telah disiagakan penuh. Pasokan medis darurat mulai dari nebulizer, oksigen konsentrator, obat tetes mata, hingga salep kulit telah didistribusikan ke garda terdepan.

Masyarakat juga diimbau kuat untuk menerapkan protokol kesehatan ketat saat terpaksa keluar rumah, seperti wajib memakai masker, menutup rapat makanan dan minuman, serta dilarang keras menyapu kering abu vulkanik agar debu tidak kembali beterbangan di udara.

Menkes juga memberikan tips penting jika mata warga kemasukan debu. "Jangan dikucek. Bersihkan menggunakan air," pesan Budi.

Malam kian larut di Jakarta. Di bawah kepungan abu Anak Krakatau, warga ibukota kini harus bersiap menghadapi Senin yang berbeda. Bukan bergegas menembus macet menuju sekolah, melainkan bertahan di dalam rumah, menatap layar gawai yang terbatas, sembari berharap langit Jakarta segera kembali biru.

Berita terkait

Bedah Ranperda Keolahragaan Sumbar, 118 Pasal Disiapkan untuk Lindungi Insan Olahraga

Bedah Ranperda Keolahragaan Sumbar, 118 Pasal Disiapkan untuk Lindungi Insan Olahraga

Padang-Spektroom : Sebanyak 118 pasal dalam Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Penyelenggaraan Keolahragaan Sumatera Barat mulai dikaji secara terperinci oleh Komisi V DPRD Sumbar bersama mitra kerja. Pembahasan diarahkan untuk menghasilkan regulasi yang memberikan kepastian hukum sekaligus memperkuat pembinaan olahraga di daerah. Pembahasan berlangsung alot melalui rapat kerja di Ruang

Rafles
Warga Galang Sampaikan Aspirasi Pelayanan kepada Pemko Batam

Warga Galang Sampaikan Aspirasi Pelayanan kepada Pemko Batam

Batam–Spektroom : Sejumlah Aspirasi masyarakat Kecamatan Gatang disamaikan kepada Walikota Batam terkait pemerataan layanan air bersih, perbaikan infranstruktur jalan, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat. Aspirasi yang disampaikan melalui Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kecamatan Galang, Nazaruddin, dalam kegiatan silaturahmi bersama RT, RW, LPM, dan tokoh masyarakat di halaman Kantor Camat Galang,

Desmawati, Rafles