Saat Bola Menyatukan Semua: Subuh di Alun-alun Purwokerto yang Penuh Harapan

Saat Bola Menyatukan Semua: Subuh di Alun-alun Purwokerto yang Penuh Harapan
Penyandang Tuna netra berbaur dengan penonton Nobar di Alun2 Purwokerto Minggu (28/6/2026). (Foto : Bian Pamungkas).

Purwokerto – Spektroom : Jarum jam belum menunjukkan pukul 03.00 WIB. Sebagian besar warga masih terlelap. Namun suasana berbeda justru terlihat di Alun-alun Purwokerto. Ratusan orang berdatangan membawa semangat yang sama, menyambut pertandingan Piala Dunia 2026 yang memasuki pekan kedua.

Tak ada sekat usia, profesi, maupun latar belakang. Semua larut dalam euforia sepak bola. Ada yang datang bersama keluarga, sahabat, komunitas, bahkan ada yang menempuh perjalanan belasan kilometer hanya untuk menikmati suasana nonton bareng.

Salah satunya Wahyu, warga Kecamatan Kebasen. Ia mengaku berangkat sejak dini hari agar tidak kehilangan momen.

"Saya datang sekitar pukul 02.30. Sempat berhenti untuk salat Subuh berjamaah di Masjid Agung Baitussalam, lalu kembali ke alun-alun menunggu pertandingan," tuturnya.

Di sudut lain, terdengar suara komentator dari siaran radio RRI yang mengiringi sorak-sorai penonton. Bagi sebagian orang, suara itulah yang menjadi "mata" mereka.

Bowo, anggota Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Kabupaten Banyumas, datang bersama lebih dari sepuluh penyandang tunanetra. Mereka sengaja bergabung dalam nobar karena siaran pertandingan juga disiarkan melalui RRI Purwokerto dengan narasi yang memudahkan mereka mengikuti jalannya laga.

"Kami memang tidak bisa melihat pertandingan, tetapi lewat siaran RRI kami tetap bisa merasakan suasana Piala Dunia. Kami tetap menjadi bagian dari pesta sepak bola ini," ujar Bowo didampingi Syaiful dan Sunar.

Siti salah satu pelaku usaha UMKM memanfaatkan peluang Nobar di alun-alun Purwokerto untuk menopang ekonomi keluarganya. (Foto: Bian Pamungkas.).

Pemandangan itu menjadi pengingat bahwa sepak bola bukan sekadar tentang apa yang terlihat di lapangan. Bagi para penyandang tunanetra, setiap deskripsi komentator mampu menghadirkan imajinasi tentang umpan, tekel, hingga peluang gol yang memancing tepuk tangan bersama.

Euforia itu juga membawa berkah bagi pelaku usaha kecil. Sejak dini hari, gerobak kopi, jajanan, hingga makanan ringan tak pernah sepi pembeli.

Siti, pedagang kopi keliling asal Kelurahan Bantarsoka, mengaku omzetnya melonjak drastis setiap kali nobar digelar.

"Biasanya paling sekitar Rp100 ribu. Hari ini sejak jam dua pagi sampai sekitar pukul delapan sudah hampir Rp400 ribu. Semoga siaran Piala Dunia sering diadakan, supaya pedagang kecil seperti saya juga ikut merasakan rezekinya," katanya sambil tersenyum melayani pembeli.

Pagi itu, hasil pertandingan Portugal melawan Kolombia memang berakhir tanpa gol. Skor 0-0 menutup laga yang ditunggu-tunggu para penggemar.

Namun bagi mereka yang memenuhi Alun-alun Purwokerto, hasil akhir bukanlah cerita utama. Yang paling berkesan adalah kebersamaan yang tercipta sejak dini hari; ketika suporter, penyandang disabilitas, pedagang kecil, hingga warga dari berbagai penjuru berkumpul dalam satu ruang, berbagi harapan, tawa, dan semangat yang sama.

Di tengah dinginnya udara subuh, sepak bola sekali lagi membuktikan dirinya bukan hanya sebuah pertandingan. Ia menjadi bahasa yang mampu menyatukan siapa saja.

Berita terkait

GPI Bersama Elemen Pemuda, Mahasiswa, dan Pelajar Deklarasikan Maklumat dan Resolusi Bersama

GPI Bersama Elemen Pemuda, Mahasiswa, dan Pelajar Deklarasikan Maklumat dan Resolusi Bersama

Jakarta – Spektroom : Aula Gedung Pemuda KNPI Rawamangun menjadi saksi bersatunya komitmen generasi muda dalam mengawal arah bangsa. Gerakan Pemuda Islam (GPI) bersama aliansi elemen Pemuda, Mahasiswa, dan Pelajar Indonesia bersatu satu suara dalam diskusi publik, pada Sabtu. Diskusi tersebut dengan tajuk “Jalan Ninja Kaum Intelektual: Mengawal Pemerintah Melalui Kritik Terukur

Irvan Idris Saleh, Nurana Diah Dhayanti