Saat Hujan Tak Lagi Datang, Petani Banyumas Berpacu Melawan Kekeringan
Banyumas-Spektroom : Langit Banyumas telah lama enggan menurunkan hujan. Memasuki musim kemarau 2026, sawah- sawah yang biasanya hijau mulai memperlihatkan retakan tanah.
Saluran irigasi menyusut, aliran sungai melemah, sementara para petani hanya bisa menatap langit, berharap awan segera datang.
Tahun ini, musim kemarau terasa lebih berat. Fenomena El Nino membuat curah hujan turun drastis sehingga kekeringan meluas dan mengancam ketahanan pangan.
Bukan hanya kebutuhan air bersih masyarakat yang terganggu, sektor pertanian pun ikut menanggung dampaknya.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Banyumas, Yusuf Khanafi, SP, Sabtu (25/7/2026), mengatakan El Nino telah memicu penurunan produktivitas padi. Berkurangnya curah hujan menyebabkan debit sungai dan waduk menurun sehingga pasokan air ke lahan pertanian tidak lagi mencukupi.
"Petani terpaksa menunda atau gagal memulai masa tanam karena tanah terlalu kering untuk diolah. Suhu yang lebih panas dan kering juga memicu ledakan serangan hama wereng pada tanaman padi," ujarnya.

Hingga Juli 2026, sedikitnya 13 kecamatan terdampak kekeringan, yakni Kemranjen, Pekuncen, Purwojati, Wangon, Jatilawang, Lumbir, Somagede, Karanglewas, Kembaran, Gumelar, Tambak, Sokaraja, dan Ajibarang.
Di antara wilayah tersebut, Desa Karangjati, Kecamatan Kemranjen, menjadi salah satu yang paling merasakan dampaknya. Kelompok Tani Tani Makmur 1 mencatat sekitar 52 hektare tanaman padi berumur 35–45 hari setelah tanam mengalami ancaman kekeringan.
Di balik hamparan sawah yang mengering, para petani harus mengambil keputusan sulit. Sebagian menunda tanam, sebagian lagi berupaya mempertahankan tanaman yang sudah terlanjur tumbuh dengan memanfaatkan sisa-sisa air yang tersedia.
Waktu menjadi lawan terbesar karena setiap hari tanpa hujan berarti semakin besar risiko gagal panen.
Pemerintah Kabupaten Banyumas pun bergerak cepat. Dinas Pertanian mengoptimalkan sistem perpipaan dan irigasi perpompaan, sekaligus mempercepat jadwal tanam melalui Gerakan 10 Hari Tanam (G10T).
Jika sebelumnya jeda tanam tradisional bisa mencapai satu hingga dua bulan, kini dipercepat menjadi sekitar 10 hari agar petani dapat memanfaatkan sisa kelembapan tanah.
Upaya lain dilakukan dengan membangun sekitar 100 unit irigasi pompa yang memanfaatkan sumur dalam maupun sumber air permukaan.
Pemerintah juga membangun dam parit dan 24 titik Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT) bantuan Kementerian Pertanian. Program tersebut ditargetkan mampu menyediakan sumber air bagi sekitar 7.000 hektare sawah tadah hujan.
Tak hanya infrastruktur, bantuan benih, pengendalian hama melalui Gerakan Pertanian Ramah Lingkungan, hingga pengajuan tambahan obat-obatan ke Kementerian Pertanian juga menjadi bagian dari strategi menghadapi musim kering.
Meski demikian, dampak El Nino mulai terlihat pada angka produksi. Target produksi padi Banyumas tahun 2026 mencapai 389.003,07 ton, sementara hingga Juni baru terealisasi 172.772,22 ton.
Produktivitas padi juga turun dari 5,64 ton per hektare pada triwulan pertama menjadi 5,24 ton per hektare pada triwulan kedua.
Di tengah tantangan itu, harapan petani Banyumas sesungguhnya sederhana: hujan yang datang tepat waktu. Sebab bagi mereka, setiap tetes air bukan sekadar membasahi tanah, tetapi juga menjaga harapan agar musim panen tetap bisa dinikmati.