Saat Ternate Ikut Berdebar Bersama Piala Dunia

Saat Ternate Ikut Berdebar Bersama Piala Dunia
Pendukung Kesebelasan Brasil datang sejak dini hari, tertunduk lesu karena kesebelasan favoritenya kalah dari Norwegia 2-1. (Foto : Samin Hamudu).

Ternate–Spektroom : Ribuan kilometer memisahkan Ternate, Maluku Utara, dengan stadion-stadion megah penyelenggara Piala Dunia 2026. Namun jarak tak pernah menjadi penghalang bagi para pencinta sepak bola untuk merasakan atmosfer pesta olahraga terbesar di dunia itu.

Di era teknologi digital, euforia Piala Dunia kini hadir begitu dekat. Cukup melalui layar lebar, sorak-sorai penonton, ketegangan pertandingan, hingga luapan emosi para pendukung dapat dirasakan seolah berada langsung di tribun stadion.

Suasana itulah yang setiap hari menyelimuti Kampung Piala Dunia di Taman Film Benteng Oranje, Ternate.

Sejak subuh, kawasan ini telah dipadati warga dari berbagai kalangan yang rela meluangkan waktu demi menyaksikan pertandingan babak 16 besar. Pada Senin (6/7/2026), perhatian mereka tertuju pada duel seru Norwegia melawan Brasil.

Mayoritas penonton datang mengenakan atribut kuning-hijau khas Selecao. Harapan besar disematkan kepada Brasil untuk melangkah ke perempat final. Namun kenyataan di lapangan berkata lain.

0:00
/0:54

Luapan emosi para pendukung kesebelasan Norwegia di Ternate,saat timnya memasukkan Gool ke gawang Brasil. (Foto : Samin Hamudu).

Norwegia tampil disiplin dan efektif. Setelah pertandingan berlangsung ketat sejak babak pertama, dua gol yang lahir pada menit ke-79 dan ke-89 membawa Norwegia unggul.

Brasil hanya mampu memperkecil ketertinggalan pada masa injury time sehingga laga berakhir 2-1 untuk kemenangan Norwegia.
Peluit panjang disambut sorak gembira pendukung Norwegia, sementara fans Brasil hanya bisa terdiam menerima kenyataan tim favorit mereka harus angkat koper lebih awal.

Kemenangan itu sekaligus mengantarkan Norwegia melaju ke babak delapan besar, menyusul Maroko dan Prancis yang lebih dulu memastikan tiket.

Di balik hiruk-pikuk pertandingan, denyut ekonomi kecil juga ikut bergerak. Onco, pedagang makanan dan minuman asal Kalumpang, mengaku kecewa karena Brasil tersingkir. Namun di sisi lain, ia tetap bersyukur dagangannya laris selama gelaran nobar berlangsung.

"Sebagai fans fanatik Brasil saya memang kecewa, tetapi saya juga senang karena banyak pengunjung yang datang sehingga jualan saya habis," tuturnya sambil tersenyum.

Usai pertandingan, para penonton meninggalkan lokasi dengan tertib. Sebagian lainnya memilih tetap bertahan untuk menyaksikan laga berikutnya antara Inggris dan Meksiko.

Di Ternate, Piala Dunia bukan sekadar pertandingan sepak bola. Ajang empat tahunan ini menjadi ruang berkumpul, berbagi kegembiraan, sekaligus menghidupkan denyut ekonomi masyarakat.

Meski jauh dari panggung utama, semangat dan gairah sepak bola dunia tetap terasa begitu dekat di Kota Rempah.

Berita terkait