Trending

Memotret KUD, KDMP : Melalui Lakon Wayang Mbangun Candi Sapto Argo Dan Laen Laen

Repost https://sw60plus.com/news/memotret-kud-dan-kdmp

Memotret KUD, KDMP : Melalui Lakon Wayang Mbangun Candi Sapto Argo Dan Laen Laen
Flyer Spektroom

Oleh: Kabul Budiono - Jurnalis Senior

Jakarta - Spektroom: Peresmian operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih beberapa waktu lalu membawa ingatan saya pada masa pemerintahan Orde Baru.

Kala itu, Orde Baru menempatkan koperasi sebagai salah satu instrumen utama membangun ekonomi desa. Melalui Koperasi Unit Desa (KUD) dan Kredit Usaha Tani (KUT) pemerintah optimis bahwa membangun perekonomian perlu dilakukan dengan bertumpu pada kekuatan rakyat di akar rumput.

Selain sebagai reporter Istana, saya juga ngasong menjadi pengisi siaran pedesaan di TVRI. Hampir di setiap daerah yang kami kunjungi, koperasi dipromosikan sebagai tulang punggung ekonomi pedesaan. Optimismenya begitu besar.

Suasananya begitu meyakinkan bahwa masa depan desa sedang dibangun melalui koperasi. Waktu berlalu. Pemerintahan berganti. Kebijakan berubah. Sebagian gedung bekas KUD masih berdiri. Ada yang berubah fungsi, ada yang terkunci rapat, bahkan ada yang sudah hilang.

Lalu timbul pertanyaan yang terus mengusik pikiran saya. Jika gagasan koperasi begitu baik, mengapa perjalanan banyak KUD tidak seindah cita-cita ketika dilahirkan? Mengapa koperasi yang dibangun pemerintah tidak tumbuh benar benar menjadi salah satu soko guru perekonomian seperti di Belanda, Perancis dan Finlandia ?

Berbagai penelitian dari perguruan tinggi dan evaluasi pemerintah memberikan jawaban yang menarik. Hampir semuanya mengarah pada kesimpulan yang serupa bahwa masalah utamanya bukan terletak pada gagasan koperasi, melainkan pada kemampuan organisasi menerjemahkan gagasan itu menjadi pekerjaan nyata.

Temuan tersebut mengingatkan saya pada sebuah lakon wayang yaitu Pendhawa Mbangun Candi Sapta Arga. Dalam lakon itu, yang menarik bukanlah candinya, melainkan proses membangunnya. Sejak awal, pekerjaan besar itu tidak berjalan mulus.

Hambatan datang bertubi-tubi. Gangguan muncul dari berbagai arah. Ada kekuatan yang ingin menggagalkan, ada tantangan yang menguji keteguhan para Pandawa. Namun mereka tidak membatalkan cita-cita besarnya.

Yudhistira dan Pandawa terus setia dengan cita citanya, dengan secara tekun mengatasi persoalan, termasuk menerima masukkan dari Semar, serta dengan tenang tanpa banyak bicara mengatasi gangguan yang datang dari pihak Kurawa. Maka Pandawa terus melangkah hingga pekerjaan itu akhirnya dapat diselesaikan.

Membangun sebuah koperasi, apalagi puluhan ribu koperasi, sesungguhnya tidak berbeda dengan filosofi lakon "Candi Sapta Arga". Yang dibutuhkan bukan hanya gagasan besar dan luhur melainkan juga perencanaan yang matang, sumber daya manusia yang andal, kepemimpinan yang kuat, sistem pengawasan yang efektif, serta kesediaan untuk terus memperbaiki diri ketika menghadapi hambatan.

Pun tujuannya hanya satu bahwa dengan membangun candi Sapta Arga, kehidupan menjadi tenang. Yudhistira tidak berpretensi bahwa dengan membangun candi itu, ia akan populer dan dipuja puji sebagai raja yang baik. Semua dimulai dengan niat baik, dan dilaksanakan dengan baik, sehingga hasilnya baik.

Puluhan tahun yang lalu, tepatnya tahun 1982, ketika saya ditugaskan RRI bekerja di Seksi Bahasa Indonesia Radio Jerman Deutshe Welle, saya harus mengikuti kursus bahasa Jerman di Goothe Institute selama dua bulan.

Ketika saya mengikuti kursus bahasa Jerman di Goethe-Institut di kota kecil Boppard di kawasan perbukitan dekat sungai Rhein, saya mengenal sebuah ungkapan yang hingga kini masih saya ingat: "Ein guter Anfang ist die halbe Arbeit." Awal yang baik adalah separuh pekerjaan. Jadi orang Jerman percaya bahwa permulaan yang baik adalah sangat penting.

Sesudah menyaksikan perjalanan berbagai program pembangunan selama puluhan tahun, saya semakin memahami bahwa ungkapan itu sesungguhnya menyimpan pesan yang sangat dalam.

Memulai dengan baik memang sangat penting. Namun separuh pekerjaan yang lain justru lebih berat yaitu menjaga konsistensi, membangun organisasi yang sehat, menyiapkan manusia-manusia yang kompeten, dan memastikan setiap cita-cita besar tidak berhenti sebagai slogan.

Ilmu manajemen modern dari G.R.Terry yang dipelajarkan pada kursus kepemimpinan calon pimpinan lembaga pemerintahan menegaskan adanya POAC, Planning Organizing, Actuating dan Controlling.

Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah yang merupakan perintah Allah, juga diterjemahkan dan dimulai dengan perencanaan dan persiapan yang matang. Muhammad yang semasa mudanya dan pun ketika sudah menjadi Nabi, sering berdagang ke Madinah yang semula bernama Yatsrib, sudah sangat mengetahui kondisi kawasan itu.

Sebagian Muslim Mekah sudah mendahului pergi ke Madinah dan berkomunikasi dengan kaum Anshor di kota itu.

Jadi semuanya bukan sak deg sak nyet. Bukan ramai di awal tetapi menimbulkan keruwetan di belakang. Pun bukan model local legend pembangunan candi sewu oleh Bandung Bondowoso.

Rasanya kita dapat memetik pelajaran dari perjalanan KUD, dari ungkapan orang Jerman, filosofi membangun Candi Sapto Argo, dan tentu teori manajemen modern.

Kita bisa memetik pelajaran dari perjalanan KUD jaman Pak Harto. Dan mungkin pula, itulah salah satu bekal yang perlu kita bawa ketika Indonesia kembali menaruh harapan besar kepada koperasi sebagai penggerak ekonomi rakyat, ketika lingkungan sudah berubah dan tantangan dan permasalahan bertambah.

Kata orang bijak, sejarah tidak pernah meminta kita untuk mengulang masa lalu. Sejarah hanya berharap kita cukup bijaksana untuk belajar darinya. "History is not there for you to like or dislike. It is there for you to learn from."(**).

Tulisan ini juga bisa dilihat di

https://sw60plus.com/news/memotret-kud-dan-kdmp

Berita terkait

Jihan Nurlela Terima Penghargaan Tokoh Muda Di Bidang Kewirausahaan, JCI Batavia X SMESCO UMKM Business Summit 2026

Jihan Nurlela Terima Penghargaan Tokoh Muda Di Bidang Kewirausahaan, JCI Batavia X SMESCO UMKM Business Summit 2026

Jakarta - Spektroom: Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela menegaskan pentingnya membangun ekosistem usaha yang mampu mempersiapkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Lampung untuk menembus pasar global. Selain meningkatkan kualitas produk, UMKM perlu memiliki pola pikir global, akses pasar, pembiayaan, pemenuhan standar, serta kapasitas produksi yang konsisten untuk memenuhi kebutuhan ekspor

Anggoro AP
Bedah Ranperda Keolahragaan Sumbar, 118 Pasal Disiapkan untuk Lindungi Insan Olahraga

Bedah Ranperda Keolahragaan Sumbar, 118 Pasal Disiapkan untuk Lindungi Insan Olahraga

Padang-Spektroom : Sebanyak 118 pasal dalam Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Penyelenggaraan Keolahragaan Sumatera Barat mulai dikaji secara terperinci oleh Komisi V DPRD Sumbar bersama mitra kerja. Pembahasan diarahkan untuk menghasilkan regulasi yang memberikan kepastian hukum sekaligus memperkuat pembinaan olahraga di daerah. Pembahasan berlangsung alot melalui rapat kerja di Ruang

Rafles