Sawahlunto Terima Lima Alsintan Pascapanen Kopi dari Kementan, Dorong Produksi “Kopi Arang”
Sawahlunto-Spektroom : Pemerintah Kota Sawahlunto memperkuat pengembangan komoditas kopi robusta dengan mendorong pengelolaan hasil perkebunan tidak berhenti pada tahap produksi biji kopi, tetapi berlanjut hingga pengolahan dan pengemasan produk siap jual.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui fasilitasi bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) pascapanen kopi dari Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) RI.
Bantuan tersebut difasilitasi Dinas Perkebunan dan Tanaman Pangan Hortikultura Provinsi Sumatera Barat. Sawahlunto menjadi salah satu dari hanya dua daerah di Sumatera Barat yang menerima bantuan alsintan pascapanen kopi tersebut, bersama Kabupaten Tanah Datar.
Penyerahan bantuan dari rekanan atau penyedia pusat kepada Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (KP3) Kota Sawahlunto berlangsung di Kantor Dinas KP3 Sawahlunto, Selasa (11/8/2026) sore.
Bantuan selanjutnya diperuntukkan bagi Kelompok Tani Harapan Baru, Desa BBS, sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas pengolahan kopi robusta masyarakat.
Adapun lima unit peralatan yang diterima terdiri dari mesin pengupas biji kopi basah atau pulper, mesin pengupas biji kopi kering atau huller, mesin sangrai biji kopi, mesin pembubuk biji kopi, serta mesin packaging atau pengemasan produk kopi bubuk.
Kepala Dinas KP3 Kota Sawahlunto Heni Purwaningsih mengatakan, bantuan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah untuk membangun ekosistem komoditas kopi secara lebih utuh.
Menurut dia, pengembangan kopi tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan produksi di tingkat petani. Nilai ekonomi yang lebih besar perlu diciptakan melalui pengolahan pascapanen hingga pemasaran produk.
“Komitmen kami adalah memfasilitasi kegiatan komoditas kopi mulai dari hulu sampai hilir. Artinya, petani tidak hanya menghasilkan biji kopi, tetapi juga memiliki kemampuan dan sarana untuk mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai tambah,” ujar Heni.
Ia berharap keberadaan peralatan tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal oleh Kelompok Tani Harapan Baru sehingga mendorong tumbuhnya usaha pengolahan kopi berbasis masyarakat di Desa BBS.
“Bantuan ini harus memberikan manfaat nyata bagi kelompok tani. Kita berharap segera dapat dimanfaatkan untuk memproduksi Kopi Arang Sawahlunto dari Desa BBS,” katanya.
Setelah diterima, kelima mesin tersebut tidak langsung digunakan untuk produksi massal. Dinas KP3 Sawahlunto menjadwalkan uji operasional atau running test untuk memastikan seluruh peralatan berfungsi sesuai spesifikasi dan dapat dioperasikan oleh penerima bantuan.
Uji coba dijadwalkan berlangsung Rabu (12/8/26), dengan melibatkan teknisi dari penyedia atau rekanan Kementerian Pertanian RI yang datang dari Bogor.
Tahap ini juga menjadi kesempatan bagi kelompok penerima untuk memahami pengoperasian dan penggunaan mesin secara tepat sehingga risiko kerusakan akibat kesalahan operasional dapat diminimalkan.
Bagi Sawahlunto, penguatan sektor kopi memiliki arti penting dalam diversifikasi ekonomi masyarakat. Kota yang selama ini dikenal sebagai daerah dengan sejarah pertambangan batubara tersebut terus berupaya mengembangkan sektor ekonomi alternatif berbasis potensi lokal.
Pengembangan kopi robusta menjadi salah satu peluang karena rantai produksinya dapat melibatkan banyak pelaku, mulai dari petani, pengolah pascapanen, pelaku UMKM, hingga sektor perdagangan dan pariwisata.
Kehadiran mesin pulper dan huller memungkinkan proses pascapanen dilakukan lebih efisien. Sementara mesin sangrai, pembubuk, dan pengemasan membuka ruang bagi petani dan kelompok tani untuk menghasilkan produk kopi siap konsumsi.
Dengan demikian, komoditas kopi tidak lagi hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah dengan identitas lokal Sawahlunto.
Heni menegaskan, pemerintah daerah akan terus mendorong agar bantuan sarana produksi yang diberikan pemerintah pusat benar-benar berujung pada peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani.
“Harapan kita, bantuan ini tidak berhenti sebagai aset kelompok tani. Mesin-mesin ini harus bergerak, digunakan untuk produksi, dan pada akhirnya mampu meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan petani,” tutur Heni.
Pengembangan “Kopi Arang” dari Desa BBS pun diharapkan menjadi salah satu contoh bagaimana komoditas perkebunan lokal Sawahlunto dapat diolah menjadi produk unggulan yang memiliki nilai ekonomi sekaligus memperkuat identitas daerah. (Ris1)