Secara Tahunan, Pada Maret 2026, Provinsi Lampung Alami Inflasi Sebesar 1,16%
Bandarlampung - Spektroom: Selama bulan Ramadan 1447 Hijriyah, Provinsi Lampung tercatat mengalami inflasi bulan ke bulan sebesar 0,19%. Angka ini lebih rendah jika dibandingkan Maret tahun 2025, yang mengalami inflasi sebesar 1,96%.
Bila dirinci menurut kelompok pengeluaran, inflasi tertinggi terjadi pada kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya dengan inflasi sebesar 1,11%. Namun, kontribusinya terhadap inflasi umum relatif kecil.
Stastisi Ahli Muda Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung M. Sabiel A.P dalam keterangan persnya menyebutkan, untuk kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan inflasi sebesar 0,31% mampu memberikan andil terbesar terhadap inflasi umum, yaitu sebesar 0,10%.
"Sementara deflasi terbesar terjadi pada kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,49% yang ikut menahan laju inflasi dengan andil sebesar minus 0,03%" terangnya melalui kanal YouTube BPS Provinsi Lampung, Rabu (1/4/2026).
Menurut Sabiel, 5 komoditas pemicu andil inflasi bulan ke bulan antara lain, daging ayam ras yang memiliki andil 0,05% diikuti komoditas bensin, telur ayam ras, beras, dan juga vitamin.
Sebaliknya, masih terdapat 5 komoditas yang mengalami deflasi sebagai komoditas penetralisir dari kondisi inflasi. Yaitu cabai merah dengan andil hingga minus 0,09% diikuti celana panjang jeans pria, tomat, obat gosok, dan juga emas perhiasan.
Selanjutnya, secara tahunan pada Maret 2026, Provinsi Lampung mengalami inflasi sebesar 1,16%. Capaian ini lebih rendah jika dibandingkan dengan kondisi Maret 2025 yang tercatat inflasi sebesar 1,58%.
"Jika dirinci berdasarkan kelompok pengeluarannya, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi tertinggi sebesar 9,55% dengan andil inflasi sebesar 0,60%." terangnya lagi.
Pada bagian lain M. Sabiel A.P juga menerangkan kelompok pengeluaran yang memberikan andil terbesar adalah kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan inflasi sebesar 8,79% dan andil mencapai 1,03%.
Lebih lanjut, Sabiel mengatakan, untuk kelompok pendidikan menjadi kelompok dengan deflasi terdalam, yaitu sebesar 17,97% dengan andil deflasi mencapai 1,19%.
Secara detil, perkembangan harga secara tahunan tersebut dapat dirinci menurut jenis komoditasnya. Lima komoditas tertinggi yang memberikan andil inflasi secara tahunan yaitu tarif listrik, emas perhiasan diikuti daging ayam beras, beras, dan sigarat kretek mesin.
"Sebaliknya, 5 komoditas yang menahan laju inflasi atau justru mengalami deflasi yaitu tarif sekolah menengah atas, sekolah menengah pertama, bawang putih, cabai merah, dan bawang merah" katanya menjelaskan.
Inflasi 4 Kabupaten di Provinsi Lampung
Secara umum, pada Maret 2026, seluruh wilayah di Provinsi Lampung mengalami inflasi. Inflasi tahunan tertinggi terjadi di Kota Metro sebesar 1,62% dan untuk inflasi terendah terjadi pada kabupaten Lampung Timur, yaitu sebesar 1,05%.
Apabila dilihat secara bulanan, inflasi tertinggi dialami Kabupaten Mesuji sebesar 0,80 persen. Sedangkan inflasi bulanan terendah terjadi di Kabupaten Lampung Timur yaitu sebesar 0,04 persen.
Sedangkan dari sisi perkembangan harga konsumen pada Maret 2026, Provinsi Lampung dapat ditunjukkan bahwa inflasi bulanan sebesar 0,19% dan inflasi tahunan sebesar 1,16%. S
"Secara bulanan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebagai penyumbang utama inflasi dengan komoditasnya yaitu daging ayam ras" tandasnya.
Sementara dari sisi tahunan, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, memiliki andil inflasi tertinggi dengan komoditasnya yaitu tarif listrik. (@Ng).