Secercah Harapan Warga Wonosari Saat Listrik Menjadi Tenaga Baru Bagi Sawah Petani
Klaten-Spektroom – Di hamparan sawah Desa Sidowarno, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten, suara mesin pompa air kini terdengar berbeda. Tidak lagi disertai kepulan asap solar dan aroma bahan bakar, melainkan berdengung halus dengan tenaga listrik yang mengalir tanpa henti.
Air dipompa menuju petak-petak sawah, menghidupkan tidak lagi menggunakan bahan bakar cair tapi menggunakan aliran Listrik.
Perubahan itu hadir melalui program ETANIGI, singkatan dari Energi Tani Bersinergi, yang digagas PT PLN (Persero) Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Tengah (UIT JBT) melalui Unit Pelaksana Transmisi (UPT) Salatiga.
Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) ini menjadi bukti bahwa listrik tidak hanya menerangi rumah-rumah, tetapi juga dapat menggerakkan harapan baru bagi sektor pertanian.
Peluncuran ETANIGI di Gedung Balai BPT Kecamatan Wonosari pada awal Mei 2026 disambut antusias para petani. Sebanyak 24 anggota Kelompok Tani Sumber Pangan berkumpul bersama pemerintah kecamatan, penyuluh pertanian, dan perwakilan PLN untuk menandai dimulainya babak baru pertanian yang lebih modern.
Lewat program ini, PLN membangun sumur irigasi yang dilengkapi pompa listrik, memasang jaringan irigasi yang mampu mengairi hingga 31 hektare sawah, serta menyediakan peralatan pendukung pertanian dan charging station.
Fasilitas tersebut menjadi jawaban atas kebutuhan utama petani: air yang cukup, biaya operasional yang hemat, dan teknologi yang lebih efisien.
Bagi Ratno, Ketua Kelompok Tani Sumber Pangan, bantuan ini ibarat energi baru yang menghidupkan optimisme. Selama ini, biaya bahan bakar untuk pompa air menjadi salah satu beban terbesar dalam proses produksi pertanian. Dengan pompa listrik, pengeluaran dapat ditekan dan pekerjaan menjadi lebih ringan.
Ia berharap perubahan ini tidak hanya meningkatkan hasil panen, tetapi juga kesejahteraan para petani yang selama ini bergantung pada sawah sebagai sumber penghidupan.
Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan Kecamatan Wonosari, Alfiyah Eka Fitriya, melihat program ini sebagai langkah nyata modernisasi pertanian. Menurutnya, penggunaan listrik membuat operasional lebih praktis dan efisien, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Di balik infra struktur yang dibangun, ETANIGI membawa pesan yang lebih besar. Manager PLN UPT Salatiga, Ardylla Rommyonegge, menegaskan bahwa PLN ingin memastikan energi listrik dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas masyarakat.
Sementara General Manager PLN UIT Jawa Bagian Tengah, Handy Wihartady, menilai pertanian yang ditopang energi bersih merupakan bagian penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional dan mewujudkan pembangunan berkelanjutan.
Di Sidowarno, listrik kini tak sekadar menyala di malam hari. Ia mengalir ke sumur-sumur, memutar pompa, mengairi sawah, dan menumbuhkan keyakinan bahwa teknologi dapat berjalan seiring dengan tradisi bertani.
Dari dengung pompa listrik di tengah hamparan padi, masa depan pertanian yang lebih efisien dan sejahtera mulai bertunas.