Sejarah dan Asal Usul Kebo Bule Keraton Surakarta
Surakarta-Spektroom: Banyak warga penasaran dan ingin melihat langsung Kebo (kerbau) Bule di Alun-alun selatan Keraton Surakarta.
Kerbau sebagai pusaka Keraton, saat ini berjumlah sekitar 15 ekor, sebagian berkulit bule atau albino dan sebagian seperti kerbau pada umumnya.
Dikutip dari berbagai sumber termasuk dari pujangga Keraton dan web resmi Kemendikbud balaimedia.kemenbud.go.id, Senin (30/3/2026), berikut ini rangkuman asal-usul dan sejarah keberadaan Kebo Bule Keraton Surakarta:
- Asal-Usul (Abad ke-18): Kebo Bule ini merupakan hewan pusaka kesayangan Pakubuwono II (Tahun 1725) yang dianggap keramat, berasal dari hadiah Kyai Hasan Besari Tegalsari Ponorogo.
- Dikenal dengan nama Kyai Slamet, kerbau ini sebagai pengawal tombak pusaka yang bernama Kyai Slamet. Oleh karena itu, kerbau ini sering disebut Kebo Kyai Slamet.
- Peran dalam Pemindahan Keraton: Saat memindahkan keraton dari Kartasura ke Desa Sala (sekarang Surakarta) tahun 1745, kerbau ini dilepas dan dianggap sebagai penunjuk lokasi di mana keraton baru berdiri
- Simbol Penolak Bala: Kerbau bule dianggap memiliki kepekaan untuk mengusir roh jahat atau wabah penyakit, serta melambangkan rakyat kecil (petani) yang dilindungi oleh raja.
- Kirab Malam 1 Suro: Setiap tahun, keturunan Kebo Bule dikirab di barisan terdepan untuk menyambut tahun baru Jawa dan Islam, membawa pusaka-pusaka keraton.
- Perawatan: Kerbau-kerbau ini dipelihara di kandang khusus di kawasan Alun-alun Selatan, dengan pawang khusus, dan sering kali diberi makan sayuran oleh warga masyarakat.
- Sekarang Kebo bule menjadi salah satu aset dan ikon budaya penting yang melestarikan tradisi kerajaan Mataram Islam di Solo.
(Ciptati Handayani)