Semangat Kemerdekaan, Anak-Anak Berkebutuhan Khusus BPIM Depok Laksanakan Upacara Bendera dan Lomba
Depok-Spektroom: Pagi itu, halaman Rumah Belajar Bimbingan Pendidikan Insani Mandiri (BPIM) Depok di Perumahan Pesona Khayangan Blok AF 2 mulai ramai. Puluhan anak berkebutuhan khusus bersama orang tua mereka datang untuk merayakan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan melaksankan upacara bendera, Rabu (19/8/2026).
Sekitar pukul 08.30 WIB, anak-anak, guru, dan orang tua berkumpul di bawah rindangnya pepohonan. Bukan sekadar mengikuti upacara, sejumlah siswa BPIM Depok, mendapat kesempatan menjadi petugas pelaksana upacara bendera.
Faikar menjadi pembawa acara, Amru membacakan Pancasila, Hanan membacakan teks Proklamasi, dan Rasyid bertugas sebagai pemimpin upacara. Rafly, Ahmad, dan Juan tim penggerek bendera Merah Putih. Putri menjadi dirigen, sedangkan Arfa membacakan doa. Kepala Sekolah BPIM Depok, Risma, bertindak sebagai inspektur upacara.
Ketika lagu Indonesia Raya berkumandang, Merah Putih perlahan naik ke tiang. Anak-anak berdiri mengikuti prosesi dengan khidmat. Sesekali muncul tingkah spontan yang mengundang senyum dan tawa. Namun, suasana tetap hangat dan penuh semangat.
Kepala Sekolah BPIM Depok, Risma, mengatakan, keterlibatan siswa berkebutuhan khusus sebagai petugas upacara memperingati HUT Kemerdekaan RI, memiliki makna dan manfaat yang baik terhadap mereka.
“Tujuan utamanya menumbuhkan rasa nasionalisme, membangun kepercayaan diri anak, serta memperkuat kolaborasi inklusif antara guru dan orang tua,” ujarnya.
Menurutnya, menjadi petugas upacara juga melatih keberanian dan kemandirian. Anak-anak belajar tampil di depan orang lain, menjalankan tanggung jawab, mengikuti aturan, dan bekerja sama dengan teman.
"Dukungan orang tua turut menjadi bagian penting. Kehadiran mereka membuat anak lebih percaya diri sekaligus menjadi kesempatan bagi keluarga untuk melihat kemampuan yang dimiliki anak-anak mereka," ucapnya.
Usai upacara, suasana berubah lebih meriah. Halaman BPIM menjadi arena berbagai lomba khas kemerdekaan. Ada lomba tiup balon, memasukkan bendera ke botol, makan kerupuk, balap karung, tarik tambang hingga estafet air menggunakan plastik.
Tawa dan sorak-sorai pun pecah. Anak-anak berusaha menyelesaikan setiap permainan dengan kemampuan masing-masing.

Risma menyatakan, lomba tersebut bukan sekadar hiburan. Setiap permainan juga memberikan pengalaman yang bermanfaat bagi perkembangan anak. Tiup balon melatih kontrol napas dan konsentrasi. Memasukkan bendera ke botol membantu koordinasi mata dan tangan.
"Balap karung melatih keseimbangan dan motorik kasar, sedangkan tarik tambang mengajarkan kerja sama," ujarnya.
Sementara estafet air dalam plastik, katanya, memberikan pengalaman sensorik sekaligus mendorong anak berinteraksi dengan teman-temannya. Namun, ada hal yang jauh lebih penting dari semua itu: anak-anak bisa bermain, tertawa, dan menikmati suasana kemerdekaan tanpa merasa berbeda.
"Orang tua pun ikut larut dalam kegembiraan. Mereka menyemangati anak, tertawa bersama, dan memberikan dukungan ketika anak berusaha menyelesaikan permainan," imbuhnya.
Hari itu, kemerdekaan hadir dalam bentuk yang sederhana. Ada keberanian ketika seorang anak berdiri menjadi petugas upacara. Ada kemandirian ketika mereka mencoba menyelesaikan permainan.
Ada pula kebersamaan ketika guru, orang tua, dan siswa saling mendukung. Bagi BPIM Depok, perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI menjadi pengingat bahwa setiap anak memiliki kesempatan untuk tumbuh dan menunjukkan kemampuannya.
Di bawah langit pagi Depok, bendera Merah Putih bukan hanya berkibar sebagai simbol kemerdekaan. Bendera itu juga menjadi pengingat, bahwa setiap anak bangsa, dengan segala keunikan dan kemampuannya, berhak berdiri tegak, percaya diri, dihargai, dan ikut merayakan HUT Kemerdekaan bangsanya.