Sentani dan Sejuta Hiloy: Merawat Tradisi, Menyapa Dunia

Sentani dan Sejuta Hiloy: Merawat Tradisi, Menyapa Dunia
Panorama Pantai Khalkote Distrik Sentani Timur. (Foto: Toni Teniwut/Spektroom)

Jayapura-Spektroom : Di tepian Danau Sentani, riak air tak sekadar memantulkan langit, ia juga menyimpan cerita tentang identitas, tradisi, dan harapan.

Tahun ini, Festival Danau Sentani kembali digelar dengan semangat yang lebih besar: membangun jembatan antara masa lalu dan masa depan melalui satu juta “hiloy”.

Hiloy garpu kayu sederhana khas masyarakat Sentani menjadi simbol yang diangkat dalam perhelatan ke-15 festival ini.

Terbuat dari kayu lokal seperti kayu besi atau soang, setiap hiloy dipahat dengan tangan, menyimpan sentuhan personal sekaligus nilai budaya.

Bagi masyarakat Sentani, hiloy bukan sekadar alat makan untuk menikmati papeda, melainkan representasi jati diri dan kebersamaan.

Selama tiga hari pelaksanaan, 3 hingga 5 Agustus 2026, kawasan Pantai Khalkote di Sentani Timur akan berubah menjadi panggung budaya terbuka.

Tarian perang, nyanyian adat, hingga ritual tradisional akan berpadu dengan panorama danau yang tenang.

Namun, denyut utama festival justru terasa sejak pra-acara yang dimulai sebulan sebelumnya
ketika masyarakat kampung mulai bersiap, mengukir hiloy, menenun cerita, dan menyambut tamu yang datang dari berbagai penjuru.

Target pemecahan rekor satu juta hiloy bukan sekadar angka ambisius. Ia adalah gambaran gotong royong masyarakat Papua yang hidup dalam harmoni.

Setiap hiloy yang dibuat merepresentasikan satu tangan yang bekerja, satu keluarga yang terlibat, dan satu kisah yang diwariskan.

Di sela kemeriahan, festival ini juga menjadi ruang ekonomi rakyat. Lapak-lapak kerajinan tangan dan kuliner lokal menghadirkan pengalaman autentik bagi wisatawan.

Aroma papeda hangat, ikan kuah kuning, dan hasil kerajinan ukir menjadi magnet yang sulit diabaikan.

Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat, tetapi juga merasakan menyentuh langsung denyut kehidupan masyarakat Sentani.

Menariknya, jadwal festival yang berdekatan dengan Festival Lembah Baliem di Wamena membuka peluang perjalanan budaya yang lebih luas.

Dalam waktu kurang dari satu jam penerbangan, pengunjung dapat menyaksikan dua wajah Papua: pesona danau yang tenang dan energi pegunungan yang dinamis.

Festival Danau Sentani bukan sekadar agenda wisata. Ia adalah cerita tentang bagaimana sebuah komunitas menjaga warisan, merawat alam, dan mengundang dunia untuk ikut memahami.

Di balik satu juta hiloy, tersimpan satu pesan sederhana: bahwa budaya akan tetap hidup selama ada yang merawatnya dengan tangan, hati, dan kebersamaan.

(Feature oleh: Toni Teniwut)

Berita terkait