“Setara Berkarya”, Perempuan Difabel dan Non Difabel Kolaborasi Membatik di Solo

“Setara Berkarya”, Perempuan Difabel dan Non Difabel Kolaborasi Membatik di Solo
Peserta membatik bersama "Setara Berkarya", di Kampung Batik Kauman Solo. (Foto: Ciptati Handayani)

Surakarta-Spektroom : Kegiatan membatik bersama yang melibatkan puluhan perempuan dari berbagai latar belakang, baik difabel maupun non difabel, menjadi simbol kuat kesetaraan dan kolaborasi dalam menghasilkan karya bersama.

Selain sebagai aktivitas kreatif, membatik yang membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan kecermatan ini juga menjadi ruang interaksi yang memperkuat pemahaman tentang inklusivitas di kalangan peserta.

Demikian disampaikan Ketua Forum Perempuan Berdaya Kota Surakarta, Febri Hapsari Dipokusumo, terkait kegiatan membatik bersama yang bertajuk ‘Setara Berkarya: Goresan Canting Kartini’ di Kampung Batik Kauman Solo.

“Menutup kegiatan Hari Kartini, kemarin kami mengadakan membatik bersama dengan tema ‘Setara Berkarya: Goresan Canting Kartini’ di Kampung Batik Kauman. Melalui kegiatan ini, perempuan non difabel dapat lebih memahami kesetaraan dengan perempuan difabel sehingga bisa saling menguatkan dalam berkarya,” ungkap Febri kepada Spektroom, Jumat (1/5/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan Forum Perempuan Berdaya bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3AP2KB) Kota Surakarta ini diikuti sekitar 50 peserta. Sebanyak 25 di antaranya merupakan perempuan difabel, terdiri dari pelaku UMKM binaan Kadin Surakarta, anggota Komite Disabilitas Kota Surakarta, serta atlet paralimpik dari National Paralympic Committee Indonesia.

Sementara itu, 25 peserta lainnya merupakan perempuan profesional non difabel yang berperan sebagai pendamping, sehingga tercipta interaksi dan kolaborasi yang setara.

“Melalui kegiatan ini kami ingin menunjukkan bahwa perempuan difabel memiliki kemampuan luar biasa. Mereka mampu berkarya dan menghasilkan batik yang indah,” ujarnya.

Febri Hapsari Dipokusumo (kanan) turut mendampingi peserta difabel (kanan) dalam membatik bersama

Acara dibuka oleh Feny Respati selaku Ketua TP PKK Surakarta, serta dihadiri sejumlah kepala dinas terkait. Kegiatan diawali dengan sesi motivasi, dilanjutkan dengan refleksi atau healing untuk menumbuhkan rasa syukur dan penguatan diri para peserta.

Dalam praktiknya, setiap kanvas dikerjakan oleh dua orang, yakni satu peserta difabel dan satu non difabel. Kolaborasi ini tidak hanya menghasilkan karya seni, tetapi juga membangun empati dan saling pengertian.

Febri mencontohkan salah satu peserta difabel, atlet para atletik peraih medali internasional, yang tetap mampu menghasilkan karya batik meski memiliki keterbatasan fisik. Hal serupa juga terlihat dari peserta lain, seperti pelaku UMKM difabel yang berprofesi sebagai pembuat kue, penjahit, hingga pengrajin.

“Ini menjadi ruang kolaborasi yang sangat positif. Mereka merasa senang karena mendapat perhatian dan dukungan dari pemerintah serta berbagai pihak,” tambahnya.

Kegiatan ini sekaligus memperkenalkan Kampung Batik Kauman sebagai kawasan ramah disabilitas, dengan fasilitas akses yang mendukung seperti jalur kursi roda dan area yang mudah dijangkau.

Menariknya, sebagian besar peserta mengaku baru pertama kali mencoba membatik. Meski tidak mudah, mulai dari membuat pola hingga proses pewarnaan, mereka merasa bangga dan bahagia dengan hasil karya yang dihasilkan.

“Hasil karya ini kami serahkan semua kepada peserta disabilitas. Mereka sangat senang karena bisa menghasilkan karya sendiri,” pungkas Febri.

Melalui kegiatan ini, diharapkan semangat kesetaraan, kolaborasi, dan pemberdayaan perempuan terus tumbuh, sekaligus memperkuat nilai inklusivitas di Kota Surakarta. (Ciptati Handayani)

Berita terkait

Lounching Yubileum  Tarekat Maria Mediatrix,  Gubernur  Maluku  Soroti Lingkungan, Ekonomi, dan Persatuan

Lounching Yubileum Tarekat Maria Mediatrix, Gubernur Maluku Soroti Lingkungan, Ekonomi, dan Persatuan

Ambon-Spektroom : Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa secara resmi meluncurkan Yubileum 100 Tahun Tarekat Maria Mediatrix sebagai penanda dimulainya rangkaian perayaan satu abad pengabdian tarekat tersebut, dalam sebuah seremoni yang berlangsung khidmat di Ambon. Peluncuran ditandai dengan penekanan tombol sirene oleh Gubernur Hendrik Lewerissa bersama Uskup Keuskupan Amboina Mgr Seno Ngutra, Wakil

Eva Moenandar, Julianto