Sinergi Polri, Bakesbangpol dan Masyarakat Jadi Kunci Jaga Kamtibmas
Jember-Spektroom : Upaya menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di tengah dinamika ekonomi global menjadi perhatian bersama berbagai pemangku kepentingan di Kabupaten Jember. Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Forum Group Discussion (FGD) bertema "Sinergi Polri dan Masyarakat Guna Menjaga Stabilitas Kamtibmas serta Kondusivitas dalam Menyikapi Kebijakan Pemerintah di Wilayah Hukum Polres Jember" yang digelar di Dira Cafe, Kompleks Perumahan Argopuro Jember, pada Selasa (09/06/2026).
Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB tersebut dihadiri lebih dari 100 tokoh masyarakat dari berbagai wilayah di Kabupaten Jember. Hadir sebagai narasumber dan peserta kehormatan Kapolres Jember AKBP Bobby Adimas Candra Putra, S.H., S.I.K., M.Si., Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jember Achmad, serta Kepala Bidang Kewaspadaan Nasional dan Penanganan Konflik Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Jember, M. Syamsu Rijal, S.H., M.H.
Dalam paparannya, Kapolres Jember AKBP Bobby Adimas Candra Putra menyampaikan bahwa kondisi perekonomian global yang berpengaruh terhadap perekonomian nasional memberikan tantangan tersendiri bagi masyarakat. Menurutnya, kondisi tersebut membutuhkan sinergi dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan agar situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap terjaga.
Ia menegaskan bahwa pendekatan cooling system yang selama ini dijalankan Polri harus diperkuat melalui keterlibatan aktif tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, pemerintah daerah, serta seluruh elemen masyarakat.
“Situasi ekonomi yang penuh tantangan dapat berdampak pada kehidupan sosial masyarakat. Karena itu, diperlukan komunikasi yang efektif dan berkelanjutan antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat guna memperkuat literasi ekonomi serta mencegah munculnya potensi gangguan Kamtibmas,” jelas Kapolres.
Sementara itu, Deputi Pemimpin Kantor Bank Indonesia Jember, Achmad, menjelaskan mengenai pengaruh situasi global dan nasional terhadap inflasi serta stabilitas ekonomi daerah. Ia menekankan bahwa pengendalian inflasi tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata, melainkan memerlukan partisipasi aktif masyarakat.
Achmad menjelaskan bahwa Bank Indonesia sebagai bank sentral memiliki tugas menjaga stabilitas moneter, termasuk menjaga nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi. Menurutnya, saat ini nilai tukar rupiah menghadapi berbagai tekanan yang berasal dari dinamika ekonomi global sehingga diperlukan berbagai langkah strategis untuk menjaga kestabilannya.
“Di Indonesia, inflasi masih banyak dipengaruhi oleh sektor bahan pangan sehingga diperlukan kerja sama semua pihak untuk menjaga stabilitas harga,” jelasnya. (budi s)