Trending

Stasiun Kutowinangun, Saksi Sejarah yang Kini Mengantar Warga hingga ke Berbagai Kota

Stasiun Kutowinangun, Saksi Sejarah yang Kini Mengantar Warga hingga ke Berbagai Kota
Stasiun Kutowinangun mulai beroperasi pada 20 Juli 1887, hingga kini masih eksis layani penumpang. (Foto : Humas Daop 5 Pwt).

Kebumen-Spektroom : Bagi sebagian warga, Stasiun Kutowinangun bukan sekadar tempat naik dan turun kereta. Stasiun yang berdiri sejak 1887 itu menjadi bagian dari perjalanan masyarakat, mulai dari berangkat bekerja, menempuh pendidikan, mengunjungi keluarga, hingga menjelajahi kota-kota lain.

Lebih dari satu abad berlalu, stasiun yang berada di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, tersebut masih melayani kebutuhan mobilitas masyarakat. Di bawah pengelolaan PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 5 Purwokerto, Stasiun Kutowinangun melayani 17 perjalanan kereta api setiap hari dengan tujuan berbagai kota, antara lain Jakarta, Bandung, Surabaya, hingga Banyuwangi.

Manager Humas KAI Daop 5 Purwokerto, M. As’ad Habibuddin, mengatakan keberadaan stasiun tersebut memberikan pilihan transportasi bagi masyarakat untuk menunjang beragam aktivitas.

“Keberadaan Stasiun Kutowinangun memiliki arti penting dalam mendukung konektivitas masyarakat, khususnya di wilayah Kebumen dan sekitarnya,” ujar As’ad.

Kebutuhan masyarakat terhadap layanan kereta api juga terlihat dari pertumbuhan jumlah penumpang. Rata-rata penumpang yang berangkat dan datang melalui stasiun ini pada 2025 tercatat sebanyak 3.958 orang per bulan. Hingga September 2026, angka tersebut meningkat menjadi 4.377 penumpang per bulan, atau tumbuh sekitar 10 persen.

Di balik aktivitas perjalanan sehari-hari, Stasiun Kutowinangun menyimpan jejak sejarah panjang perkeretaapian di wilayah selatan Jawa. Stasiun ini mulai beroperasi pada 20 Juli 1887, seiring pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan Kutoarjo dengan Kroya.

Pada masa lalu, jalur kereta api di kawasan tersebut juga mendukung aktivitas industri gula. Sejumlah percabangan rel digunakan untuk mengangkut hasil produksi pabrik gula di sekitarnya. Namun, seiring perubahan sistem transportasi dan perkembangan industri, jalur-jalur itu tidak lagi beroperasi.

Stasiun ini kemudian mengikuti perkembangan zaman. Pengoperasian jalur ganda lintas selatan pada 2019 meningkatkan kapasitas prasarana. Kini, empat jalur kereta api dengan sistem persinyalan elektrik mendukung operasional perjalanan.

Selain menjadi pintu mobilitas warga, stasiun ini juga berpotensi menghubungkan pengunjung dengan destinasi lokal, seperti Jlegi Fun River, Elio Farm yang menawarkan pengalaman memetik melon, serta Alun-alun Kutowinangun.

As’ad berharap layanan kereta api dapat membantu masyarakat mengenal potensi daerah sekaligus mendukung perekonomian dan pariwisata lokal.

Bagi Kutowinangun, perjalanan panjang stasiun ini menunjukkan bahwa bangunan bersejarah tak hanya menyimpan cerita masa lalu, tetapi juga terus mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat hari ini.

Berita terkait

Ibu SAPA Hadir, Perkuat Perlindungan Perempuan dan Anak dari Lingkungan Keluarga

Ibu SAPA Hadir, Perkuat Perlindungan Perempuan dan Anak dari Lingkungan Keluarga

Jakarta - Spektroom : Tidak semua perempuan dan anak yang mengalami kekerasan berani menceritakan apa yang mereka alami. Rasa takut, malu, hingga kekhawatiran tidak dipercaya kerap membuat korban memilih diam. Di tengah situasi tersebut, kehadiran seseorang yang bersedia mendengarkan tanpa menghakimi dapat menjadi langkah awal untuk mendapatkan pertolongan. Semangat itulah yang diusung

Irvan Idris Saleh, Bian Pamungkas