“Suara Hati Kartini Solo” Lahirkan 7 Nominator, Jadi Ruang Ekspresi Perempuan Berdaya
Surakarta – Spektroom: Berbagai gagasan, pengalaman, dan perjuangan kaum perempuan tertuang dalam karya-karya inspiratif pada lomba menulis “Suara Hati Kartini Solo” dalam rangka memperingati Hari Kartini 2026.
Juri lomba, RAY Febri Hapsari Dipokusumo, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Women’s International Club Surakarta sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Kartini tahun ini.
Menurut Febri yang juga Ketua Forum Perempuan Berdaya Surakarta, lomba menulis ini menjadi wadah ekspresi bagi perempuan untuk menuangkan ide, gagasan, pengalaman, serta kisah perjuangan dalam menghadapi tantangan zaman.
“Luar biasa, banyak karya yang masuk dalam lomba menulis ‘Suara Hati Kartini Solo’ yang diadakan Women’s International Club Surakarta, dan sudah dilakukan penilaian dengan menghasilkan tujuh nominator,” ungkap Febri kepada Spektroom, Kamis (23/4/2026).
Ia menambahkan, semangat pelopor emansipasi perempuan, Raden Ajeng Kartini, menjadi inspirasi kuat dalam setiap karya peserta. Nilai-nilai perjuangan Kartini dinilai mampu memberi warna tersendiri dalam tulisan yang dihasilkan.
Adapun tujuh nominator lomba menulis “Suara Hati Kartini Solo” meliputi:
- Dewi Aminah dengan karya “Meracik Bumbu Ketangguhan Dari Dapur Ujian”
- Dr. Ida Untari dengan karya “Kartini Semanggi–Solo: Suara Hati Yang Tak Pernah Diam”
- Fanny Chotimah dengan karya “Peran Perempuan Mengobati Luka Sejarah Untuk Menyembuhkan Masa Depan”
- Mentari Rosesitha Dewi Kusuma dengan karya “Suara Hati Seorang Perempuan Untuk Indonesia: Menyalakan Cahaya Dari Ruang Belajar”
- Novi Carlina Putri Utami dengan karya “Suara Hati Kartini Solo Putri Semata Wayang Pembawa Harapan”
- Rahayu Isnaini dengan karya “Menjemput Kesempatan: Transformasi Cara Pandang Perempuan”
- Rini Kusdiarti dengan karya “Tidak Ada Mimpi Yang Patut Diremehkan, Menemukan Versi Terkuat Diri Sendiri”
Febri menegaskan, proses penjurian dilakukan secara objektif dan profesional oleh dewan juri yang terdiri dari Forum Perempuan Berdaya Surakarta, Women’s International Club Surakarta, tokoh perempuan, serta perwakilan dari Literatour Indonesia.
Melalui lomba ini diharapkan nilai-nilai perjuangan Kartini terus hidup dan menjadi inspirasi bagi perempuan Indonesia untuk terus berkarya dan berdaya, serta membawa perubahan positif di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
“Semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini tetap relevan di tengah arus modernisasi dan globalisasi saat ini. Kartini menunjukkan bahwa perempuan bisa kuat tanpa meninggalkan identitas dan nilai-nilai budaya lokal. Itu yang harus kita teladani,” pungkas Febri. (Ciptati Handayani)