Sukses Menggelar Peksiminas, Universitas Jember Kebanjiran Apresiasi

Sukses Menggelar Peksiminas, Universitas Jember Kebanjiran Apresiasi
Wakil Rektor III UNEJ, Fendi Setyawan selaku Ketua Umum Peksiminas XVIII menyampaikan sambutan. (foto: humas unej)

Jember-Spektroom : Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Ditjen Belmawa), Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSM) Pusat dan peserta, memberikan apresiasi kepada Universitas Jember atas kesuksesannya menggelar Peksiminas XVIII. Pujian tersebut disampaikan pada acara sarasehan pimpinan perguruan tinggi dan Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI) di aula lantai III gedung Rektorat dr. Achmad Kampus Tegalboto (10/9/2026).

Apresiasi pertama disampaikan oleh Koordinator Kemahasiswaan Ditjen Belmawa sekaligus Sekertaris Jenderal BPSMI, Sukino, yang berterima kasih UNEJ bersedia menjadi tuan rumah. Menurut Sukino, seharusnya tuan rumah Peksiminas XVIII bukan di BPSMI Jawa Timur, namun karena tuan rumah awal membatalkan kesediaan, maka Belmawa dan BPSMI Pusat menawarkan kepada BPSMI Jawa Timur yang kemudian memutuskan UNEJ sebagai tuan rumah.

“Walaupun dengan waktu persiapan yang relatif pendek, ternyata UNEJ mampu menjadi tuan rumah yang baik. Padahal UNEJ tahun ini menjadi tuan rumah tiga kegiatan berskala nasional mulai KRAI, Peksiminas dan yang akan datang KMHE,” ujar Sukino.

Sukino, Sekjen BPSMI menyampaikan arahan

Pendapat Sukino di dukung oleh Prof. Sunyono Ketua BPSMI Lampung, menurutnya walau masih ada kekurangan, namun secara umum pelaksanaan Peksiminas XVIII di kampus UNEJ berjalan lancar. “Salut buat UNEJ karena bisa mempersiapkan ajang Peksiminas kurang dari satu tahun, mungkin jika diserahkan ke kami belum tentu mampu,” ungkap Prof. Sunyono yang kemudian mengajukan BPSMI Lampung sebagai tuan rumah Peksiminas di tahun 2028.

Apresiasi dari kolega tersebut diterima dengan baik oleh Ketua Umum Peksiminas XVIII tahun 2026, Fendi Setyawan. Namun dalam sambutan pembukaan kegiatan sarasehan, Fendi Setyawan mengakui jika masih banyak kekurangan pada hajatan nasional unjuk kebolehan seni budaya mahasiswa ini. Ditambah adanya peristiwa erupsi Gunung Anak Krakatau membuat panitia harus mempersiapkan langkah adaptasi agar seluruh peserta dapat tampil maksimal.

“Kami harus menyadari belum mampu menyediakan fasilitas seperti aula yang sesuai dengan kebutuhan pertunjukan seni karena mengingat UNEJ memang tidak memiliki program studi rumpun seni,” ujar Fendi Setyawan yang juga Wakil Rektor III UNEJ.

Kegiatan sarasehan pimpinan perguruan tinggi dan Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI) di aula lantai III gedung Rektorat dr. Achmad Kampus Tegalboto UNEJ. (10/9/2026).

Permasalahan fasilitas menjadi salah satu bahan diskusi para peserta sarasehan pimpinan perguruan tinggi dan BPSMI. Usulan datang dari M. Rusmin Nuryadin dari BPSMI Kalimantan Selatan yang meminta agar BPSMI Pusat membuat standar yang mengatur sarana dan prasarana, fasilitas serta proses penjurian agar jalannya kompetisi di Peksiminas berjalan secara fair.

Peristiwa erupsi Gunung Anak Krakatau yang membuat beberapa peserta telat hadir juga turut dibahas. Salah satu alternatif yang diajukan adalah dengan cara memadukan lomba secara luring dan daring pada tangkai lomba seni yang dipertandingkan. Alternatif ini juga bisa mengatasi kendala biaya transportasi dan akomodasi mengingat tidak semua peserta atau BPSMI provinsi berkelimpahan dana.

Seperti yang disampaikan oleh Baso Daeng dari BPSMI Papua Barat. “Anak-anak kami rela berlayar enam hari dari Manokwari ke Surabaya dan kemudian meneruskan perjalanan ke Jember demi untuk mengikuti Peksiminas,” kata Baso Daeng disambut tepuk tangan hadirin.

Foto bersama peserta sarasehan

Masalah dana juga diungkap oleh perwakilan BPSMI Jawa Tengah melalui Ikhsan Mujahid. Menurut Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Purwokerto ini Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tidak memberikan bantuan dana mengingat pembinaan pendidikan tinggi sudah tidak lagi menjadi kewenangan pemerintah provinsi. Sementara Prof. Muhammad Amir Arham dari BPSMI Gorontalo mengingatkan peserta untuk bersama memikirkan kelanjutan dari pembinaan mahasiswa yang turun di Peksiminas.

Terkait pendanaan dan pembinaan ini, Perwakilan BPSMI Sulawesi Tengah Hapri Ika Poigi punya ide, yakni mengusulkan agar Ditjen Belmawa dan BPSMI pusat berkoordinasi dengan Kementerian Kebudayaan yang memiliki Dana Abadi Kebudayaan. Dan bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Harapannya kegiatan Peksiminas mendapatkan dukungan dari Dana Abadi Kebudayaan, sementara mahasiswa yang aktif berkesenian ditampung melalui program-program di bawah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Pada akhir sesi diskusi, Sukino yang didampingi Prof. Darsono selaku Kepala Bidang Prestasi BPSMI Pusat berjanji akan menampung seluruh masukan untuk dibawa nanti pada saat kegiatan Rapat Kerja Nasional BPSMI yang juga akan memutuskan tuan rumah Peksiminas XIX tahun 2028. Hingga akhir sarasehan sudah ada tiga BPSMI yang menawarkan diri sebagai tuan rumah, yakni BPSMI Sulawesi Tengah, Lampung dan Bengkulu. (Sumber: humas unej)

Berita terkait