Syafaruddin Dg Usman: Rahadi Osman Layak Menjadi Pahlawan Nasional, Warisan Perjuangannya Relevan di Usia RI ke-81

Syafaruddin Dg Usman: Rahadi Osman Layak Menjadi Pahlawan Nasional, Warisan Perjuangannya Relevan di Usia RI ke-81
Syafaruddin Daeng Usman mengunjungi Ibu Hj Rahani Osman di Jakarta satu-satunya adik kandung Rahadi Osman yang masih ada sekarang.Foto: Dok Pribadi Penulis.

Pontianak-Spektroom : Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026, diskursus mengenai sosok-sosok pejuang daerah yang belum memperoleh pengakuan sebagai Pahlawan Nasional kembali mengemuka.

Salah satu nama yang menjadi perhatian adalah almarhum Rahadi Osman, pejuang muda asal Kalimantan Barat yang gugur dalam mempertahankan kemerdekaan pada usia 20 tahun.

Dalam kajian akademiknya, Syafaruddin Dg Usman, S.Pd., SH., MH, selaku penulis dan pengkaji Naskah Akademik Calon Pahlawan Nasional (Capahnas) Rahadi Osman, menilai perjuangan tokoh asal Pontianak tersebut tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga memenuhi dimensi keteladanan, integritas, serta kontribusi kebangsaan yang menjadi indikator penting dalam pengusulan gelar Pahlawan Nasional.

Menurut Syafaruddin, sejarah perjuangan nasional selama ini masih didominasi narasi dari Pulau Jawa, sementara banyak tokoh dari daerah yang memiliki kontribusi strategis belum memperoleh tempat yang proporsional dalam historiografi Indonesia.

"Rahadi Osman adalah representasi pejuang muda dari Kalimantan Barat yang mempertaruhkan hidupnya pada masa-masa paling menentukan bagi Republik. Pengorbanannya tidak boleh berhenti sebagai catatan lokal, tetapi harus menjadi bagian dari memori kolektif bangsa," ujarnya.

Rahadi Osman lahir di Pontianak pada 1 Agustus 1925. Ketika Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, ia memilih bergabung dalam barisan perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari upaya kembalinya kekuasaan kolonial di Kalimantan Barat.

Berdasarkan berbagai sumber sejarah yang menjadi bahan penyusunan naskah akademik, Rahadi Osman aktif membangun jaringan perjuangan bersama sejumlah tokoh Angkatan 45. Ia tercatat memiliki hubungan perjuangan dengan Subianto Djojohadikusumo, ayah Presiden RI Prabowo Subianto, serta Chairul Saleh, tokoh revolusi yang kemudian menjabat Wakil Perdana Menteri Republik Indonesia.

Bagi Syafaruddin, fakta tersebut memperlihatkan bahwa perjuangan Rahadi Osman tidak berlangsung secara terisolasi, melainkan menjadi bagian dari gerakan nasional yang menghubungkan Kalimantan dengan pusat-pusat perjuangan republik.

Yang menarik, kata Syafaruddin, Rahadi Osman juga memahami pentingnya perang informasi. Pada masa revolusi fisik, radio bukan sekadar alat komunikasi, tetapi instrumen strategis untuk menyebarluaskan berita kemerdekaan sekaligus melawan propaganda kolonial.

"Perjuangan tidak hanya dilakukan dengan senjata. Informasi adalah bagian dari strategi revolusi. Rahadi Osman memahami bahwa mempertahankan kemerdekaan juga dilakukan melalui penyebaran informasi yang benar kepada masyarakat," jelasnya.

Perjuangan itu berakhir pada 7 Desember 1945. Rahadi Osman gugur dalam pertempuran di kawasan Sungai Besar, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Saat itu usianya baru menginjak 20 tahun. Gugurnya terjadi hanya beberapa bulan setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.

Dalam perspektif kajian akademik, kematian Rahadi Osman di medan juang menjadi salah satu bukti nyata pengorbanan total bagi bangsa dan negara. Ia tidak pernah tercatat menyerah kepada musuh hingga akhir hayatnya.

Syafaruddin menilai, nilai utama dari perjuangan Rahadi Osman bukan semata-mata keberaniannya di medan tempur, tetapi keteladanan moral yang diwariskan kepada generasi penerus. Sosoknya menunjukkan bahwa usia muda bukan penghalang untuk mengambil tanggung jawab besar dalam menentukan masa depan bangsa.

Menurutnya, pengusulan Rahadi Osman sebagai Pahlawan Nasional bukan sekadar penghargaan terhadap seorang individu, melainkan bentuk keadilan sejarah bagi Kalimantan Barat yang memiliki banyak pejuang dalam mempertahankan Republik Indonesia.

Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI, lanjut Syafaruddin, menjadi waktu yang tepat untuk menghadirkan kembali narasi perjuangan tokoh-tokoh daerah agar generasi muda memahami bahwa kemerdekaan Indonesia dibangun oleh pengorbanan anak bangsa dari seluruh penjuru Nusantara.

"Pengakuan terhadap Rahadi Osman akan memperkaya sejarah nasional sekaligus memperkuat identitas kebangsaan. Semangat nasionalisme yang diperlihatkannya tetap relevan di tengah tantangan Indonesia hari ini," tegasnya.

Kajian akademik yang disusun Syafaruddin menyimpulkan bahwa Rahadi Osman memiliki rekam jejak perjuangan yang memenuhi unsur keberanian, pengabdian tanpa pamrih, integritas, dan pengaruh terhadap perjuangan mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia. Karena itu, usulan pemberian gelar Pahlawan Nasional dinilai memiliki dasar historis dan akademis yang kuat.

Di usia ke-81 Republik Indonesia, kisah Rahadi Osman menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah, melainkan hasil dari pengorbanan para pemuda yang rela mengorbankan masa depan bahkan nyawanya demi berkibarnya Merah Putih. Dari Pontianak hingga Ketapang, jejak perjuangannya terus hidup sebagai simbol keberanian dan nasionalisme dari Bumi Khatulistiwa.

Berita terkait

Bidik Ekosistem Kejahatan Digital, Pemerintah Berantas Judol Sampai Keakarnya

Bidik Ekosistem Kejahatan Digital, Pemerintah Berantas Judol Sampai Keakarnya

Jakarta-Spektroom : Pemerintah mengubah strategi pemberantasan judi online dengan tidak lagi berfokus pada pemblokiran situs semata, tetapi membidik seluruh ekosistem kejahatan digital yang menopang operasinya. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan pemberantasan judi online kini memasuki pendekatan baru yang menyasar seluruh ekosistem kejahatan, mulai dari situs, aliran dana, hingga jaringan

Diah Utami, Rafles
Tiga Hari Jelang Groundbreaking Blok Masela, Pangdam Pattimura Perintahkan Percepatan Helipad Lermatang

Tiga Hari Jelang Groundbreaking Blok Masela, Pangdam Pattimura Perintahkan Percepatan Helipad Lermatang

Ambon-Spektroom:Menjelang pelaksanaan peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek Blok Masela yang diperkirakan tinggal tiga hari lagi, Pangdam XV/Pattimura Mayjen TNI Dody Triwinarto, S.I.P., M.Han. memerintahkan percepatan pembangunan landasan helikopter (helipad) di Desa Lermatang, Selasa (14/7/2026). Percepatan pembangunan dilakukan sebagai bagian dari persiapan menyambut kunjungan

Eva Moenandar, Buang Supeno