Taman Gratis di Tepi Rel, Warisan Niat Baik Seorang Guru Olahraga
Purwokerto-Spektroom : Peluit lokomotif terdengar dari kejauhan. Beberapa anak yang sedari tadi berlarian di taman spontan berhenti, lalu bergegas menuju pagar pembatas.
Tak lama kemudian, kereta melintas membelah hamparan sawah dengan latar Gunung Slamet yang berdiri megah di kejauhan. Tangan-tangan kecil melambai riang, sementara kamera ponsel para pengunjung sibuk mengabadikan momen.
Pemandangan itu hampir setiap sore tersaji di Taman Rasam, Purwokerto. Sebuah taman sederhana yang tak memungut tiket masuk, tetapi menyimpan kisah yang jauh lebih berharga daripada sekadar tempat berfoto.
Semuanya berawal dari kenangan yang tak pernah hilang dari benak Akhmad Sunarto, seorang pensiunan guru olahraga. Bertahun-tahun lalu, ia pernah mengajak murid-muridnya berwisata. Namun sesampainya di lokasi, beberapa anak hanya bisa berdiri di luar pagar karena tidak memiliki uang untuk membeli tiket.
"Anak-anak akhirnya terpisah. Saat itu saya berjanji, kalau suatu hari diberi rezeki oleh Allah, saya ingin membuat taman yang bisa dinikmati semua orang tanpa membayar," kenangnya.
Janji itu kemudian tumbuh menjadi kenyataan. Pada 2008, Sunarto mulai merintis Taman Rasam di atas lahan milik PT KAI yang saat itu hanyalah tempat pembuangan sampah. Tak ada investor, tak ada bantuan pemerintah. Talut dibangun dengan biaya sendiri. Aneka tanaman dibawa dari halaman rumahnya.
Sedikit demi sedikit, tempat yang dulu kumuh berubah menjadi ruang hijau, nyaman dipandang.
Ia mengaku sempat mengajukan bantuan kepada pemerintah maupun KAI. Namun karena status lahan milik pemerintah dan tidak diperbolehkan berdiri bangunan, sehingga harapannya sempat pupus.

Sunarto memilih tidak menyerah. Ia percaya, niat baik selalu menemukan jalannya.
Kini Taman Rasam bukan sekadar tempat menikmati kereta api. Seluruh area dirancang agar pengunjung dapat menyaksikan kereta melintas dengan aman.
Pagar, parit pembatas, hingga papan peringatan dipasang agar tidak ada yang memasuki jalur rel. Setiap hari ada pemuda setempat bertugas mengawasi taman khususnya saat kereta api akan melintas.
Bagi Sunarto, keselamatan adalah bagian dari wisata itu sendiri. Ia ingin masyarakat mencintai kereta api sekaligus memahami pentingnya menjaga keselamatan perjalanan.
Menariknya, manfaat taman ini tak berhenti pada pengunjung. Setiap sore, terutama akhir pekan, puluhan pelaku UMKM menggelar dagangan. Warung kecil, jajanan, minuman, hingga parkir menjadi sumber penghidupan bagi warga sekitar.
Mereka pun bergotong royong merawat taman, mengecat, membersihkan, dan menjaga kenyamanan bersama. Nama Taman Rasam kini menyebar dari mulut ke mulut hingga media sosial.
Danish, pengunjung asal Gunungpati, Semarang, rela datang untuk berburu foto.
"Kalau cuaca cerah, kereta yang melintas dengan sawah dan Gunung Slamet di belakangnya menjadi pemandangan yang luar biasa," ujarnya.
Di usia 69 tahun, Sunarto merawat taman yang dibangunnya dengan tangan dan tabungannya sendiri. Ia tak pernah menghitung berapa uang yang telah dikeluarkan. Baginya, keuntungan bukanlah tujuan.
"Yang saya cari hanya membuat masyarakat senang," katanya.
Mungkin itulah yang membuat Taman Rasam terasa berbeda. Ia tidak dibangun oleh modal besar, melainkan oleh kepedulian seorang guru yang tak tega melihat muridnya gagal berwisata karena tak mampu membeli tiket.
Dari sebuah niat sederhana, lahirlah ruang publik yang menghadirkan kebahagiaan, menghidupkan ekonomi warga, dan mengajarkan bahwa kebaikan yang ditanam dengan tulus akan selalu menemukan jalannya.