Tekanan Rupiah Meningkat, Prof. Mahfud Nurnajamuddin Soroti Pentingnya Kredibilitas Fiskal
Makassar-Spektroom: Tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang terus melemah di tengah penguatan dolar Amerika Serikat dinilai menjadi tantangan serius bagi perekonomian Indonesia. Kondisi tersebut menuntut pemerintah menjaga kredibilitas fiskal agar kepercayaan pasar dan investor tetap terpelihara.
Hal itu disampaikan Prof. Dr. H. Mahfud Nurnajamuddin, SE., MM. menyikapi pelemahan rupiah yang telah menyentuh Rp17.508 per dolar AS dan melampaui asumsi makro APBN 2026.
Menurutnya, pelemahan rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga tekanan global seperti tingginya suku bunga internasional, ketidakpastian geopolitik, perlambatan ekonomi dunia, hingga meningkatnya kecenderungan investor menempatkan dana pada aset safe haven.
“Dalam situasi seperti ini, pasar akan melihat seberapa kuat fundamental ekonomi dan kredibilitas kebijakan pemerintah. Karena itu, menjaga kredibilitas fiskal menjadi sangat penting,” ujarnya.
Mahfud Nurnajamuddin menilai pemerintah perlu memastikan defisit anggaran tetap terkendali serta pengelolaan utang dilakukan secara hati-hati dan terukur. Selain itu, belanja negara harus diarahkan pada sektor-sektor produktif yang mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Ia menegaskan, negara dengan fundamental fiskal yang kuat cenderung lebih dipercaya investor meskipun sedang menghadapi tekanan ekonomi global.
Di sisi lain, ia mengapresiasi langkah pemerintah mengaktifkan Bond Stabilization Fund (BSF) sebagai upaya menjaga stabilitas pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan mengurangi gejolak di pasar obligasi.
Menurutnya, kebijakan tersebut penting untuk mencegah lonjakan yield SBN yang dapat memicu capital loss bagi investor asing dan memperbesar arus keluar modal dari Indonesia.
“Pemerintah berusaha menjaga stabilitas harga obligasi agar investor tetap percaya terhadap pasar keuangan nasional,” katanya.
Namun demikian, ia menilai intervensi pasar melalui BSF hanya menjadi solusi jangka pendek. Pemerintah dan Bank Indonesia tetap perlu memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter agar pasar memperoleh sinyal yang konsisten terkait arah kebijakan ekonomi nasional.
Selain menjaga stabilitas fiskal, Mahfud juga menekankan pentingnya memperkuat fundamental sektor riil melalui peningkatan ekspor bernilai tambah, hilirisasi industri, serta penguatan daya saing produk dalam negeri.
Ia menyebut ketergantungan tinggi terhadap arus modal asing membuat pasar keuangan Indonesia mudah bergejolak ketika terjadi capital outflow. Karena itu, penguatan investor domestik, termasuk dana pensiun dan lembaga keuangan nasional, perlu terus didorong.
Mahfud Nurnajamuddin juga mengingatkan pemerintah agar memperhatikan dampak pelemahan rupiah terhadap masyarakat. Kenaikan dolar AS dapat meningkatkan harga barang impor, biaya produksi industri, hingga memicu tekanan inflasi.
“UMKM menjadi kelompok yang cukup rentan karena sebagian besar masih bergantung pada bahan baku impor. Jika kondisi ini berlangsung lama, daya beli masyarakat dapat ikut melemah,” jelasnya.
Karena itu, pemerintah diminta memastikan stabilitas ekonomi tidak hanya terlihat di pasar keuangan, tetapi juga dirasakan langsung oleh masyarakat melalui pengendalian harga pangan, stabilitas energi, serta dukungan terhadap sektor usaha kecil dan menengah.
“Stabilitas rupiah bukan hanya soal angka kurs, tetapi juga tentang menjaga kepercayaan terhadap kekuatan ekonomi nasional dan masa depan Indonesia,” tutupnya.