Trending

Teknologi Satelit Prediksi Risiko dan Pantau Hotspot Karhutla secara Real Time

Teknologi Satelit Prediksi Risiko dan Pantau Hotspot Karhutla secara Real Time

Bandung - Spektroom : Kepala Pusat Riset Geoinformatika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), M. Rokhis Khomarudin memaparkan pemanfaatan teknologi satelit dalam pemantauan kebakaran hutan dan lahan. BRIN berkolaborasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengembangkan teknologi satelit untuk mendukung pemantauan. Model satelit yang dikembangkan dioperasikan oleh BMKG.

“Teknologi satelit kita mampu memprediksi potensi kekeringan sebagai peringatan dini risiko kebakaran hutan dan lahan serta mengidentifikasi lokasi titik panas (hotspot). Hasil pemantauannya disajikan secara real time dan dapat diakses melalui tautan hotspot.brin.go.id,” kata Rokhis dalam siaran pers yang diterima Spektroom, Sabtu (29/08/2026).

Teknologi satelit dimanfaatkan untuk memetakan dan menghitung luas area yang terdampak kebakaran menggunakan citra satelit, seperti Landsat dan Sentinel. Analisis dilakukan setiap bulan dan hasilnya disampaikan ke Kementerian Kehutanan untuk mendukung penyediaan informasi publik.

Pemanfaatan geoinformatika dan informasi geospasial semakin berperan dalam mendukung pengelolaan hutan dan lahan secara berkelanjutan. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk memantau kondisi hutan dan lahan, menyediakan informasi secara berkala, hingga mendukung pengambilan keputusan berbasis data.

Kepala Bagian Pelayanan dan Penyajian Informasi Publik, Kementerian Kehutanan RI, Agus Yasin menjelaskan pengelolaan kehutanan memiliki keterkaitan erat dengan informasi geospasial. Hampir seluruh keputusan di bidang kehutanan memiliki dimensi keruangan sehingga membutuhkan informasi mengenai lokasi dan perubahan yang terjadi di suatu wilayah.

Informasi geospasial dapat menjawab berbagai pertanyaan penting dalam pengelolaan kehutanan, mulai dari lokasi terjadinya kebakaran dan perubahan kawasan hingga aktivitas pemanfaatan lahan. Informasi itu juga menjadi salah 1 dasar dalam proses pengambilan keputusan.

Perkembangan teknologi membuat pemantauan hutan dapat dilakukan lebih cepat dan berkala. Jika sebelumnya pembaruan data membutuhkan waktu 4 - 6 tahun, kini perkembangan teknologi memungkinkan pemantauan dilakukan dengan interval yang lebih singkat, bahkan mendekati kondisi aktual.

“Perkembangan berbagai teknologi penginderaan jauh membuat data semakin melimpah, mulai dari Landsat, Sentinel, data hotspot, informasi prediksi cuaca, survei lapangan, inventarisasi, hingga laporan masyarakat dan informasi dari media sosial,” kata Agus.

Meningkatnya ketersediaan data juga menghadirkan tantangan baru. Tantangan pengelolaan informasi kehutanan saat ini tidak lagi sekadar mengenai ketersediaan data. Tantangan berikutnya menentukan data yang paling relevan, akurat, dan dapat dipercaya untuk kebutuhan analisis tertentu. Tidak ada satu jenis data yang dapat menjawab seluruh kebutuhan pengelolaan kehutanan.

Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) juga menghadirkan tantangan dalam memastikan kualitas informasi. Kemudahan menghasilkan dan menyebarkan informasi membuat masyarakat perlu semakin cermat dalam membedakan informasi yang valid, misinformasi, dan hoaks. Perguruan tinggi, pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, dunia usaha, masyarakat lokal, media, citizen science, hingga berbagai platform digital turut berperan dalam menghasilkan dan menyebarkan informasi kepada publik.

Kondisi tersebut memperluas sumber informasi sekaligus meningkatkan kebutuhan terhadap mekanisme validasi. Informasi yang digunakan untuk mendukung kebijakan perlu memiliki dasar data yang jelas, dapat diverifikasi, dan sesuai dengan konteks permasalahan yang dihadapi.

Geoinformatika menjadi peran pendukung dasar kebijakan ketika informasi yang digunakan akurat, tepat waktu, relevan, kontekstual, dan memiliki kredibilitas. Kualitas informasi menjadi faktor penting agar hasil analisis dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.

Dalam konteks perubahan iklim, sektor Forest and Other Land Uses (FOLU) menjadi salah 1 komponen penting dalam Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia, bersama sektor energi, industri, limbah, dan pertanian. FOLU merupakan komponen krusial dengan target net sink pada 2030. Selain mereduksi emisi dari sektor FOLU, sektor ini juga berperan sebagai reduktor emisi dari 4 komponen lain yang tercatat dalam NDC.

Pemanfaatan teknologi perlu berjalan bersama dengan pemilihan data yang tepat, analisis yang komprehensif, serta komunikasi informasi yang dapat dipercaya. Ketiga aspek tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan informasi geoinformatika dapat diterjemahkan menjadi dasar kebijakan dan keputusan yang tepat dalam pengelolaan hutan dan lahan di Indonesia. (rgs/ed:kg, tnt)

Berita terkait

Hadapi Ancaman Karhutla dan Krisis Air Bersih, Polres SBB Siagakan Empat Armada Multifungsi

Hadapi Ancaman Karhutla dan Krisis Air Bersih, Polres SBB Siagakan Empat Armada Multifungsi

Seram Bagian Barat–Spektroom : Polres Seram Bagian Barat (SBB), Polda Maluku, menyiagakan empat unit armada multifungsi untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sekaligus membantu distribusi air bersih bagi masyarakat yang membutuhkan. Langkah ini menjadi upaya konkret kepolisian dalam mengantisipasi risiko kebakaran dan dampak musim kering yang dapat mengganggu

Eva Moenandar, Rafles
Gubernur Mirza Pimpin Rapat Optimalisasi dan Pemberdayaan Masyarakat dalam Program Desaku Maju

Gubernur Mirza Pimpin Rapat Optimalisasi dan Pemberdayaan Masyarakat dalam Program Desaku Maju

Bandarlampung - Spektroom: Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan pentingnya kepemimpinan dalam memajukan desa dan kelurahan. Menurutnya, pemimpin yang inovatif dan dekat dengan warga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pernyataan tersebut disampaikan Gubernur saat memimpin Rapat Optimalisasi dan Pemberdayaan Masyarakat dalam Program Desaku Maju, di rumah jabatan gubernur, Mahan Agung, Bandarlampung, Jumat

Anggoro AP
Berantas Narkoba di Sumbar, Gubernur Mahyeldi Dorong Pemetaan Jalur Distribusi dan Penguatan Rehabilitasi

Berantas Narkoba di Sumbar, Gubernur Mahyeldi Dorong Pemetaan Jalur Distribusi dan Penguatan Rehabilitasi

Padang-Spektroom : Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah mendorong penguatan pengawasan peredaran narkotika hingga tingkat nagari, pemetaan jalur distribusi lintas daerah, serta peningkatan kapasitas rehabilitasi pengguna. Langkah terpadu tersebut dinilai penting untuk mempersempit ruang gerak jaringan pengedar sekaligus mencegah penyalahgunaan narkoba di tengah masyarakat. Arahan itu disampaikan Mahyeldi saat memimpin Focus

Rafles