Tembakau Lumindai yang Pernah Mendunia Terus Dibangkitkan, DKP3 Sawahlunto Genjot SDM Petani Lewat Pelatihan Intensif
Sawahlunto–Spektroom : Pemerintah Kota Sawahlunto melalui Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) terus berupaya menghidupkan kembali kejayaan Tembakau Lumindai, komoditas khas yang pernah dikenal hingga mancanegara. Salah satu langkah yang ditempuh adalah meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) petani melalui pelatihan budidaya dan peningkatan kualitas hasil produksi.
Pelatihan yang berlangsung selama satu hari penuh itu, Rabu (29/7/26) digelar di Guguk Bungo, Desa Lumindai, kawasan yang dikenal sebagai "Negeri di Atas Awan" dengan ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kegiatan tersebut diikuti perwakilan dari 11 kelompok tani tembakau dengan total 20 peserta.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Sawahlunto, Heni Purwaningsih, SP., MP., mengatakan keterbatasan anggaran tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti meningkatkan kemampuan petani.
"Keterbatasan dana jangan membuat kita malas. Justru dengan kondisi yang ada, kita harus semakin kreatif dalam meningkatkan kapasitas SDM petani agar kualitas tembakau Lumindai terus meningkat dan mampu memiliki daya saing yang lebih baik," ujar Heni.
Menurutnya, pelatihan tersebut menghadirkan ahli tembakau asal Kota Solok, Zulhasmi, untuk memberikan materi mengenai teknik budidaya, pengelolaan tanaman, hingga peningkatan mutu hasil panen agar sesuai dengan kebutuhan pasar.
Heni menegaskan bahwa Tembakau Lumindai memiliki nilai sejarah dan ekonomi yang tinggi. Pada masanya, komoditas tersebut dikenal luas bahkan hingga Belanda, sehingga keberadaannya perlu terus dijaga dan dikembangkan sebagai salah satu produk unggulan pertanian Sawahlunto.
"Sebagaimana diketahui, Tembakau Lumindai pernah terkenal sampai ke Negeri Belanda. Karena itu, komoditas ini harus kita lestarikan dengan menghadirkan tenaga ahli agar kualitas produksi semakin baik dan pada akhirnya mampu meningkatkan kesejahteraan petani," katanya.
Berdasarkan data DKP3, saat ini budidaya tembakau di Desa Lumindai mencakup lahan seluas 27 hektare dengan total produksi mencapai sekitar 19,15 ton. Pemerintah daerah berharap peningkatan kompetensi petani akan berdampak pada produktivitas sekaligus kualitas hasil panen sehingga nilai jual tembakau semakin meningkat.
Selain meningkatkan teknik budidaya, pelatihan juga menjadi wadah bagi petani untuk bertukar pengalaman serta memperkuat jejaring antarkelompok tani dalam mengembangkan komoditas unggulan daerah.
Heni menambahkan, pengembangan Tembakau Lumindai merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kota Sawahlunto dalam memperkuat sektor pertanian berbasis potensi lokal sekaligus menjaga warisan komoditas yang memiliki nilai historis bagi daerah.
"Kami ingin Tembakau Lumindai tidak hanya dikenal karena sejarahnya, tetapi juga mampu menjadi komoditas unggulan yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat. Dengan SDM petani yang semakin berkualitas, kami optimistis tembakau Lumindai akan semakin berdaya saing di pasar," pungkas Heni. (Ris1)