Tiga Tahun Pasca Diresmikan, Pelabuhan Kijing Masih ‘Tidur Panjang
Spektroom — Tiga tahun sudah Pelabuhan Internasional Kijing di Kabupaten Mempawah diresmikan Presiden pada Agustus 2022.
Namun, pelabuhan yang digadang-gadang bakal menjadi pusat ekspor dan simpul logistik internasional di Kalimantan itu, belum juga menunjukkan geliat berarti.
Aktivitasnya masih sepi, jauh dari bayangan sebagai proyek strategis nasional.
Menurut pengamat transportasi intermoda Kalimantan Barat, Syarif Usmulyani, kunci persoalan ada pada satu hal: akses jalan darat yang belum memadai.
“Pelabuhan ini besar potensinya, tapi konektivitasnya masih lemah.Tanpa jalur khusus, arus barang akan tersendat, dan ekonomi tidak bisa bergerak maksimal,” ujarnya di Mempawah, Kamis (13/11/2025).
Padahal, dari sisi fasilitas,dan Kelayakan Pendukung Operasional Pelabuhan Kijing sudah siap beroperasi dalam Pelayanan.

Sistem kepabeanan, imigrasi, dan karantina (CIQ) lengkap tersedia.
Pelabuhan ini bahkan mampu menampung hingga 17 kapal sekaligus, dengan kapasitas mencapai 300 ribu TEUs per tahun.
Kawasan perairannya yg mencapai kedalaman hingga 14,5 meter memungkinkan kapal dengan kapasitas 30 ribu ton bisa bersandar dengan aman.
“Secara geografis, Kijing sangat strategis karena langsung menghadap Laut Cina Selatan.Kalau beroperasi penuh, pengiriman ke China bisa lebih cepat sampai tujuh hari dibanding lewat Singapura,” jelas Usmulyani.
Namun, realitas di lapangan belum seindah itu. Jalan penghubung menuju pelabuhan masih sempit, dan belum ada jalur khusus untuk kontainer.
Akibatnya, sebagian besar aktivitas logistik masih bertumpu di Pelabuhan Dwikora Pontianak.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengaku khawatir, karena arus kendaraan besar di Pontianak semakin padat.
“Kalau Pelabuhan Kijing tidak segera dioptimalkan, Pontianak akan makin macet.Kami berharap pemerintah provinsi dan pusat segera mendorong pemindahan kegiatan dari Dwikora ke Kijing,” tegasnya.
Data menunjukkan, dalam dua bulan terakhir, sudah ada lima korban jiwa akibat kecelakaan lalu lintas yang melibatkan truk dan kontainer di Kota Pontianak.
Pemerintah kota sebenarnya sudah menetapkan aturan pembatasan jam operasional kendaraan besar sejak 2019, tapi kepadatan tetap tinggi.
Bagi Usmulyani, solusi satu-satunya adalah membangun jalur truk kontainer khusus agar aktivitas pelabuhan tidak menekan lalu lintas perkotaan.
“Kijing ini bukan sekadar pelabuhan, tapi investasi strategis.Kalau dikelola serius, manfaatnya bisa dirasakan seluruh wilayah Kalimantan, bahkan Indonesia bagian timur,” pungkasnya.