TPID Provinsi Lampung Ikuti Rakor TPID Secara Virtual dari Ruang Command Center Diskominfotik Provinsi Lampung
Bandarlampung - Spektroom: Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Lampung dipimpin Staf Ahli Gubernur Bidang Pemerintahan, Hukum & Politik Yayan Ruchyansah bersama anggota Forkopimda serta Kepala OPD terkait mengikuti secara virtual Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi di Daerah Tahun 2026.
Rakor TPID dirangkai dengan Pembahasan Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak dan Tarif Angkutan Udara Serta Permohonan Bantuan Pelaksanaan Inspeksi dan Penilaian Kesesuaian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi oleh SatgasMBG Kabupaten/Kota.
TPID Lampung mengikutinya dari Ruang Command Center Lantai II Diskominfotik Provinsi Lampung, Senin (5/10/2026) sementara Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi di Daerah Tahun 2026 itu sendiri berlangsung di Graha Bhakti Praja Kementerian Dalam Negri, dipimpin Sekjen Kemendageri Tomsi Tohir.
Dalam pengantarnya Tomsi Tohir mengatakan rakor kali ini selain membahas harga gejolak pangan yang secara rutin dibahas rakor membahas seputar dampak kebijakan pemerintah seperti kenaikan harga BBM dan angkutan udara.
"Karena dua faktor ini, baik harga BBM maupun harga tiket angkutan udara yang naik, itu mempengaruhi daripada angka inflasi kita bulan ini." ujar Tomsi Tohir.
Sementara Deputy Bidang Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono dalam paparannya menjelaskan, dibulan September ada beberapa kondisi yang mempengaruhi inflasi, khususnya terkait dengan komoditas pangan, holtikultura konsentrasinya di cabe rawit dan cabe merah yang mengalami penurunan produksi.
Pada bulan Oktober ini, terus Ateng Hartono, untuk bawang merah terjadi peningkatan produksi. Kemudian juga fenomena El Nino, walaupun grafiknya semakin menurun tetapi menurut BMKG diperkirakan akan berlangsung hingga awal 2027.
Sedangkan permintaan daging ayam rasz khususnya untuk memenuhi kebutuhan MBG, karena liburan sekolah sudah berakhir dan permintaan kembali normal sehingga harga juga mengalami peningkatan.
"Inflasi di September, secara Month to Month sebesar 0,30 persen dan secara year on year 3,28 persen. Artinya mengalami peningkatan jika dibandingkan pada kondisi Agustus yang inflasi year on year-nya itu 3,19 persen. Sedangkan untuk year to date itu 2,17 persen." rinci Ateng Hartono.
Sedangkan secara year on year, ada beberapa kelompok pengeluaran yang memberikan andil cukup besar, yaitu makanan, minuman dan tembakau, yang andilnya sampai 1,28 persen. (@Ng).