Trans Solo-Wonogiri Andalan Mobilitas Harian Warga Jateng
Surakarta - Spektroom: Tingginya penggunaan angkutan umum massal di koridor Solo–Sukoharjo–Wonogiri menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap transportasi publik bukan lagi sekadar potensi, tetapi telah menjadi kebutuhan nyata dalam mobilitas sehari-hari.
Sepanjang 2025, Trans Jateng Koridor Solo–Wonogiri tercatat mengangkut 1.541.123 penumpang dengan capaian load factor 110 %. Sementara KA Perintis Batara Kresna melayani 353.712 penumpang.
Menurut pakar transportasi Jawa Tengah Anastasia Yulianti, jika digabungkan, kedua moda itu memobilisasi hampir 1,9 juta perjalanan orang dalam 1 tahun.
“Angka sebesar 1,9 juta penumpang ini menunjukkan besarnya ketergantungan masyarakat terhadap angkutan umum yang terjangkau, khususnya masyarakat berpenghasilan UMK di kawasan selatan aglomerasi Subosukawonosraten (Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Wonogiri, dan Sragen),” ungkap Anastasia Yulianti dalam keterangannya kepada Spektroom, Kamis (10/9/2026).
Anastasia, yang juga Sekretaris Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah Jawa Tengah, menilai tingginya jumlah penumpang tersebut menjadi bukti keberadaan transportasi massal bersubsidi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Trans Jateng Solo - Wonogiri dengan 15 armada bus medium beroperasi secara intensif dengan interval 15 - 20 menit. Layanan ini menjadi andalan mobilitas harian pekerja, pelajar, ASN, dan masyarakat yang beraktivitas di sepanjang koridor Solo–Sukoharjo–Wonogiri.
Sementara itu, KA Batara Kresna menawarkan kepastian waktu perjalanan karena tidak terpengaruh kemacetan jalan raya. Dengan 4 perjalanan setiap hari dan tarif Rp 4.000 per perjalanan, kereta ini melayani perjalanan langsung, termasuk masyarakat, pedagang pasar, lansia, rombongan, hingga wisatawan.
“Karakter kedua moda yang berbeda membuka peluang untuk saling melengkapi, bukan bersaing. Trans Jateng dapat berperan sebagai tulang punggung mobilitas komuter harian, sedangkan Batara Kresna menjadi moda perjalanan langsung sekaligus memiliki potensi mendukung mobilitas wisata,” jelasnya.

Peluang integrasi dapat dilakukan melalui 3 simpul utama, yakni Stasiun Wonogiri, Stasiun Sukoharjo, dan Stasiun Pasarnguter. Ketiganya dapat dikembangkan sebagai titik alih moda yang ramah pejalan kaki dan memudahkan penumpang berpindah dari kereta ke bus maupun sebaliknya.
Selain integrasi fisik, penyelarasan jadwal juga penting. Jadwal bus Trans Jateng yang lebih fleksibel dapat menjadi penghubung perjalanan setelah penumpang turun dari Batara Kresna.
Harmonisasi kedua moda dinilai mampu memberikan manfaat lebih luas, mulai dari menekan biaya transportasi masyarakat, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, hingga mengurangi beban kemacetan dan risiko kecelakaan di jalur Solo–Wonogiri.
Integrasi transportasi massal yang terjangkau sekaligus membuka akses masyarakat Wonogiri dan Sukoharjo menuju pusat pendidikan dan lapangan kerja di Kota Surakarta, serta mendukung akses menuju kawasan industri dan destinasi wisata di wilayah Selatan Solo Raya. (CH)