Trending

Trend Kampus Inklusif: Dari Asesmen Modalitas Hingga Peluang Riset Berdampak

Trend Kampus Inklusif: Dari Asesmen Modalitas Hingga Peluang Riset Berdampak
Wamendikti Saintek - Stella Christie pada Kegiatan Sarasehan dan Sosialisasi Pembentukan Unit Layanan Disabilitas (ULD) Perguruan Tinggi, di Kampus 2 Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida), Jakarta Barat. (Foto: Spektroom/ Adi Wiyono).

Jakarta - Spektroom : Isu inklusivitas di perguruan tinggi Indonesia kini memasuki babak baru. Pendidikan inklusif tidak lagi hanya dipandang sebagai pemenuhan hak dasar atau bentuk empati moral, melainkan sebagai investasi strategis negara untuk melahirkan talenta unggul sekaligus pemantik kemajuan sains dan teknologi nasional.

Perspektif tersebut mengemuka pada Kegiatan Sarasehan dan Sosialisasi Pembentukan Unit Layanan Disabilitas (ULD) Perguruan Tinggi bertema “Asesmen Modalitas Perguruan Tinggi yang Inklusif bagi Perguruan Tinggi di lingkungan LLDikTi Wilayah III” yang diselenggarakan di Auditorium Kampus 2 Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida), Jakarta Barat, Selasa (20/10/2026).

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI (Wamendikti Saintek), Prof. Stella Christie, Ph.D., menegaskan bahwa keberadaan mahasiswa penyandang disabilitas di kampus harus menjadi kesadaran bersama yang menguntungkan semua pihak, baik bagi individu maupun negara.

"Bukan saja kita melihat bahwa pendidikan inklusif adalah hak untuk semua individu di Indonesia yang harus dipenuhi oleh negara. Tetapi saya juga melihatnya, bukan saja penyandang disabilitasnya yang perlu, tetapi negaralah yang butuh agar talenta-talenta ini bisa sungguh-sungguh menjadi talenta yang berhasil. Kalau mereka tidak mandiri dan bergantung, negara juga yang rugi," ujar Stella Christie.

Kemdiktisaintek mencatat, dari sekitar 4.500 perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia, baru sekitar 200-an kampus yang telah memiliki Unit Layanan Disabilitas (ULD). Untuk mengakselerasi pembentukan ULD yang tepat sasaran, pemerintah meluncurkan program Asesmen Modalitas.

Stella juga menyoroti pentingnya ULD bekerja secara aktif dan kreatif dalam mencari peluang riset dan pendanaan, bukan sekadar menunggu bantuan.

Stella mencontohkan ketersediaan alokasi dana riset pengabdian masyarakat hingga program Mahasiswa Berdampak di Kemendikti Saintek yang dapat dimanfaatkan untuk merancang teknologi asistif (assistive technology).

"Inilah kenapa begitu ada satu penyandang disabilitas di kampus, misalnya seperti di Ukrida, dosen atau mahasiswa sekitarnya akan tergerak untuk membuat teknologi asistif. Bahkan risetnya tidak hanya dilakukan oleh penyandang disabilitas, tetapi seluruh komunitas kampusnya" tambahnya.

Diforum yang sama, Komisioner Komisi Nasional Disabilitas (KND), Joanna Aman Damanik, menyambut positif pergeseran arah kebijakan inklusi di tingkat pendidikan tinggi.

"Hari ini kami bersyukur Bu Stella mentransformasi paradigma baru. Kalau selama ini advokasi kami selalu berbasis moral dan kebijakan, ternyata beyond dari itu, negara hadir dengan mentransformasi paradigmanya. Kesempatan ini jangan disia-siakan buat teman-teman disabilitas di seluruh Indonesia, bahwa saatnya kita membuktikan negara hadir," ungkap Joanna.

Sedangkan dari sisi implementasi wilayah, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah III, Dr. Henry Tambunan, S.E., M.A., menegaskan komitmennya untuk mendampingi perguruan tinggi swasta (PTS) khususnya di wilayah Jakarta dan sekitarnya dalam mendirikan ULD

"Tindak lanjutnya, yang pertama tentu kita akan dorong perguruan tinggi untuk membentuk ULD. Kedua, kita mengharapkan tidak hanya sekedar mempunyai ULD, tetapi bagaimana perguruan tinggi mengimplementasikan nilai-nilai inklusivitas," papar Henry. (AdWi/@Ng).

Berita terkait

Cegah Stunting di Wilayah Kepulauan, DP3AKB Taliabu Salurkan 28 Paket Nutrisi untuk Keluarga Berisiko

Cegah Stunting di Wilayah Kepulauan, DP3AKB Taliabu Salurkan 28 Paket Nutrisi untuk Keluarga Berisiko

Taliabu- Spektroom : Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Pulau Taliabu menyalurkan 28 paket nutrisi dan makanan bergizi kepada Keluarga Risiko Stunting (KRS) di Desa Minton dan Desa Wahe, Selasa (20/10/2026). Intervensi melalui program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) ini ditujukan untuk membantu

Nanang Adrany, Buang Supeno
GENTING Salurkan Bantuan untuk Lima Keluarga di Taliabu, Perangi Stunting dari Akar Persoalan

GENTING Salurkan Bantuan untuk Lima Keluarga di Taliabu, Perangi Stunting dari Akar Persoalan

Taliabu - Spektroom : Upaya menekan risiko stunting di Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara, diperkuat melalui penyaluran bantuan Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) kepada lima Keluarga Berisiko Stunting (KRS) di Desa Talo, Kecamatan Taliabu Barat, Selasa (20/10/2026). Bantuan tersebut disalurkan oleh Perwakilan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/

Nanang Adrany, Buang Supeno