Tujuh Armada Helly Dikerahkan Kalbar Perangi Karhutla
Pontianak - Spektroom : Dari ruang Command Center Pusdalops BPBD Kalimantan Barat, layar-layar monitor terus menampilkan titik-titik merah yang muncul dan menghilang. Di bawah sana, hamparan gambut yang mengering menjadi ancaman yang tak pernah benar-benar pergi setiap musim kemarau tiba.
Perlawanan terhadap kebakaran hutan dan lahan tidak hanya berlangsung di darat. Di langit Kalbar, 7 armada udara bergerak tanpa lelah, menyisir asap, mencari titik panas, hingga menjatuhkan ribuan liter air ke lokasi kebakaran. Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan karhutla, suara baling-baling helikopter yang melintas bukan lagi sekadar kebisingan. Ia menjadi tanda harapan.
“Setiap kali terdengar suara helikopter, warga tahu ada bantuan yang datang,” ujar Daniel, Ketua Satgas Informasi BPBD Kalbar, Kamis (30/07/2026).
Di tengah teriknya musim kemarau, armada-armada itu menjadi garda depan yang bekerja dari udara. Tiga armada bertugas melakukan patroli dan pemantauan titik panas, sementara 4 helikopter water bombing berjibaku menjatuhkan air ke area yang terbakar.
Misi mereka tidak mudah. Bentangan Kalimantan Barat yang luas membuat setiap penerbangan menjadi perlombaan melawan waktu. Api bisa muncul di satu titik, lalu berpindah ke lokasi lain hanya dalam hitungan jam akibat hembusan angin dan kondisi lahan gambut yang kering. Pilot dan kru udara memulai hari bahkan sebelum sebagian besar warga terbangun.
Briefing dilakukan pagi dan malam untuk menentukan prioritas wilayah yang harus dijangkau. Setiap keputusan berarti upaya menyelamatkan lahan, hutan, bahkan permukiman warga dari ancaman kebakaran.
Pemerintah pusat juga memberikan perhatian khusus terhadap Kalbar yang menjadi salah satu daerah rawan karhutla nasional. Karena itu, jumlah armada udara diperkirakan masih bertambah dalam waktu dekat.
Meski armada udara menjadi simbol kekuatan penanganan karhutla, perjuangan sebenarnya tidak hanya berlangsung di langit. Di darat, petugas BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, relawan, hingga masyarakat peduli api terus bekerja memadamkan titik-titik api yang sulit dijangkau.
Ketika senja mulai turun dan asap perlahan menipis, helikopter-helikopter itu kembali ke pangkalan. Namun tugas mereka belum selesai. Esok pagi, mereka akan kembali terbang. Karena bagi Kalimantan Barat, setiap penerbangan bukan sekadar operasi pemadaman.
Ia adalah ikhtiar menjaga udara tetap bersih, melindungi hutan tetap hijau, dan memastikan masyarakat dapat menjalani hari tanpa dibayangi kabut asap yang pernah menjadi luka panjang di masa lalu.