Universitas Muslim Indonesia UMI Makassar Gelar Konfrensi Internasional Tingkat Asean dan Global
Makasar –Spektroom : Program Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia (UMI) menggelar International Conference on Sustainable Development and Its Impact in ASEAN and Global Context.
Ini sebagai forum akademik untuk membahas berbagai isu pembangunan berkelanjutan dari perspektif global, regional, dan nilai-nilai keislaman.
Konferensi internasional tersebut menghadirkan sejumlah akademisi dan peneliti dari berbagai negara, termasuk Indonesia, Malaysia, Jepang, Korea Selatan, India, Belanda, dan Spanyol.
Kegiatan ini menjadi wadah pertukaran gagasan, hasil riset, serta pengalaman dalam menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan. Digelar di Auditorium Aljibra Kampus UMI, Senin ( 08/6/2026)
Direktur Pascasarjana UMI, Prof. Dr. H. La Ode Husen, mengatakan pembangunan berkelanjutan dalam perspektif Islam bukan sekadar konsep modern, melainkan bagian dari amanah manusia sebagai khalifatullah fil ardh yang bertanggung jawab menjaga dan memakmurkan bumi.
“Kami menilai dalam Islam bahwa sasaran pembangunan berkelanjutan bukan hanya sekadar konsep modern, melainkan perwujudan tugas manusia sebagai khalifatullah fil ardh, pemimpin yang bertanggung jawab menjaga, merawat, dan memakmurkan bumi, bukan merusaknya,” ujar Prof La Ode Husen
Menurutnya, konferensi internasional tersebut diinisiasi sebagai wadah kolaborasi lintas disiplin ilmu untuk mencari solusi atas berbagai persoalan global yang semakin kompleks. Ia menekankan bahwa keberlanjutan tidak dapat diwujudkan oleh satu pihak saja.
“Kami percaya jalan menuju keberlanjutan tidak bisa ditempuh sendirian. Kita membutuhkan sinergi antara sains, teknologi, kebijakan publik, hingga pendekatan nilai-nilai agama dan moral,” katanya.
Sementara itu, Rektor UMI, Prof. Hambali Thalib, menegaskan bahwa kolaborasi budaya dan riset menjadi jembatan penting yang mampu menyatukan berbagai bangsa dalam menghadapi tantangan global.
Menurutnya, perguruan tinggi saat ini harus mengambil peran lebih besar sebagai pusat solusi bagi masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa dunia sedang menghadapi berbagai tantangan besar seperti perkembangan kecerdasan buatan, perubahan iklim, transisi energi, ketahanan pangan, ketidakpastian ekonomi global, hingga dinamika geopolitik. Karena itu, universitas tidak cukup hanya menjadi tempat belajar dan menghasilkan lulusan.
“UMI tidak ingin hanya menjadi penghasil ijazah. UMI ingin menjadi penghasil solusi,” tegas Prof Hambali
Sebagai bentuk komitmen tersebut, UMI terus memperkuat ekosistem riset dan inovasi. Hingga saat ini, UMI telah mencatatkan 511 hak cipta terdaftar serta dua merek terdaftar sebagai bagian dari upaya mendorong hilirisasi hasil penelitian dan penguatan inovasi kampus.
Ia menilai kawasan Indonesia Timur memiliki potensi besar sebagai laboratorium masa depan Indonesia. Kekayaan biodiversitas, sumber daya kelautan, energi hijau, mineral strategis, hingga ekonomi maritim menjadi modal penting untuk mendorong inovasi yang mampu bersaing di tingkat global.
“Dengan dukungan BRIN, UMI meyakini dapat berkembang menjadi pusat hilirisasi pangan dan industri nasional,” ujarnya.
Ketua Pengurus Yayasan Wakaf UMI, Prof. Masrurah Mokhtar, menyampaikan bahwa konferensi ini merupakan ikhtiar intelektual untuk mempertemukan gagasan riset dan pengalaman dari berbagai negara. .
Ia berharap forum tersebut mampu menghasilkan rekomendasi yang aplikatif dalam bentuk policy brief yang dapat dimanfaatkan pemerintah, industri, dan masyarakat ASEAN.
Dalam sesi utama konferensi, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, menekankan pentingnya penelitian berbasis data dan bukti ilmiah untuk menjawab berbagai target Sustainable Development Goals (SDGs) yang menjadi komitmen global hingga tahun 2030.