Berkah Bola di Cangkir Kopi Husin: Kisah UMKM yang "Juara" di Balik Megahnya Piala Dunia 2026
Jakarta - Spektroom : Di balik gemerlap turnamen dan angka triliunan rupiah, ajang nonton bareng menjadi penyelamat dapur para pedagang kecil di tengah lesunya daya beli.
Laga final Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Spanyol dan Argentina memang belum berakhir.
Pertandingan puncak tersebut dijadwalkan berlangsung pada hari ini, Senin, 20 Juli 2026 pukul 02.00 WIB (atau Minggu malam waktu setempat) di Stadion MetLife (New York/New Jersey), Amerika Serikat.
Di atas rumput hijau, tim nasional Belanda mungkin sudah angkat koper lebih awal, mematahkan hati para pendukung setianya. Namun, bagi Husin, kesedihan itu sama sekali tidak menyurutkan senyumnya. Malam itu, di bawah riuhnya sorak-sorai penonton di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, dagangan Husin justru keluar sebagai juara.
Husin adalah satu dari sekian banyak pedagang kopi dan minuman dingin keliling yang menggantungkan nasib pada riuhnya layar lebar acara nonton bareng (nobar). Di tengah situasi ekonomi yang menantang dan keluhan para pedagang tentang lesunya daya beli masyarakat, momentum Piala Dunia hadir bagai katup penyelamat.
"Lumayan, Pak, buat dapur di rumah dan anak sekolah," ujar Husin sambil sibuk menyeduh kopi dan mengocok es Nutrisari pesanan pelanggan. Bagi Husin, riuh rendah gol di layar kaca adalah bunyi gemerincing rezeki bagi keluarganya.
Perputaran Triliunan Rupiah hingga ke Akar Rumput
Cerita sukses Husin di Lapangan Banteng adalah potret kecil dari gelombang ekonomi yang jauh lebih besar. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mencatat bahwa aktivitas Piala Dunia 2026 baik yang disiarkan di televisi (on-air) maupun kegiatan komunitas di lapangan (off-air) berhasil mencetak perputaran ekonomi langsung dan tidak langsung hingga Rp5,03 triliun.
Menurut Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pemberdayaan Ekonomi Daerah, Kukrit Suryo, angka fantastis ini bergerak sejak masa persiapan hingga turnamen berakhir. Alirannya mencakup belanja iklan yang masif, sponsor, penjualan perangkat elektronik, hingga perhotelan, kafe, dan restoran (Horeka).
Namun, Kukrit menegaskan bahwa berkah ini tidak hanya monopoli perusahaan raksasa.
"Piala Dunia 2026 menghadirkan peluang ekonomi bagi hotel, restoran, kafe, pedagang makanan, pelaku industri kreatif, penyedia jasa, hingga UMKM di berbagai daerah," jelasnya dalam pernyataan resmi di Jakarta, Kamis (16/7/202)
Menghidupkan Ekonomi Komunitas
Data di lapangan menguatkan bahwa demam bola ini benar-benar menyentuh masyarakat paling bawah. Survei terbaru dari Lokadata menunjukkan betapa tingginya antusiasme warga sekaligus dampak instan terhadap dompet UMKM.
Sebanyak 78,1 persen responden mengaku ikut nobar minimal satu kali selama turnamen. Dari sana, tercatat rata-rata pengeluaran warga mencapai Rp51 ribu per kegiatan nobar, atau sekitar Rp145 ribu per orang sepanjang turnamen berlangsung.
"Sebagian besar pengeluaran itu digunakan untuk membeli makanan dan minuman, paket data, serta berbagai kebutuhan pendukung lainnya, sehingga manfaat ekonominya banyak dirasakan oleh pelaku UMKM," ungkap Chief Data Officer Lokadata, Suwandi Ahmad.
Ketika peluit panjang tanda berakhirnya Piala Dunia ditiup, turnamen ini tidak hanya meninggalkan catatan sejarah tentang tim mana yang mengangkat trofi. Bagi para pelaku usaha mikro seperti Husin, Piala Dunia 2026 adalah sebuah harapan nyata yang berhasil menyambung asap di dapur mereka.