Usaha Bawang Merah dan Bawang Putih Goreng Belum Maksimal Dikembangkan Di Kalsel

Usaha Bawang Merah dan Bawang Putih Goreng Belum Maksimal Dikembangkan Di Kalsel
Bawang merah dan bawang putih goreng yang dijual Pelaku Usaha UMKM di Banjarmasin.(Foto Junaidi/Spektroom)

Junaidi, Agung Yunianto

Banjarmasin-Spektroom : Bawang merah goreng dan bawang putih goreng, yang dijual oleh Pelaku UMKM sangat membantu Masyarakat, khususnya Para Ibu (dan tidak jarang Bapak-bapak yang suka bawang merah maupun bawang putih goreng) dalam menyajikan menu untuk Keluarga. Sayang sekali masih banyak Pelaku UMKM yang menggeluti usaha ini tidak dibantu oleh Lembaga Keuangan maupun Perbankan. Jika dibantu, masih kecil dan sulit. Kenapa ya? Ternyata fenomena ini memang menarik. Produk sederhana seperti bawang goreng UMKM sebenarnya punya “napas panjang” di dapur Masyarakat. Hampir setiap rumah membutuhkannya. Tapi ketika Pelaku Usahanya ingin naik kelas, sering seperti berjalan di lorong sempit : permintaan ada, tenaga ada, tapi modal dan dukungan terasa jauh.

Direktur Utama Bank Kalsel Fahrudin

Direktur Utama Bank Kalsel Fahrudin menyatakan setuju terhadap hal ini.

"Kami berupaya memperluas jaringan Kantor untuk layanan UMKM khususnya kredit kepada Pelaku Usaha Mikro seperti ini. Juga membuka layanan Adink (Laku Pandai Bank Kalsel) kerja sama dengan Agen untuk perluasan jaringan dan layanan. Juga kerjasama dengan beberapa Pemda untuk penyaluran Kredit Mikro di wilayah Kalsel," kata Fahrudin, dalam Chat Wanya yang diterima Minggu (24/5/2026) pagi.

Katanya, pembinaan Usaha Mikro juga dilakukan untuk peningkatan pengelolaan, permudah akses, pencatatan keuangan dan aspek pemasaran serta digitalisasi pemasarannya.

"Perlu usaha bersama untuk perkuatan dan akses pembiayaan dan pemasaran produknya," pungkasnya.

Sulitnya usaha ini berkembang, ternyata ada beberapa alasan kenapa Lembaga Keuangan atau Perbankan masih terlihat “dingin” terhadap usaha seperti ini, karena :

Tidak punya agunan kuat, Banyak UMKM bawang goreng berjalan dari dapur rumah. Bank biasanya meminta jaminan seperti sertifikat tanah, kendaraan, atau aset lain. Sementara pelaku usaha kecil sering tidak punya itu, atau takut menjaminkan miliknya.

Pencatatan keuangan belum rapi. Banyak UMKM sebenarnya untung, tetapi uang usaha bercampur dengan uang rumah tangga. Bank lebih mudah percaya pada angka yang tercatat. Kalau pemasukan dan pengeluaran belum tertib, usaha dianggap berisiko.Nilai pinjaman kecil. Bagi Bank besar, pembiayaan UMKM Mikro kadang dianggap “biaya pelayanan tinggi, keuntungan kecil”. Mengurus pinjaman Rp5 juta sampai Rp20 juta hampir sama rumitnya dengan pinjaman besar. Akibatnya usaha kecil sering kurang diprioritaskan. Selain itu. Ada alasan lain, seperti usaha dianggap rentan fluktuasi, karena

harga bawang naik turun seperti ombak pasar . Saat harga bawang mentah melonjak, keuntungan UMKM bisa menipis. Bank kadang khawatir kemampuan bayar cicilan terganggu. Persoalan lainnya seperti informasi program bantuan tidak sampai. Padahal sebenarnya ada KUR (Kredit Usaha Rakyat) dan beberapa program Pemerintah. Tetapi banyak pelaku UMKM kurang mendapat pendampingan cara mengaksesnya. Ada yang bingung syaratnya, ada yang takut prosesnya rumit.

Padahal kalau dibina serius, usaha seperti ini bisa berkembang besar, karena membuka lapangan kerja, membantu Petani bawang, mendukung ketahanan pangan keluarga, dan bahkan menjadi produk khas Daerah.*****

Berita terkait

Berbagai Bantuan Sosial dan Pendidikan Yang Disalurkan LazisMu Al Furqan Mencapai 12 juta 500 Ribu Rupiah

Berbagai Bantuan Sosial dan Pendidikan Yang Disalurkan LazisMu Al Furqan Mencapai 12 juta 500 Ribu Rupiah

Junaidi, Agung Yunianto Banjarmasin-Spektroom : Para Penerima Manfaat dalam Program kegiatan yang digelar sukses oleh LazisMu Al Furqan Banjarmasin, Sabtu (23/5/2026) siang, sangat bergembira dan terbantu. Salah satunya, Mahlan sebagai Marbot Masjid yang mendapat bantuan sembako, mengaku sangat membantu kehidupannya dalam kesehariannya. "Yang mana tadinya anggarannya untuk membeli

Junaidi