Walikota Respati Dorong Pendidikan Tertib Lalu Lintas, Life Skill dan Kemanusiaan Masuk Sekolah
Surakarta – Spektroom: Pendidikan anak tidak cukup hanya mengejar nilai akademik. Kemampuan tertib di jalan, mengurus kebutuhan diri sendiri hingga peduli kepada orang lain juga perlu ditanamkan sejak bangku sekolah.
Hal tersebut menjadi perhatian Pemerintah Kota Surakarta yang mendorong materi pendidikan tertib berlalu lintas, life skill atau kecakapan hidup, serta pendidikan kemanusiaan masuk dalam kurikulum sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP), baik negeri maupun swasta.
Menurut Wali Kota Surakarta Respati Ardi, sekolah memiliki tanggung jawab tidak hanya membentuk kemampuan intelektual, tetapi juga karakter, kedisiplinan, kemandirian dan kepedulian sosial peserta didik.
“Pendidikan bukan hanya soal nilai akademik. Anak-anak harus dibekali dengan kedisiplinan, kecakapan hidup, kepedulian dan rasa kemanusiaan. Ini yang harus kita tanamkan sejak dini,” ungkap Respati dalam rapat koordinasi kepala sekolah SD dan SMP se-Kota Surakarta di Balai Tawang Arum, Kompleks Balai Kota Surakarta, Senin (14/9/2026).
Salah satu materi yang akan diperkuat adalah pendidikan tertib berlalu lintas. Anak-anak dikenalkan dengan aturan dasar di jalan, kedisiplinan, etika menggunakan jalan, serta pentingnya menghormati dan menjaga keselamatan pengguna jalan lainnya.
Respati menilai budaya tertib berlalu lintas perlu dibangun sejak usia sekolah agar menjadi kebiasaan ketika anak tumbuh dan mulai menjadi pengguna jalan.
“Anak-anak kita sejak dini harus memahami disiplin di jalan. Ketika menjadi pengguna jalan, mereka tahu aturan, tahu bagaimana menjaga keselamatan dan menghargai orang lain,” ujarnya.
Pendidikan life skill juga akan diarahkan pada kemampuan praktis yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Salah satunya melalui kebiasaan mencuci dan melipat pakaian sendiri.
Menurut Respati, kegiatan yang terlihat sederhana tersebut justru dapat mengajarkan anak untuk mandiri dan bertanggung jawab terhadap kebutuhan dirinya.
“Life skill ini sederhana. Anak diajarkan mencuci bajunya sendiri, melipat bajunya sendiri. Hal-hal seperti ini mungkin terlihat kecil, tetapi penting untuk membangun kemandirian dan tanggung jawab,” jelasnya.
Penerapannya akan disesuaikan dengan usia dan kemampuan peserta didik, sehingga pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui praktik dalam kehidupan sehari-hari.
Selain kedisiplinan dan kemandirian, Pemkot Surakarta juga ingin menanamkan kembali nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial kepada anak-anak.
Pembiasaan dapat dilakukan melalui hal-hal sederhana, seperti menjenguk teman atau keluarga yang sakit, melayat ketika ada yang meninggal dunia, serta berbagai bentuk kepedulian terhadap sesama.
Respati berharap ketiga materi tersebut dapat membentuk generasi Surakarta yang tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga disiplin, mandiri dan memiliki empati.
Ia menegaskan, pendidikan karakter merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, sekolah, guru, orang tua dan masyarakat.
“Nilai-nilai tersebut perlu dipraktikkan secara konsisten agar tidak berhenti sebagai teori, melainkan menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari,” tegas Respati. (Ciptati Handayani)