Trending

Warga Suku Tengger Ramaikan Puncak Hari Raya Adat Karo, Lakukan Nyadran Sejauh Tiga Kilometer

Warga Suku Tengger Ramaikan Puncak Hari Raya Adat Karo, Lakukan Nyadran Sejauh Tiga Kilometer
Warga masyarakat suku Tengger di Ranupani, kecamatan Senduro, kabupaten Lumajang, meramaikan puncak Hari Raya Adat Karo. (Foto : Diskominfo Lumajang)

Lumajang-Spektroom : Dari rumah Romo Dukun, warga berjalan sejauh tiga kilometer menuju makam leluhur sambil membawa tamping, hidangan berupa nasi dan lauk yang telah disiapkan dari rumah. Anak-anak hingga orang dewasa mengikuti perjalanan tersebut dengan tertib.

Bagi masyarakat suku Tengger di Ranupani, kecamatan Senduro, kabupaten Lumajang, perjalanan itu merupakan bagian dari Nyadran, yang menjadi puncak rangkaian perayaan Hari Raya Karo. Tradisi tersebut mempertemukan penghormatan kepada leluhur dengan semangat gotong royong dan kebersamaan warga, seraya merawat tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Berjalan untuk Mengingat Leluhur

Nyadran menjadi bagian penting dalam perayaan Hari Raya Karo. Warga mendatangi makam leluhur untuk berdoa, menabur bunga, serta mengungkapkan penghormatan dan rasa syukur atas kehidupan yang mereka jalani.

Bagi Mamik Forinta, warga Suku Tengger, Nyadran bukan hanya tentang mendatangi makam. Tradisi tersebut menjadi kesempatan untuk kembali mengingat perjuangan para leluhur sekaligus mensyukuri kehidupan masyarakat yang bergantung pada kesuburan tanah.

"Ini kita menghormati dan mengingat perjuangan para leluhur. Juga bersyukur kita disini bertani, nanam kentang, bawang, itu tanahnya subur," kata Mamik di Desa Ranupani, Sabtu (15/8/2026).

Apa yang dibawa warga pun memiliki tempat dalam rangkaian tradisi tersebut. Tamping yang dibawa dari rumah berisi hidangan sehari-hari dan menjadi bagian dari prosesi Nyadran.

"Nama makanannya itu tamping yang isinya berupa masakan sehari-hari," ujarnya.

Sesampainya di makam, warga bergantian menjalankan doa dan menaburkan bunga. Perjalanan yang sejak awal dilakukan bersama kemudian berlanjut dalam prosesi penghormatan kepada leluhur.

Adat yang Menyatukan 

Namun, yang terlihat dalam Nyadran bukan hanya rangkaian ritual. Tradisi tersebut juga memperlihatkan bagaimana adat menjadi ruang kebersamaan masyarakat Tengger di tengah keberagaman keyakinan.

Ketua Pelestari Adat Sampurno menjelaskan bahwa masyarakat Tengger tetap menjaga ketentuan adat bersama meskipun memiliki keyakinan agama yang berbeda.

Menurutnya, keyakinan merupakan ranah pribadi, sedangkan adat menjadi kesepakatan bersama masyarakat.

"Pada intinya semua masyarakat itu walaupun agama beda-beda, tapi harus mengikuti peraturan adat. Kalau agama itu keyakinan masing-masing. Kalau adat itu yang punya masyarakat. Jadi bersama dilaksanakan dan dijaga," tutur Sampurno.

Penjelasan tersebut memperlihatkan adanya ruang bersama dalam kehidupan masyarakat: keyakinan tetap menjadi ranah masing-masing, sementara adat dijaga sebagai bagian dari kesepakatan sosial.

Menurut Sampurno, masyarakat tidak harus menjadikan seluruh tradisi adat sebagai keyakinan pribadi. Nilai-nilai baik yang terkandung di dalamnya justru dapat dirawat bersama untuk menjaga hubungan sosial dan kehidupan masyarakat.

Ketika Tradisi Diteruskan

Pelestarian budaya pada akhirnya bukan hanya tentang mempertahankan sebuah ritual. Di dalam Nyadran terdapat penghormatan kepada leluhur, rasa syukur atas kehidupan, gotong royong, serta kebersamaan. Nilai-nilai tersebut terus hidup ketika masyarakat menjalankannya, memahaminya, dan mengenalkannya kepada generasi berikutnya.

Anak-anak yang ikut berjalan bersama orang dewasa menjadi bagian dari proses tersebut. Mereka tidak hanya menyaksikan sebuah tradisi, tetapi hadir dan mengalami langsung bagaimana masyarakat menjalankan warisan leluhurnya.

Tiga kilometer perjalanan menuju makam leluhur pun menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana sebuah tradisi dapat tetap hidup: dijalankan bersama, dimaknai bersama, dan diwariskan bersama.

Di lereng Semeru, langkah warga Ranupani pada perayaan Hari Raya Karo 2026 menjadi bagian dari cara masyarakat Tengger menjaga identitas budaya sekaligus merawat kebersamaan yang telah menjadi kekuatan komunitas mereka.

Sebab, warisan budaya tidak hanya tinggal di masa lalu. Ia tetap hidup setiap kali sebuah generasi memilih untuk menjalankannya dan memperkenalkannya kepada generasi setelahnya. (Sumber: Diskominfo Lumajang)

Berita terkait

Peringatan 100 Tahun INS Kayutanam, Gubernur Sumbar: Pendidikan Harus Tumbuhkan Potensi dan Kemandirian Peserta Didik

Peringatan 100 Tahun INS Kayutanam, Gubernur Sumbar: Pendidikan Harus Tumbuhkan Potensi dan Kemandirian Peserta Didik

Padang Pariaman-Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Mahyeldi Ansharullah menegaskan bahwa pendidikan harus mampu menggali dan mengembangkan potensi setiap peserta didik agar tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, kreatif, dan memiliki keunggulan sesuai bakat serta kemampuannya masing-masing. Hal tersebut disampaikan Mahyeldi saat menghadiri sekaligus menjadi narasumber Seminar Nasional dalam rangka Peringatan

Rafles
Pemkot Sawahlunto Gandeng BKN Regional XII Pekanbaru Gelar Profiling ASN untuk 150 Pejabat

Pemkot Sawahlunto Gandeng BKN Regional XII Pekanbaru Gelar Profiling ASN untuk 150 Pejabat

Sawahlunto-Spektroom : Pemerintah Kota Sawahlunto terus memperkuat manajemen talenta Aparatur Sipil Negara (ASN). Bekerjasama dengan Kantor Regional XII Badan Kepegawaian Negara (BKN) Pekanbaru, Pemkot Sawahlunto melaksanakan Penilaian Potensi dan Kompetensi ASN melalui Program Profiling ASN (ProASN). Dilansir dari akun resmi BKPSDM Sawahlunto,Minggu (1/11/2026) kegiatan strategis tersebut dilaksanakan

Riswan Idris, Rafles
Pesparawi Sleman 2026 Jadi Ruang Pererat Kerukunan dan Kembangkan Bakat Paduan Suara

Pesparawi Sleman 2026 Jadi Ruang Pererat Kerukunan dan Kembangkan Bakat Paduan Suara

Sleman-Spektroom : Seni paduan suara tidak hanya menjadi ruang untuk mengekspresikan kreativitas, tetapi juga dapat menjadi sarana mempererat persaudaraan dan membangun kerukunan di tengah keberagaman masyarakat. Nilai tersebut menjadi salah satu pesan dalam penyelenggaraan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Kabupaten Sleman Tahun 2026. Bupati Sleman, Harda Kiswaya, membuka Pesparawi 2026

Fatmawaty, Bian Pamungkas