Wisuda Angkatan XIII UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Rektor Tekankan Sarjana Berdampak
Bukittinggi-Spektroom : Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi Prof. Dr. Hj. Silfia Hanani, S.Ag.M.Si berpesan kepada para lulusan agar tidak berhenti hanya pada pencapaian gelar akademik. Lebih dari itu, para alumni diharapkan mampu hadir sebagai sarjana berdampak yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Pesan tersebut disampaikan Prof. Silfia Hanani saat memberikan sambutan pada hari pertama Wisuda Angkatan XIII UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Rabu (16/9/2026), di Auditorium Student Centre kampus tersebut.
Pada hari pertama, sebanyak 851 wisudawan dan wisudawati dikukuhkan, yang berasal dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), Fakultas Syariah, serta Program Pascasarjana.
Di hadapan para wisudawan, Guru Besar Sosiologi Pendidikan tersebut menegaskan bahwa perjalanan pendidikan di perguruan tinggi bukanlah garis akhir. Wisuda justru menjadi pintu masuk menuju perjalanan yang lebih luas, yakni mengimplementasikan ilmu dan kecerdasan yang telah diperoleh selama menempuh pendidikan.
“Lulusan bukan tamat di universitas, namun lebih besar dari itu. Manusia harus mampu berpikir kritis, memiliki hati dan nilai-nilai kemanusiaan, serta tidak kehilangan etika dan karakter,” pesan Silfia.
Ia berharap para alumni UIN Bukittinggi mampu ikut menentukan arah masa depan bangsa melalui keilmuan, kreativitas, integritas, serta kepedulian sosial yang dimiliki.
Ada lima pesan penting yang ditekankan Rektor kepada para wisudawan sebelum mereka kembali ke tengah masyarakat.
Pertama, jangan pernah berhenti belajar. Sebab, dunia terus berubah dan ilmu pengetahuan berkembang tanpa batas. Gelar sarjana bukanlah tanda bahwa proses belajar telah selesai, melainkan awal dari pembelajaran yang sesungguhnya di tengah kehidupan.
Kedua, jangan tinggalkan integritas. Kecerdasan tanpa kejujuran, menurutnya, akan kehilangan makna. Integritas menjadi fondasi penting bagi setiap alumni ketika memasuki dunia kerja, dunia usaha maupun kehidupan sosial.
Ketiga, jangan tinggalkan teknologi. Kemajuan teknologi harus dipahami dan dimanfaatkan sebagai sarana untuk melahirkan inovasi dan karya yang bermanfaat.
Keempat, jangan lupa pada akar jati diri. Kemajuan zaman tidak boleh membuat generasi muda kehilangan nilai, budaya, identitas dan karakter yang menjadi bagian dari dirinya.
Kelima, jadilah manusia yang bermanfaat.
“Jangan berhenti belajar, jangan tinggalkan integritas, jangan tinggalkan teknologi, jangan lupa pada akar jati diri, serta jadilah manusia bermanfaat,” tegasnya.
Silfia juga mengingatkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan salah satu keunggulan yang harus dimiliki lulusan UIN Bukittinggi.
Namun, kemajuan tersebut harus berjalan beriringan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Menjadi manusia berilmu, katanya, tidak cukup apabila kehilangan kepedulian, etika dan karakter.
Sarjana berdampak bukan sekadar mereka yang memiliki gelar, tetapi mereka yang mampu mengubah ilmu menjadi karya, kecerdasan menjadi solusi, dan keberadaan menjadi kemanfaatan.
Hari Kedua, 883 Wisudawan Kembali Dikukuhkan
Rangkaian Wisuda Angkatan XIII UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi berlanjut pada Kamis 17 September 2026).
Pada hari kedua, wisuda diperuntukkan bagi lulusan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) serta Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah (FUAD), dengan jumlah keseluruhan sebanyak 883 wisudawan dan wisudawati.
Dengan demikian, rangkaian dua hari Wisuda Angkatan XIII tersebut menjadi momentum penting bagi ribuan lulusan UIN Bukittinggi untuk membuka lembaran baru dalam perjalanan kehidupan mereka.
Wisuda akhirnya bukan tentang berakhirnya sebuah perjalanan pendidikan. Ia adalah awal dari pertanyaan yang lebih besar: setelah menjadi sarjana, apa yang akan dilakukan dengan ilmu yang telah dimiliki?
Dan di situlah makna “sarjana berdampak” menemukan tempatnya-ketika ilmu tidak berhenti menjadi pengetahuan, tetapi bergerak menjadi amal, karya, perubahan dan kemanfaatan bagi sesama. (Rita)