12 Ribu Pelajar Sukmajaya Disaring: Anemia, Asap Rokok, hingga Kesehatan Jiwa Dibidik

12 Ribu Pelajar Sukmajaya Disaring: Anemia, Asap Rokok, hingga Kesehatan Jiwa Dibidik
Puskesmas Sukmajaya tahun 2026 lakukan pemeriksaan kesehatan gratis di kelurahan mekarjaya dan tirtanaya foto dok spektroom, selasa (11/8/2026)

Depok-Spektroom: Lebih dari 12 ribu pelajar di wilayah kerja UPTD Puskesmas Sukmajaya menjadi sasaran pemeriksaan kesehatan. Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah 2026 tak sekadar mengukur tinggi dan berat badan, tetapi juga membidik persoalan yang kerap luput dari perhatian: anemia, paparan asap rokok, hingga kesehatan jiwa remaja.

Sebanyak 12.447 pelajar dari jenjang SD hingga SMA sederajat masuk dalam sasaran program tersebut. Pemeriksaan dilakukan dengan mendatangi sekolah-sekolah di Kelurahan Mekarjaya dan Tirtajaya sesuai jadwal pelayanan.

Kepala UPTD Puskesmas Sukmajaya, Helda Ika Setyarini, mengatakan sasaran terbesar berasal dari jenjang SD/MI sederajat, yakni 7.088 siswa. Berikutnya 3.759 siswa SMP/MTs sederajat dan 1.600 siswa SMA/MA sederajat.

"Total sasaran tersebut berada di Kelurahan Mekarjaya dan Tirtajaya, mulai dari tingkat SD hingga SMA sederajat," kata Helda, Selasa (11/8/2026).

Pada siswa SD/MI, pemeriksaan difokuskan pada kondisi kesehatan dasar. Petugas memeriksa kebersihan diri, mata, telinga, gigi, serta pertumbuhan anak melalui pengukuran tinggi dan berat badan.

Memasuki usia remaja, pemeriksaan menjadi lebih luas. Siswa SMP dan SMA menjalani pemeriksaan fisik, tekanan darah, serta pengukuran kadar hemoglobin (Hb). Pemeriksaan Hb terutama ditujukan untuk mendeteksi anemia pada remaja putri.

Puskesmas juga memasukkan paparan asap rokok dalam pemeriksaan. Kadar karbon monoksida (CO) diukur melalui cek napas. Skrining kesehatan jiwa dan perilaku remaja turut dilakukan.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan pelajar tidak selalu terlihat dari kondisi fisik. Anak yang tampak sehat secara kasatmata bisa saja mengalami anemia, terpapar asap rokok, atau menghadapi persoalan psikologis yang berpotensi mengganggu proses belajar.

Helda mengatakan deteksi dini menjadi alasan utama pemeriksaan dilakukan langsung di lingkungan sekolah.

"Harapannya dengan CKG ini masalah kesehatan anak sekolah dapat terdeteksi sedini mungkin. Dengan kondisi fisik dan mental yang sehat, anak-anak di Mekarjaya dan Tirtajaya dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar secara optimal," ujarnya.

Bagi Puskesmas Sukmajaya, pemeriksaan tersebut bukan sekadar kegiatan administratif. Hasil CKG diharapkan menjadi pintu masuk untuk menindaklanjuti temuan kesehatan sehingga persoalan tidak menunggu sampai menjadi gangguan yang lebih serius.

Dengan sasaran 12.447 pelajar, program CKG Sekolah 2026 sekaligus menguji seberapa dini sistem kesehatan mampu membaca persoalan kesehatan anak dan remaja—sebelum gejalanya mengganggu ruang kelas.

Berita terkait

Luthfi Bongkar Mentalitas “Buang Sampah, Pemerintah yang Urus”: WCD Diminta Jangan Sekadar Seremoni

Luthfi Bongkar Mentalitas “Buang Sampah, Pemerintah yang Urus”: WCD Diminta Jangan Sekadar Seremoni

Semarang- Spektroom: Sampah terus diproduksi, tetapi tanggung jawab mengurusnya masih kerap dilempar kepada pemerintah. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menilai pola pikir semacam itu harus diubah. Penanganan sampah, kata dia, tidak mungkin hanya dibebankan kepada pemerintah. Masyarakat, komunitas, dunia usaha hingga pemerintah daerah harus mengambil bagian sejak sampah dihasilkan. “Yang

Sigit Budi Riyanto, Buang Supeno
Pemkab Bogor Bongkar Kemiskinan dari Rumah ke Rumah: Satu Keluarga, Banyak Masalah

Pemkab Bogor Bongkar Kemiskinan dari Rumah ke Rumah: Satu Keluarga, Banyak Masalah

Bogor-Spektroom: Pemerintah Kabupaten Bogor tak ingin pengentasan kemiskinan berhenti pada penurunan angka statistik. Pemerintah mulai membedah persoalan kemiskinan hingga tingkat keluarga untuk memastikan setiap program benar-benar menyasar masalah yang dihadapi warga. Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor, Ajat Rochmat Jatnika, mengatakan kemiskinan kerap berjalan beriringan dengan persoalan lain. Satu keluarga miskin bisa

Asmari, Buang Supeno