30 Mahasiswa STIA Pembangunan Jember Turun ke Desa Selama 40 Hari
Jember - Spektroom: Sebanyak 30 mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Pembangunan Jember mulai turun ke masyarakat melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik dan program magang sekolah. Selama sekitar 40 hari, mereka akan ditempatkan di Desa Karangpring dan Desa Klungkung, Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Pelepasan mahasiswa berlangsung di Pendopo Kecamatan Sukorambi, Selasa (22/9/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Sekretaris Kecamatan Sukorambi Josias Anto Budi Nugroho, S.E., Kasi PMKS Yuni Soehono, S.Sos., Danposramil Sukorambi beserta jajaran, Polsek Sukorambi, serta Dosen Pembimbing Lapangan Dr. Nur Aini Mayasiana, S.AP., M.Si.
Josias mengatakan kehadiran mahasiswa di desa diharapkan tidak sekadar menjadi kegiatan akademik. Mahasiswa diminta mampu membaca persoalan masyarakat sekaligus membangun komunikasi dengan pemerintah desa dan warga.
“Kami menyambut baik kehadiran mahasiswa di Kecamatan Sukorambi. Selama berada di desa, kami berharap mahasiswa membangun komunikasi dengan pemerintah desa dan masyarakat, menjaga etika, serta memberikan kontribusi melalui kegiatan yang bermanfaat,” ujar Josias.
Menurut dia, interaksi langsung dengan masyarakat penting agar mahasiswa memahami kondisi sosial di lapangan. Pengetahuan yang diperoleh di kampus, kata dia, dapat diterapkan melalui kegiatan yang relevan dengan kebutuhan desa.
Dosen Pembimbing Lapangan Dr. Nur Aini Mayasiana juga meminta mahasiswa menjadikan KKN sebagai ruang belajar sekaligus pengabdian.
“Kami berterima kasih kepada Pemerintah Kecamatan Sukorambi yang telah menerima mahasiswa kami. Selama kurang lebih 40 hari, mahasiswa diharapkan dapat belajar dari masyarakat, membangun komunikasi yang baik, dan memberikan kontribusi sesuai kebutuhan desa,” ujarnya.
Nur Aini mengingatkan mahasiswa agar menjaga nama baik almamater selama menjalankan KKN. Mereka juga diminta menghormati norma yang berlaku di masyarakat dan berkoordinasi dengan pemerintah desa serta unsur terkait sebelum menjalankan program.
Sebanyak 30 mahasiswa kemudian dibagi ke Desa Karangpring dan Desa Klungkung. Mereka akan menjalankan program sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing desa.
Program tersebut sekaligus membuka ruang kolaborasi antara kampus, pemerintah desa, dan masyarakat. Mahasiswa tidak hanya membawa ilmu dari ruang kuliah, tetapi juga dituntut belajar dari persoalan nyata yang dihadapi warga.