53 Kelompok Adu Kreasi Masak Sambalado Tanak, Bukik Tui Barasok Hidupkan Tradisi Minangkabau
Padang Panjang—Spektroom : Aroma sambalado tanak yang dimasak menggunakan kayu bakar menyebar di kawasan Kelurahan Tanah Hitam, Kecamatan Padang Panjang Barat (PPB), Sabtu (22/8/2026). Sebanyak 53 kelompok ambil bagian dalam Lomba Memasak Sambalado Tanak yang digelar sebagai bagian dari rangkaian Bukik Tui Barasok untuk memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Lomba tersebut bukan sekadar adu kemampuan memasak. Tradisi kuliner khas Minangkabau dipadukan dengan pengenalan kembali cara memasak secara tradisional, sekaligus menjadi ruang interaksi masyarakat dalam merawat kebudayaan lokal.
Para peserta mengenakan baju kurung basiba, sementara sambalado tanak dimasak menggunakan balango dengan bahan bakar kayu. Suasana perlombaan pun terasa berbeda karena peserta tidak hanya dituntut menghasilkan cita rasa terbaik, tetapi juga membawa kembali atmosfer dapur tradisional Minangkabau.
Wakil Wali Kota Allex Saputra mengapresiasi kolaborasi pemerintah kelurahan dan masyarakat yang mampu mengemas perayaan kemerdekaan dengan kegiatan berbasis budaya.
“Kolaborasi dari lurah sangat luar biasa dengan adanya kegiatan ini. Sambalado Tanak ini bisa dimakan dengan semua lauk. Semoga kegiatan ini bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat Padang Panjang,” kata Allex.
Menurut Allex, lomba tersebut memiliki nilai edukasi yang penting, terutama dalam memperkenalkan kembali pengetahuan tradisional kepada generasi muda.
Cara memasak dengan peralatan sederhana dan bahan bakar kayu merupakan bagian dari pengetahuan kuliner yang diwariskan antargenerasi. Di tengah perubahan gaya hidup dan semakin praktisnya teknologi memasak, tradisi semacam ini dinilai penting agar tidak terputus.
“Tadi kita juga melihat ada beberapa peserta yang masih gadis-gadis. Ini memberikan ilmu kepada anak-anak muda kita tentang bagaimana kebudayaan kita di masa lalu, salah satunya memasak Sambalado Tanak ini,” ujarnya.
Sambalado tanak sendiri merupakan salah satu olahan bercita rasa pedas yang dikenal dalam tradisi kuliner Minangkabau. Proses memasaknya yang menggunakan balango dan api kayu memberikan karakter tersendiri pada kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari pengalaman budaya yang ditampilkan kepada masyarakat.
Allex juga mengingatkan bahwa pelestarian budaya sebaiknya berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan dan kebersihan kota.
“Dalam momentum HUT RI ini, mari kita jaga kota, kita jaga kebersihan dan lingkungan kita. Sehingga generasi kita ke depannya bisa melihat bersihnya kota kita,” tuturnya.
Bukik Tui Barasok tidak hanya menghadirkan lomba memasak. Sejumlah kegiatan pelayanan publik dan hiburan masyarakat turut digelar dalam rangkaian acara tersebut.
Di tengah arus modernisasi, kegiatan seperti lomba sambalado tanak menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tidak selalu harus dilakukan melalui panggung besar. Ia dapat dimulai dari dapur, tradisi makan bersama, pakaian adat, hingga keterlibatan generasi muda dalam mempraktikkan pengetahuan yang diwariskan para pendahulunya. (Ris1)