Api Mengintai di Bawah Gambut, 109 Karhutla Hanguskan 42 Hektare di Palangka Raya
Palangka Raya-Spektroom: Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya belum mereda. Meski dari kejauhan hanya terlihat kepulan asap tipis, bara api masih terus merambat di bawah permukaan tanah gambut, menyulitkan proses pemadaman di tengah musim kemarau yang mengeringkan parit dan kanal.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya mencatat sejak Januari hingga Juli 2026 terjadi 109 kasus karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 42,34 hektare. Kecamatan Jekan Raya menjadi wilayah paling terdampak dengan 74 kejadian, disusul Sebangau 19 kejadian, Pahandut 12 kejadian, dan Bukit Batu empat kejadian. Sementara Kecamatan Rakumpit hingga kini belum mencatat adanya kejadian karhutla.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Palangka Raya, Heri Pauzi, mengatakan upaya pemadaman terus dilakukan secara terpadu bersama BPBD Provinsi Kalimantan Tengah, Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Palangka Raya, TNI, Polri, serta para relawan.
Namun, operasi pemadaman menghadapi tantangan berat akibat kemarau panjang yang menyebabkan sumber air utama di parit dan kanal menyusut bahkan mengering. Kondisi itu memaksa petugas mencari sumber air alternatif dari sumur bor milik warga maupun pondok-pondok di sekitar lokasi kebakaran.
"Kemarau kering saat ini membuat tim di lapangan cukup kesulitan mendapatkan akses air untuk pemadaman karhutla. Petugas harus mencari sumber-sumber air yang masih tersedia di pondok lahan warga, bahkan tidak jarang lokasinya cukup jauh dari titik api," ujar Heri, Senin (27/7/2026).
Selain keterbatasan air, karakteristik lahan gambut menjadi tantangan tersendiri. Api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi juga merambat hingga ke lapisan tanah sehingga bara tetap menyala meski di permukaan hanya tampak asap tipis.
Menurut Heri, struktur tanah gambut yang berongga membuat asap sering muncul di lokasi berbeda dari sumber api. Akibatnya, petugas harus melakukan penyisiran secara teliti dan pembasahan berulang kali agar bara benar-benar padam. Jika masih tersisa, api berpotensi muncul kembali saat angin bertiup atau suhu udara meningkat.
BPBD menegaskan keberhasilan pengendalian karhutla tidak hanya bergantung pada kerja keras petugas di lapangan. Peran masyarakat dinilai sangat penting, terutama dengan tidak membuka lahan menggunakan api serta menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran.
Di tengah keterbatasan sumber air dan beratnya medan gambut, setiap titik api yang berhasil dipadamkan merupakan hasil sinergi berbagai pihak. BPBD pun mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau karena mencegah munculnya api sejak awal jauh lebih efektif dibandingkan memadamkan kebakaran yang telah meluas.. (Polin-Gusti)