Baret di Kepala, Kepemimpinan Dipertaruhkan: SMA Al Hikmah IIBS Batu Gembleng Generasi Muda
Batu - pektroom: Baret bukan sekadar atribut yang dikenakan siswa SMA Al Hikmah IIBS Batu. Di balik prosesi pembaretan, sekolah sedang menguji satu hal yang lebih penting: sejauh mana budaya kepemimpinan bisa ditanamkan sejak siswa berada di kelas X.
Sebanyak siswa-siswi kelas X angkatan Avgavira dan Pavithraca mengikuti prosesi pembaretan sebagai penanda kelulusan program Building Leadership Culture (BLC) 2026. Kegiatan berlangsung di Multi Purpose Hall (MPH) Batu), Sabtu (29/8/2026).
Ketua Pengurus Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Al Hikmah, Ustadz Dr. Mohammad Zahri, M.Pd., melakukan langsung prosesi pembaretan terhadap para siswa.
Kepala SMA Al Hikmah IIBS Batu, Ustadz Ahmad Fais, mengatakan BLC dirancang untuk membentuk siswa dengan kemampuan kepemimpinan, kedisiplinan dan kesamaptaan.
“Tujuannya membekali siswa dengan keterampilan kepemimpinan, kedisiplinan, dan kesamaptaan,” kata Ahmad Fais.
Pembentukan karakter itu tidak dilakukan melalui satu jenis pelatihan. Siswa mengikuti latihan kesamaptaan, pembekalan soft skill, matrikulasi akademik, tes bakat dan minat, serta mini research.
Sekolah memadukan pembentukan fisik dengan kemampuan akademik dan pengenalan potensi diri. Harapannya, siswa tidak hanya mampu mengikuti aturan, tetapi juga memahami alasan di balik kedisiplinan dan mampu mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Pembaretan sekaligus menjadi tradisi penamaan angkatan. Setiap kelompok siswa memiliki nama yang menjadi identitas perjalanan mereka selama menjalani pendidikan. Untuk 2026, nama Avgavira dan Pavithraca menjadi identitas angkatan tersebut.
Namun, tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah seremoni berakhir.
Baret dapat dikenakan dalam hitungan detik, sementara karakter kepemimpinan membutuhkan proses panjang. Karena itu, nilai yang diperoleh selama BLC dituntut tidak berhenti sebagai pengalaman pelatihan, tetapi menjadi kebiasaan dalam keseharian siswa.
SMA Al Hikmah IIBS Batu berharap program tersebut melahirkan generasi yang berkarakter, berpengetahuan dan memiliki jiwa kepemimpinan.
Sekolah juga menegaskan komitmennya menjadi rumah perubahan bagi anak-anak, sekaligus ruang bagi mereka untuk mengembangkan potensi dan mengejar cita-cita.
Bagi Avgavira dan Pavithraca, pembaretan hari itu bukan garis finis. Baret menjadi simbol bahwa perjalanan untuk menjadi pemimpin justru baru dimulai.