Bugis Mendunia: Jejak Abadi Sureq I La Galigo dalam Lintasan Sejarah Nusantara
Pontianak - Spektroom : Di antara warisan sastra terbesar yang pernah lahir di Nusantara, Sureq I La Galigo berdiri sebagai mahakarya yang melampaui batas ruang dan zaman.
Bagi masyarakat Bugis, Galigo bukan sekadar cerita masa lampau, melainkan ingatan kolektif yang hidup dalam sastra, silsilah, dan legenda yang tersebar luas di berbagai wilayah Indonesia Timur.
Menurut tradisi Bugis, kisah ini bermula ketika penguasa Langit, dunia atas, dan Peretiwi, dunia bawah, sepakat mengisi Kawa, dunia tengah yang masih kosong.
Dari langit diturunkan Batara Guru, putra Patoto, yang kemudian membentuk gunung, sungai, hutan, dan menghadirkan kehidupan.
Dari dunia bawah muncul We Nyiliq Timo dengan usungan kencana yang mengapung di atas buih lautan. Pertemuan keduanya menjadi awal mula peradaban manusia di Tanah Bugis.
Dari garis keturunan mereka lahirlah Batara Lattuq, yang kemudian memiliki 2 anak kembar emas: Sawerigading dan We Tenriabeng. Pada titik inilah kisah Galigo memasuki babak yang paling masyhur.
Sawerigading tumbuh sebagai tokoh pengembara yang menjelajahi berbagai negeri, dari Luwu hingga dunia roh, bahkan negeri yang disebut sebagai Cina dalam tradisi Bugis.
Ketika cintanya kepada saudara kembarnya tidak direstui, Sawerigading berlayar jauh mengikuti petunjuk We Tenriabeng untuk meminang We Cudaiq di Negeri Cina. Perjalanan itu melahirkan berbagai petualangan besar yang kemudian menjadi inti cerita Galigo.
Dari perkawinannya lahirlah I La Galigo, tokoh yang namanya kemudian diabadikan sebagai judul keseluruhan karya, meskipun dalam alur cerita ia lebih banyak tampil sebagai bagian dari generasi penerus.
Namun Galigo tidak berhenti sebagai cerita kepahlawanan. Dalam berbagai kronik kerajaan Bugis, kisah ini menjadi jembatan antara dunia mitologis dan sejarah.
Silsilah raja-raja di Sulawesi Selatan, Gorontalo, Sulawesi Tengah hingga Sulawesi Tenggara menyimpan jejak hubungan dengan tokoh-tokoh Galigo. Nama Sawerigading bahkan muncul dalam berbagai tradisi lisan sebagai leluhur atau kerabat para penguasa setempat.
Jejaknya juga tertanam dalam bentang alam Nusantara. Gunung yang terbelah, batu cadas, nekara kuno, hingga perahu yang membatu, dihubungkan oleh masyarakat dengan perjalanan Sawerigading.
Dari Malili, Toraja, Enrekang, Selayar, Mandar hingga Palu dan Parigi, legenda-legenda itu hidup sebagai penanda bahwa kisah Galigo telah menembus batas etnis dan bahasa.
Penyebaran cerita ini menunjukkan Luwu pada masa lampau tidak dipandang sebagai kerajaan kecil yang terasing. Ia hadir dalam ingatan kolektif sebagai pusat kekuasaan dan peradaban yang berpengaruh luas. Sulit membayangkan sebuah karya sastra dapat bertahan dan menyebar begitu jauh tanpa adanya wibawa budaya yang menopangnya.
Lebih dari itu, Sureq I La Galigo merupakan karya sastra yang unik. Ia sekaligus menjadi sastra suci, karena tokoh-tokohnya dipercaya memiliki kekuatan spiritual; sastra normatif, karena menjadi rujukan adat dan nilai kehidupan; serta sastra indah yang diwariskan melalui pembacaan berlagu dalam berbagai upacara adat.
Hingga kini, Galigo tetap menjadi salah satu mahakarya terbesar dunia. Bukan hanya karena panjangnya yang melebihi banyak epik terkenal, tetapi karena kemampuannya merawat ingatan tentang asal-usul, perjalanan manusia, dan hubungan antara dunia nyata dengan dunia mitos.
Dari Tanah Bugis, kisah itu terus bergema, menghubungkan masa lalu dengan masa kini, sekaligus menegaskan warisan budaya Nusantara memiliki tempat terhormat dalam khazanah peradaban dunia.
Diadaptasi dari kajian dan pemikiran Syafaruddin Daeng Usman tentang tradisi, sejarah, dan persebaran Sureq I La Galigo di Nusantara.