Dampak Karhutla: ISPA di Padang Capai 600 Kasus, Kualitas Udara Sumbar Turun
Padang-Spektroom : Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai dirasakan masyarakat Sumatera Barat. Kabut asap yang muncul memengaruhi kualitas udara dan memicu lonjakan kasus gangguan pernapasan. Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah menyebut, dalam beberapa hari terakhir kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Padang dilaporkan mencapai sekitar 600 kasus. Kenaikan itu diduga kuat dipicu kabut asap akibat karhutla. “Koordinasi dan sinergi antar pihak terkait terus diperkuat dalam penanganan karhutla, agar dampaknya terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat dapat diminimalisir,” ujar Mahyeldi di Padang, Jumat (4/9/2026). Mahyeldi mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama saat udara dipengaruhi kabut asap. Jika harus keluar rumah, masyarakat diminta menggunakan masker. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan diminta lebih waspada. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sumbar Kuartini Deti Putri menjelaskan, berdasarkan pemantauan 1–3 September 2026 pukul 14.00 WIB, tercatat 19 titik hotspot di Sumbar. Titik itu tersebar di Dharmasraya 5, Pesisir Selatan 5, Sijunjung 5, Pasaman 3, dan Lima Puluh Kota 1. Data SIPONGI juga mencatat hotspot cukup besar di provinsi tetangga: 2.422 titik di Sumatera Selatan, 301 di Jambi, 229 di Riau, 46 di Sumatera Utara, dan 13 di Bengkulu. Asap dari wilayah tersebut berpotensi terbawa angin ke Sumbar. Hasil pemantauan Stasiun AQMS Padang Pasir menunjukkan parameter PM2,5 dominan dengan rata-rata 19,88 µg/m³. Indikatif ISPU PM2,5 berada di rentang 55,9–58,4 atau kategori sedang. Masyarakat juga diminta untuk tidak membakar sampah dan lahan agar sumber asap baru tidak bertambah.