Dari Gang Norali ke Jalan Norali: Jejak Pendidikan, Kehidupan, dan Kenangan Pontianak Tempo Dulu

Dari Gang Norali ke Jalan Norali: Jejak Pendidikan, Kehidupan, dan Kenangan Pontianak Tempo Dulu
Syafaruddin DaEng Usman. Peminat kajian sejarah dan budaya Kalimantan Barat. (Foto: Dok Pribadi)

Oleh: Syafaruddin Daeng Usman

Pontianak,Spektroom - Di tengah pesatnya perkembangan Kota Pontianak, banyak nama jalan dan gang yang berubah mengikuti zaman.

Sejumlah ruas yang dahulu dikenal masyarakat dengan nama kolonial Belanda berganti menjadi nama baru yang lebih mencerminkan identitas lokal dan nasional.

Namun di antara berbagai perubahan itu, ada satu nama yang tetap bertahan sejak masa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, pemerintahan NICA hingga Indonesia merdeka, yakni Gang Norali yang kini dikenal sebagai Jalan Norali.

Nama Norali bukan sekadar penanda wilayah. Jalan ini menyimpan jejak sejarah panjang kehidupan masyarakat Pontianak, terutama dalam dunia pendidikan dan dinamika sosial pada era 1940-an.

Pada masa itu, Sekolah Rakyat (SR) Gang Norali atau SR I menjadi salah satu pusat pendidikan penting di kota ini. Salah satu guru yang dikenal adalah Engku Mohamad Saleh.

Ketika itu, Pontianak hanya memiliki dua Sekolah Rakyat enam tahun, yakni SR I Gang Norali dan SR II Kampung Melayu.

Sekitar tahun 1947, sejumlah murid dari SR Gang Norali dipindahkan ke SR Kampung Melayu. Di kelas enam, mereka bergabung dengan murid-murid setempat hingga berjumlah 28 orang.

Menariknya, hanya ada satu murid perempuan bernama Fatimah, sementara sisanya adalah murid laki-laki seperti Wan Usman, Mat Noh, Mat Awal, Mat Saleh Dinil, Mat Husin Sakman, Mat Tos, Hasri Aspas, dan Selamat Muslana.

Dari kelas sederhana itulah lahir sejumlah tokoh yang kemudian berkiprah dalam berbagai bidang.

Wan Usman, misalnya, melanjutkan pendidikan ke SMP yang berada di kawasan Jam Segitiga Pontianak dan kemudian meneruskan SMA di Pulau Jawa.

Di kemudian hari, ia dikenal sebagai salah satu tokoh pendidikan yang pernah menjabat Rektor Universitas Tanjungpura.

Kisah Gang Norali juga menggambarkan kehidupan masyarakat Pontianak pada masa pendudukan Jepang. Saat itu, kondisi ekonomi sangat sulit sehingga tidak banyak warga yang berani berdagang.

Namun sebagian masyarakat tetap bertahan dengan mencari dan menjual hasil bumi seperti pisang, durian, cempedak, hingga ikan yang dijajakan secara berkeliling dan bahkan sering dijual dengan sistem utang kepada warga.

Di bidang keagamaan, kawasan sekitar Gang Norali memiliki sejumlah surau yang menjadi pusat pendidikan Islam.

Surau Wan Sagap serta sekolah agama di Gang Mariana menjadi tempat anak-anak belajar mengaji, membaca huruf Arab-Melayu, dan mempelajari dasar-dasar agama di bawah bimbingan ulama setempat.

Masa Jepang juga meninggalkan cerita tersendiri dalam dunia pendidikan.

Murid-murid diwajibkan mengikuti senam taiso, belajar bahasa Jepang menggunakan huruf hiragana, katakana, dan kanji, serta menyanyikan lagu-lagu perjuangan Jepang. Meski dalam keterbatasan, semangat belajar tetap tumbuh.

Kini, Jalan Norali menjadi bagian dari wajah modern Pontianak. Namun di balik namanya yang tetap bertahan selama puluhan tahun, tersimpan kisah tentang pendidikan, perjuangan hidup, dan kenangan masyarakat yang menjadi bagian penting dari sejarah Kota Khatulistiwa.

Berita terkait