Dibalik Setetes Darah: Beky Mardani Bicara Kebutuhan, Teknologi, dan Keikhlasan Berbagi
Jakarta - Spektroom : Setiap hari, ribuan pasien membutuhkan darah untuk bertahan hidup. Bagi mereka, satu kantong darah bukan sekadar cairan yang mengalir dalam selang medis, melainkan harapan untuk kembali pulih, berkumpul bersama keluarga, dan melanjutkan kehidupan.
Dibalik harapan itu, ada pekerjaan panjang yang harus dilakukan Palang Merah Indonesia (PMI). Darah yang didonorkan secara sukarela tidak bisa langsung diberikan kepada pasien.
Ketua Umum PMI DKI Jakarta, Beky Mardani, memahami bahwa menjaga ketersediaan darah bukan pekerjaan sederhana. Kebutuhan datang setiap hari, sementara jumlah pendonor dan kesiapan darah harus terus dijaga agar pelayanan kepada pasien tidak terputus.
“Untuk Jakarta dan sekitarnya, kita bekerja sama dengan rumah sakit-rumah sakit. Jumlahnya lebih dari 400 rumah sakit,” ujar Beky di sela-sela kegiatan donor darah yang diselenggarakan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Jakarta Selatan, Minggu (18/10/2026).
Dari ratusan rumah sakit tersebut, sebagian telah memiliki Bank Darah Rumah Sakit (BDRS). Beky, memperkirakan sekitar 60 rumah sakit mempunyai fasilitas itu. Sementara rumah sakit lainnya memperoleh darah dari PMI sesuai kebutuhan pasien.
Tuntutan pelayanan yang semakin besar mendorong PMI DKI Jakarta melakukan pembenahan. Salah satunya melalui peresmian gedung baru pada 17 September 2026 yang difungsikan sebagai pusat pengolahan darah dan pemeriksaan laboratorium.
Beky, menjelaskan, teknologi tersebut masih dalam perjalanan dari Amerika Serikat, ungkapnya ketika wawancara berlangsung.
“Kalau sekarang, misalnya, dari satu ini ke sini masih pakai orang, nanti sudah robotik. Cuma sekarang alatnya masih dalam perjalanan,” tuturnya.
Melalui teknologi itu, proses pemisahan komponen darah, seperti sel darah merah, trombosit, dan plasma, diharapkan dapat berlangsung lebih efisien. Setiap komponen mempunyai kegunaan medis yang berbeda sehingga pengolahannya harus disesuaikan dengan kebutuhan pasien.
“Kita ingin dalam rangka peningkatan pelayanan dan pasokan agar siap terus, harus ada teknologi-teknologi baru yang memang bisa digunakan, ya kita pakai,” katanya.
“Darah yang didonorkan itu tidak serta-merta langsung bisa dipakai,” ujarnya.
Beky juga mengingatkan masyarakat agar membedakan biaya pengolahan darah di PMI dengan tagihan pelayanan yang dikenakan rumah sakit. Rumah sakit memiliki komponen biaya operasional dan pelayanan tersendiri.
Ia mencontohkan adanya tagihan darah sebesar Rp2 juta per kantong di sebuah rumah sakit, tanpa menyebutkan nama rumah sakit tersebut. Untuk menghindari kesalah pahaman, Beky menyatakan PMI DKI siap memberikan penjelasan lebih terperinci mengenai komponen biaya pengolahan darah.
Becky menegaskan bahwa penggalangan dana untuk kegiatan kemanusiaan harus kembali pada prinsip dasarnya, yakni sukarela dan tanpa paksaan.
“Bulan dana itu memang harus kita kembalikan kepada khitahnya. Khitahnya apa? Jadi sukarela, tanpa paksaan,” tegasnya.