Trending

Dinilai Merakyat dan Terbuka, Gaya Kepemimpinan Ahmad Luthfi Dapat Apresiasi dari Forum Dekan Ilmu Sosial

Dinilai Merakyat dan Terbuka, Gaya Kepemimpinan Ahmad Luthfi Dapat Apresiasi dari Forum Dekan Ilmu Sosial
Gubernur Ahmad Luthfi saat menyambut Forum Dekan Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial Perguruan Tinggi Negeri se Infonedia (Fordrkiis) di Grhadhika Bhakti Praja, Semarang, Jumat (23/20/2026)(Humas:Sigit)

Semarang - Spektroom: Gaya kepemimpinan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mendapat sorotan positif dari sejumlah akademisi ilmu sosial dan politik yang tergabung dalam Forum Dekan Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial Perguruan Tinggi Negeri se-Indonesia (Fordekiis).

Ahmad Luthfi dinilai memiliki gaya kepemimpinan yang merakyat, humanis, serta terbuka terhadap kolaborasi dengan kalangan akademisi.

Penilaian tersebut disampaikan dalam pertemuan Fordekiis di Grhadhika Bhakti Praja, Semarang, Jumat (23/10/2026).

Dekan FISIP Universitas Mulawarman, Finnah Fourqoniah, mengapresiasi kemampuan Ahmad Luthfi dalam memahami konteks permasalahan di Jawa Tengah secara mendalam serta merumuskan solusi yang terukur. Menurutnya, kepekaan sosial seperti itu sangat krusial bagi seorang pemimpin daerah.

Sementara itu, Ketua Fordekiis sekaligus mantan Dekan Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM), Wawan Mas’udi menilai, Gubernur Luthfi memiliki karakter kepemimpinan yang dekat dengan masyarakat, dan mampu menempatkan persoalan warga sebagai prioritas.

“Dari gaya maupun dari sisi kebijakan yang diambil, ia salah satu tipe gubernur yang sangat merakyat, down to earth (membumi), dan menjadikan persoalan masyarakat sebagai prioritas untuk diselesaikan,” tutur Wawan.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Makassar, Supriadi Torro menilai, sambutan Gubernur Jateng memperlihatkan gaya kepemimpinan yang humanis.

“Apa yang beliau angkat sebagai satu persoalan, kemudian diberi solusi. Semua langkah-langkahnya terukur,” ujarnya.

Dalsm kesempatan tersebut, Ahmad Luthfi, menyatakan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dalam menjawab berbagai persoalan pembangunan daerah. Salah satunya, melalui kegiatan KKN tematik dan pendampingan desa binaan.

Luthfi mengatakan, sejumlah tantangan dihadapi Jawa Tengah, mulai dari penanganan rob di wilayah pesisir, kebutuhan tenaga kerja siap pakai, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Menurutnya, persoalan tersebut membutuhkan kontribusi berbagai disiplin ilmu, termasuk ilmu sosial dan politik.

Dia menekankan, pembangunan juga harus menyentuh kualitas manusia secara menyeluruh. Karena itu,

" FISIP diharapkan mengambil peran dalam memahami persoalan sosial, dan memberikan kontribusi terhadap arah pembangunan daerah" pubgkasnya

Berita terkait

Kemendagri Minta Pemda Anggarkan Program KarangTaruna.

Kemendagri Minta Pemda Anggarkan Program KarangTaruna.

Yogyakarta-Spektroom : Kementerian Dalam Negeri mendorong pemerintah daerah memasukkan program kepemudaan dalam perencanaan pembangunan dan anggaran. Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat peran Karang Taruna sebagai mitra pemerintah dalam menangani persoalan sosial, mengurangi kemiskinan, dan menggerakkan pembangunan dari desa. Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Dalam Negeri RI Ahmad Wiyagus di

Fatmawaty, Bian Pamungkas
Proyek Jembatan Garuda Terus Dikebut, Pemasangan Lantai dan Pagar Mulai Dikerjakan

Proyek Jembatan Garuda Terus Dikebut, Pemasangan Lantai dan Pagar Mulai Dikerjakan

Hulu Sungai Tengah-Kalsel-Spektroom : Pembangunan Jembatan Garuda di Desa Teluk Masjid, Kecamatan Haruyan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan, terus berlanjut. Hingga Sabtu (24/10/2026), personel yang terlibat dalam pengerjaan di lapangan melaksanakan pemasangan lantai dan pagar jembatan sebagai bagian dari tahapan pembangunan infrastruktur tersebut. Pemasangan lantai

Junaidi, Heriyoko
Babak Baru Green Batik Pekalongan: Kolaborasi Kampus dan Belanda Tekan Pencemaran Limbah

Babak Baru Green Batik Pekalongan: Kolaborasi Kampus dan Belanda Tekan Pencemaran Limbah

Pekalingan - Spektroom: Program Green Batik Pekalongan memasuki tahun kedua dengan meluncurkan Green Batik Centre di Universitas Pekalongan (UNIKAL) dan menggelar pameran Green Batik Exhibition di Museum Batik Pekalongan pada Jumat (23/10/2026) malam. Langkah ini menandai penguatan gerakan batik berkelanjutan yang melibatkan pemerintah daerah, akademisi, serta konsorsium dari Belanda.

Sigit Budi Riyanto, Heriyoko