DKI Perkuat Pengelolaan Sampah dari Sumber, Pilot Project Digelar di Jagakarsa

DKI Perkuat Pengelolaan Sampah dari Sumber, Pilot Project Digelar di Jagakarsa
Pilot Project Pengelolaan Sampah Kolaboratif di RW 06, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.(Foto : Dok.Pemkot JKT Sel).

Jakarta - Spektroom : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperkuat pengelolaan sampah dari sumber melalui sistem pilah, angkut, dan olah. Kebijakan ini diarahkan agar sampah tidak sekadar dikumpulkan dan dibuang, tetapi dipilah sejak dari rumah untuk kemudian dikelola sesuai jenisnya.

Langkah tersebut diwujudkan melalui Pilot Project Pengelolaan Sampah Kolaboratif di RW 06, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Lebih dari 400 rumah menjadi sasaran edukasi dan pendampingan secara door to door.

Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Purwanti Suryandari mengatakan, pengelolaan sampah Jakarta harus mengubah paradigma lama yang hanya mengandalkan pola kumpul, angkut, dan buang.

“Persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya di hilir. Kita harus memperkuat pengelolaan dari sumber agar sebanyak mungkin sampah dapat dipilah dan diolah sebelum masuk ke tempat pemrosesan akhir,” ujarnya, dilokasi acara, Senin (28/9/2026).

Menurutnya, gerakan memilah sampah harus dibarengi sistem yang memastikan sampah terpilah tetap terangkut dan diolah secara terpisah. Dengan demikian, pemilahan di tingkat rumah tangga tidak berhenti sebatas kebiasaan, tetapi menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah.

Sementara Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kota Administrasi Jakarta Selatan Iwan K Santoso mengatakan, program tersebut melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari Dasawisma, Jumantik, PPSU, hingga pengurus RT dan RW.

Iwan menyebut Jagakarsa memiliki lebih dari 60 ribu kepala keluarga. Namun, baru sekitar 21 ribu kepala keluarga yang telah menerapkan pemilahan sampah dari rumah.

“Dengan kegiatan ini, mudah-mudahan warga yang memilah sampah dari rumah semakin meningkat,” katanya.

Ia menegaskan, pemilahan dari sumber sejalan dengan kebijakan Pemprov DKI Jakarta, termasuk Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026. Kondisi TPST Bantargebang juga menjadi pengingat bahwa pengurangan sampah harus dimulai dari tingkat rumah tangga.

“Kalau tidak kita mulai dari sekarang, lingkungan kita pasti akan banyak menumpuk sampah,” ujarnya.

Pendekatan door to door dinilai penting karena warga tidak hanya menerima edukasi, tetapi langsung mempraktikkan pemilahan di rumah. Untuk sampah organik, Pemkot Jakarta Selatan mendorong pemanfaatan biopori dan lubang resapan.

Sampah organik yang telah dipilah dapat diolah menjadi kompos atau media tanam untuk tanaman di halaman maupun rooftop. Bagi warga yang tidak memiliki lahan, Sudin dan Satpel Lingkungan Hidup menyiapkan drop point sampah organik.

Sampah tersebut selanjutnya dapat diolah menjadi kompos, pakan ternak, pakan ikan, maupun melalui budidaya maggot.

Ia juga membuka kemungkinan penerapan aturan lebih tegas, termasuk tidak mengangkut sampah rumah tangga yang tidak dipilah, sebagaimana telah diterapkan di sejumlah kawasan.

Pilot project tersebut melibatkan Kolaborasi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Dengan
Kolaborasi tersebut diharapkan membuat pengelolaan sampah berjalan berkelanjutan.

Berita terkait

Bazar Green Tourism Festival Raup Omzet Rp191,8 Juta, UMKM Jakarta Timur Ketiban Berkah

Bazar Green Tourism Festival Raup Omzet Rp191,8 Juta, UMKM Jakarta Timur Ketiban Berkah

Jakarta-Spektroom : Gelaran Bazar Green Tourism Festival 2026 tidak hanya menghadirkan hiburan dan kampanye wisata berkelanjutan. Kegiatan yang berlangsung di halaman Kantor Wali Kota Jakarta Timur pada 26-27 September 2026 itu juga menjadi ruang promosi dan transaksi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Hasilnya cukup menggembirakan. Bazar yang melibatkan

Irvan Idris Saleh, Bian Pamungkas