Dosen Sosiologi Unsoed Raih Lima Penghargaan Internasional Lewat Inovasi Pengelolaan Sampah
Purwokerto-Spektroom : Sampah rumah tangga tidak harus berakhir di tempat pembuangan. Dengan menghubungkan bank sampah, perajin lokal, kelompok masyarakat, hingga pasar, material yang semula dianggap tidak berguna dapat diolah kembali menjadi produk bernilai ekonomi.
Gagasan inilah yang mengantarkan dosen Sosiologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Salsabila Damayanti, meraih lima penghargaan internasional.
Humas Unsoed dalam keterangan tertulisnya Rabu, (14/10/2926), Penghargaan tersebut diraih melalui inovasi lingkungan Re:Device (Redesigning the Life of What We Call Waste) dalam Global Youth Innovation Summit (GYIS) 2026 yang berlangsung di Malaysia dan Singapura pada 28 September hingga 2 Oktober 2026.
Lima penghargaan yang diraih Salsabila bersama timnya meliputi Juara 1 SDGs Project Video, Juara 1 Best Speaker, Juara 2 SDGs Project Presentation, Juara 2 Most Inspirational Leader, dan Juara 2 Best Team.
Re:Device dikembangkan dengan pendekatan pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Alih-alih membangun sistem baru dari awal, inovasi ini berupaya menghubungkan potensi yang sudah tersedia, mulai dari rumah tangga, bank sampah, tempat pengolahan sampah terpadu (TPST), kelompok PKK, pemuda, perajin lokal, hingga pelaku pasar.
Melalui ekosistem tersebut, material sampah diarahkan ke jalur pemanfaatan yang sesuai, baik untuk digunakan kembali, didaur ulang, maupun diolah menjadi produk baru melalui proses upcycling.
Keunggulan pendekatan ini tidak hanya terletak pada pengumpulan dan pengolahan sampah, tetapi juga pada upaya menghubungkan hasil pengolahan dengan akses pasar. Sistem pencatatan perjalanan material menggunakan kode QR dan dokumentasi dampak turut disiapkan untuk memperkuat transparansi.
Salsabila menilai, keberhasilan pengelolaan sampah membutuhkan keterhubungan antar pihak agar material yang terkumpul benar-benar memiliki tujuan pemanfaatan.
“Indonesia does not need every community to build a new recycling system. It needs every community to know where its materials can go next,” ujarnya.
Dari perspektif sosiologi, Re:Device menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama perubahan lingkungan. Keterlibatan perempuan, pemuda, perajin lokal, dan pelaku usaha juga membuka peluang pengembangan keterampilan, kewirausahaan berbasis ekonomi sirkular, serta penciptaan nilai ekonomi di tingkat lokal.
Inisiatif ini berkaitan dengan sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab (SDG 12), permukiman berkelanjutan (SDG 11), pertumbuhan ekonomi (SDG 8), serta kemitraan (SDG 17).
Ke depan, Salsabila berharap Re:Device tidak berhenti sebagai gagasan yang dipresentasikan di forum internasional, tetapi dapat diterapkan dan dievaluasi bersama masyarakat. Dengan demikian, manfaat pengelolaan sampah tidak hanya dirasakan dari sisi lingkungan, tetapi juga melalui terbukanya peluang ekonomi bagi warga.