Festival Pegon Watu Ulo, Tradisi Sejak 1980-an ​Menyatukan Warga dalam Syukur dan Sejarah

Pada puncak perayaan, puluhan hingga ratusan pegon dihias dengan ornamen warna-warni, lalu diarak menuju pantai.

Festival Pegon Watu Ulo, Tradisi Sejak 1980-an ​Menyatukan Warga dalam Syukur dan Sejarah
Festival Pegon di pesisir pantai Watu ulo Jember Jawa Timur (Foto Budi Spektroom)

Jember-Spektroom : Suara riuh sapi berpadu dengan antusiasme warga menghidupkan kembali tradisi tahunan di pesisir selatan Pantai Watu Ulo, Kabupaten Jember, Jawa Timur, pada Selasa (24/03/2026). Festival Pegon yang digelar setiap H+7 Idul Fitri atau bertepatan dengan Lebaran Ketupat ini tak sekadar perayaan, melainkan warisan budaya yang terus dijaga sejak 1980-an oleh masyarakat Kecamatan Ambulu.

Tradisi tersebut berawal dari kebiasaan warga Desa Sumberejo yang dahulu memanfaatkan pegon, kereta kayu yang ditarik sapi, sebagai alat transportasi utama. Pegon digunakan untuk mengangkut hasil pertanian seperti tembakau hingga material berat. Seiring perkembangan zaman, fungsi praktis itu bertransformasi menjadi simbol kebersamaan dan ungkapan rasa syukur atas hasil bumi.

Penampilan seniman reog di acara festival Pegon di Jember Jawa Timur (Foto Budi Spektroom)

Pada puncak perayaan, puluhan hingga ratusan pegon dihias dengan ornamen warna-warni, lalu diarak menuju pantai. Iring-iringan ini menjadi daya tarik utama karena menghadirkan suasana meriah sekaligus membangkitkan nostalgia kehidupan masa lampau.

Setibanya di pesisir Pantai Watu Ulo, berbagai rangkaian kegiatan digelar. Mulai dari ritual memandikan sapi, pertunjukan tari kolosal, hingga makan bersama yang menjadi sarana mempererat silaturahmi antar warga.

Festival Pegon juga menjadi momentum berkumpulnya masyarakat Ambulu, termasuk para perantau yang pulang kampung. Tradisi ini menjadi ruang temu lintas generasi, di mana nilai gotong royong dan kebersamaan tetap terjaga di tengah perubahan zaman.

Kepala Bidang Kebudayaan, Agung Nugroho, S.Sos., Selasa (24/03/2026), menegaskan pentingnya menjaga tradisi tersebut sebagai bagian dari identitas lokal. Ia menyebut Festival Pegon bukan hanya perayaan, melainkan cerminan sejarah kehidupan masyarakat pesisir. “Melalui kegiatan ini, generasi muda diajak mengenali akar budaya mereka,” ungkap Agung.

Ia menambahkan, pemahaman terhadap sejarah akan membantu masyarakat mengenali jati diri. Menurutnya, pegon merupakan simbol perjalanan hidup masyarakat Ambulu, dari alat angkut sederhana menjadi warisan budaya yang bernilai tinggi.

“Dengan kekuatan nilai historis dan semangat kebersamaan, Festival Pegon di Pantai Watu Ulo terus menjadi magnet budaya,” jelasnya. “Tradisi ini tak hanya menarik wisatawan, tetapi juga memperkuat identitas masyarakat Jember di tengah arus modernisasi,” pungkasnya. (Budi S)

Berita terkait

BPBD dan PMI Salurkan 9.000 Liter Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan di Jember

BPBD dan PMI Salurkan 9.000 Liter Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan di Jember

Jember-Spektroom : Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember bersama Palang Merah Indonesia (PMI) Jember bergerak cepat menyalurkan bantuan air bersih kepada warga terdampak kekeringan di Dusun Bunder, Desa Sumberpinang, Kecamatan Pakusari, kabupaten Jember, Jawa Timur, pada Kamis, (02/07/2026). Sebanyak 9.000 liter air bersih didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan

Budi Sucahyono, Julianto
Pemkab Jember Dukung Penguatan Koperasi Ponpes Melalui Program One Pesantren One Product

Pemkab Jember Dukung Penguatan Koperasi Ponpes Melalui Program One Pesantren One Product

Jember-Spektroom : Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur menggelar Workshop Tata Cara dan Evaluasi Permodalan Koperasi Pondok Pesantren di Aula Rumah Makan Cianjur, Kabupaten Jember, Jawa Timur, pada Kamis (02/07/2026). Kegiatan ini diikuti pengurus dan pengelola koperasi pondok pesantren sebagai upaya memperkuat kapasitas kelembagaan serta meningkatkan

Budi Sucahyono, Julianto
Kemkomdigi: Tata Kelola Jadi Fokus Baru Transformasi Digital Pemerintah Daerah

Kemkomdigi: Tata Kelola Jadi Fokus Baru Transformasi Digital Pemerintah Daerah

Medan-Spektroom : Direktur Akselerasi Teknologi Digital Pemerintah Daerah Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), Aris Kurniawan menegaskan, bahwa transformasi digital dilingkungan pemerintah daerah kini tidak lagi berorientasi pada banyaknya aplikasi yang dibangun, melainkan lebih diarahkan pada penguatan tata kelola dan manajemen Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE). Pernyataan tersebut disampaikan Aris, saat kegiatan

Eva Moenandar, Rafles