HGM Afandi Ranie Raja Landak yang Serahkan Tahta untuk Republik

HGM Afandi Ranie Raja Landak yang Serahkan Tahta untuk Republik
Inilah Sosok HGM Afandi Ranie Raja Landak yang gigih melawan penjajah di Kalimantan Barat. (Foto: Dok. Syafaruddin daeng Usman)

Oleh : Syafaruddin Daeng Usman

Pontianak-Spektroom : Kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah. Ia lahir dari perjuangan panjang, pengorbanan jiwa, dan keberanian rakyat yang memilih melawan penjajahan. Salah satu kisah penting itu datang dari Kalimantan Barat melalui sosok Haji Gusti Muhammad Afandi Ranie, Pangeran Mangkubumi Setia Negara Kerajaan Landak.

Dalam catatan sejarawan Kalimantan Barat, Syafaruddin Daeng Usman, Afandi Ranie merupakan contoh pemimpin feodal yang berpihak penuh kepada Republik Indonesia. Di saat Belanda berupaya kembali menguasai Indonesia pasca-Proklamasi 1945, ia justru memilih berdiri bersama rakyat mempertahankan kemerdekaan.

Sebagai bangsawan dan pewaris tahta Kerajaan Landak, Afandi Ranie memiliki banyak pilihan. Ia bisa menjaga kedudukannya dengan bersikap netral atau bahkan bekerja sama dengan pemerintah kolonial. Namun jalan itu tidak dipilihnya.

Bagi Afandi Ranie, Indonesia yang merdeka adalah harga mati. Sikap tegas itu terlihat menjelang meletusnya Perlawanan Rakyat Landak pada Oktober 1946. Di hadapan para tokoh dan rakyatnya, ia menyerukan agar kemerdekaan dipertahankan dengan segala pengorbanan.

Baginya, membela Indonesia bukan sekadar pilihan, melainkan kewajiban. Perlawanan yang dipimpin rakyat Landak kemudian menjadi salah satu episode penting Revolusi Fisik di Kalimantan Barat.

Bersama sejumlah pejuang seperti Gusti Abdulhamid Aun, Ya’ Nasri Osman, Bardan Nadi Sutrisno, Mane Pak Kasih dan tokoh lainnya, Afandi Ranie menggerakkan perlawanan terhadap pasukan Belanda yang berusaha kembali berkuasa.

Pertempuran berlangsung tidak seimbang. Persenjataan rakyat sangat terbatas dibanding kekuatan militer Belanda. Namun semangat mempertahankan kemerdekaan membuat perlawanan terus berkobar. Banyak pejuang gugur, dipenjara, bahkan dihukum mati.

Afandi Ranie akhirnya ditangkap setelah Belanda berhasil mematahkan perlawanan bersenjata di Landak. Namun penahanan tidak mengubah pendiriannya. Berbagai upaya untuk membujuknya berpihak kepada Belanda selalu ditolak. Ia tetap teguh meyakini bahwa Landak adalah bagian dari Indonesia dan kemerdekaan harus dipertahankan.

Karena perjuangan dan pengabdiannya kepada bangsa, pemerintah kemudian menganugerahkan penghargaan Mahaputera kepada Haji Gusti Muhammad Afandi Ranie. Penghargaan itu menjadi pengakuan atas peran seorang bangsawan yang memilih mengorbankan kekuasaan demi tanah air.

Kisah Afandi Ranie menjadi pengingat penting bagi generasi muda bahwa kemerdekaan yang dinikmati saat ini tidak diperoleh dengan mudah. Di balik merah putih yang berkibar, terdapat pengorbanan para pejuang yang rela kehilangan jabatan, kebebasan, bahkan nyawa demi Indonesia.

Dari Landak, Afandi Ranie mewariskan pesan yang tetap relevan hingga hari ini: kehormatan seorang pemimpin tidak diukur dari besarnya kekuasaan yang dimiliki, melainkan dari keberaniannya membela bangsa dan negara ketika sejarah memanggil. Kemerdekaan Indonesia bukan hadiah. Kemerdekaan adalah hasil perjuangan.

(Syafaruddin Daeng Usman adalah Sejarawan Kalbar)

Berita terkait

Kemensos Salurkan Bantuan ATENSI Rp136 Juta untuk 211 Warga Rentan di Sawahlunto

Kemensos Salurkan Bantuan ATENSI Rp136 Juta untuk 211 Warga Rentan di Sawahlunto

Sawahlunto–Spektroom : Pemerintah Kota Sawahlunto bersama Kementerian Sosial Republik Indonesia menyalurkan bantuan Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) senilai Rp136 juta kepada kelompok masyarakat rentan di Kota Sawahlunto. Penyaluran bantuan tersebut berlangsung pada Kamis (30/7/26) dan dihadiri oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Sawahlunto Rovanly Abdams, mewakili Wali Kota Sawahlunto. Program ATENSI

Riswan Idris, Rafles